Resmi Kelola Blok Rokan, Pertamina Jangan Jadi Makelar Seperti Blok Mahakam

Pertamina Mengajukan Bonus Proposal Sebesar US$784 Juta atau Rp11, 3 Triliun

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Pertamina resmi mendepak Chevron sebagai kontraktor Wilayah Kerja (WK) Minyak dan Gas Bumi Rokan di Riau. Pertamina akan menjadi kontraktor ladang minyak tersebut mulai 8 Agustus 2021 hingga 2041.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan pemerintah memilih Pertamina karena alasan komersial.

Pertamina, kata Arcandra, mengajukan bonus proposalnya tanda tangan sebesar US$784 juta atau sekitar Rp11, 3 triliun.

Kemudian, lanjut Arcandra, komitmen kerja pasti untuk lima tahun sebesar US$500 juta atau sekitar Rp7,2 triliun.

Tak hanya itu, potensi pendapatan negara selama 20 tahun pengelolaan akan mencapai US$57 miliar, atau sekitar Rp825 triliun.

“Insya Allah, potensi pendapatan ini bisa menjadi pendapatan dan kebaikan bagi kita bangsa Indonesia,” ujar Arcandra dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Selasa (31/7/2018). malam.

Chevron sendiri, lanjut Arcandra, sedianya telah mengajukan proposal perpanjangan. Namun, penawaran Pertamina masih lebih tinggi dibandingkan perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Chevron yang telah mengelola blok (Rokan) ini. Semoga Chevron mau berinvestasi di Indonesia untuk blok-blok (migas) lain selain Rokan,” tandasnya.

Pengamat Energi Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmy Radhi angka bicara soal keberhasilan Pertamina yang menjadi kontraktor WK Minyak dan Gas Bumi Rokan di Riau.

Fahmy begitu ia disapa meminta agar Pertamina tidak kembali salah urus seperti yang terjadi di Blok Mahakam, Kalimantan Timur.

“Pertamina sebelumnya sudah diberikan Blok Mahakam. Namun ternyata produksinya malah menurun setelah dipegang Pertamina,” ujar Fahmy, Selasa (31/7/2018).

Tak hanya itu, Fahmy juga berharap, agar Pertamina tidak kembali melakukan ‘share down’ pada Blok Rokan ini.

Fahmy kembali menujuk kejadian di Blok Mahakam yang dimana Pertamina men-‘share-down’ sahamnya hingga 39 persen.

“Di Mahakam Pertamina awalnya mengajukan 100 persen dikelola sendiri dan berkomitmen akan menambah modal untuk mencari sumur- sumur baru untuk meningkatkan produksi. Namun sayangnya Pertamina malah mengajukan ‘share down’,” imbuh Fahmy.

Fahmy menegaskan, jika Pertamina kembali mengelola ladang minyak Rokan seperti Mahakam, maka tak ayal BUMN migas terbesar di Indoensia itu hanya bertugas sebagai makelar saja.

“Poinnya adalah Pertamina itu di awal dia menggebu, tapi ternyata kemudian ‘share down’. Kalau polanya sama seperti itu sesungguhnya Pertamina hanya jadi makelar. Maksudnya sudah selesai, dikasih gratis lalu malah di-‘share-down’,” kata Fahmy.

 

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post