Beranda aneka Harga Gabah Dua Jempol Petani Minta Naik Terus Diatas HPP

Harga Gabah Dua Jempol Petani Minta Naik Terus Diatas HPP

16

SIAGAINDONESIA.COM-Memang menjadi polemik terkait trend harga gabah setiap musim panen, kalau tidak turun pasti sebaliknya, Tentunya, patut di evaluasi menyangkut pengawasan kepada para tengkulak pada musim panen padi sekarang ini. Betapa tidak, tanpa ada faktor yang jelas lagi-lagi petani menjadi obyek permainan demi meraup untung besar bagi tengkulak itu sendiri.

Nasib tersebut berlaku pada petani padi di sebagian daerah Kabupaten Ngawi musim panen saat ini. Seperti yang diungkap Hariyanto petani asal Desa Teguhan, Kecamatan Paron,  dia mengharapkan meningkatnya harga gabah baik basah maupun kering sepekan terakhir ini akan terus terjaga. Berbeda dari musim panen sebelumnya, naiknya harga gabah terutama mendekati pasca panen kedua tahun ini cukup mendapat acungan dua jempol.

“Awal minggu kemarin masih berkisar pada Rp 3.800 per kilogram tapi kini sudah melambung hingga mencapai Rp 4.150 sampai Rp 4.200 per kilogram. Kalau bisa harga tersebut terus naik hingga musim panen berikutnya,” terang Hariyanto, Senin, (25/06).

Dilain sisi dia mengapresiasi peran pemerintah dengan adanya Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang Harga Pembelian Pemerintah (HPP) atas gabah/beras yang telah ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 17 Maret 2015 lalu. Sebelumnya, pemerintah menetapkan harga fleksibilitas untuk pembelian gabah yang dilakukan oleh Bulog hanya 10 persen di atas HPP.

Namun, tingginya harga gabah di pasaran saat ini membuat perusahaan pelat merah tersebut kesulitan untuk membeli hasil produksi petani. Karenanya, untuk mendorong agar Bulog dapat menyerap gabah lebih cepat, harga fleksibilitas dinaikkan menjadi 20 persen.

Selama aturan ini berlaku, Mendag memastikan pemerintah akan terus melakukan evaluasi sambil melihat perkembangan harga di lapangan. Ia juga menegaskan tidak ada perubahan besaran HPP, tetap Rp 3.700 per kilogram untuk gabah kering panen.

“Artinya HPP tahun ini meningkat 10 persen dibanding tiga tahun sebelumnya mendasar Inpres Nomor 3 Tahun 2012. Tetapi pengawasan kebawah harus transparan jangan sampai adanya kenaikan persentase harga itu justru menguntungkan pengusaha,” tukas Hariyanto.

Bicara lingkup Kabupaten Ngawi kata Hariyanto dengan wawasan tata birokrasi yang bisa diacungi jempol ini memang selaras dengan yang digembar-gemborkan pemerintah daerah setempat.

Dia membenarkan sesuai skalanya Kabupaten Ngawi memang bagian dari lumbung padi di Jawa Timur dengan produksi padi setiap musimnya mencapai 800 ton lebih sedangkan untuk konsumsi lokal hanya 520 ton gabah. Tentunya, dengan angka tersebut sudah mengindikasikan keberhasilan dari sisi produktifitas si petani padi. (pr)