Beranda featured Rumah-rumah Indonesia Harus Tahan Gempa, Tirulah Jepang dan Jogja

Rumah-rumah Indonesia Harus Tahan Gempa, Tirulah Jepang dan Jogja

137
Teletubbies rumah tahan gempa di Jogjakarta.

SIAGAINDONESIA.COM Akibat gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali pada Minggu, (5/8/2018) pukul 18.46 WIB, sebanyak 98 orang meninggal dunia.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menyebutkan, akibat gempa berkekuatan 7 skala richter (SR) yang mengguncang wilayah Lombok, Sumbawa dan Bali menyebabkan berbagai wilayah mengalami kerusakan.

“Jumlah korban terus bertambah. Data sementara yang dihimpun Posko BNPB ada sebanyak 98 orang meninggal dunia, 236 orang luka-luka, ribuan rumah rusak dan pengungsi mencapai ribuan jiwa yang tersebar di berbagai lokasi,” tulis Sutopo.

Diperkirakan jumlah korban dan kerusakan akibat dampak gempa akan terus bertambah. Karena belum semua daerah terdampak gempa dapat dijangkau oleh petugas dari Tim SAR gabungan. Termasuk dugaan adanya korban yang tertimbun bangunan yang roboh, yang belum dapat dievakuasi. Sutopo menyebut, Tim SAR Gabungan terus menyisir daerah-daerah terdampak gempa untuk melakukan evakuasi, penyelamatan dan pertolongan kepada korban.

“Pendataan hingga saat ini masih terus dilakukan oleh aparat,” lanjutnya.

Korban meninggal dunia paling banyak terdapat di Kabupaten Lombok Utara karena wilayah itu terparah terkena dampak gempa. Dari 98 orang meninggal dunia akibat gempa, terdapat di Kabupaten Lombok Utara sebanyak 72 orang, Lombok Barat 16 orang, Kota Mataram 4 orang, Lombok Timur 2 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan di Kota Denpasar 2 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh.

Ya, gempa sebenarnya tidak membunuh manusia. Yang membunuh adalah bangunannya. Karena itu sudah saatnya Indonesia mencontoh negara Jepang, untuk model pembangunan rumah, gedung atau bangunan tahan gempa.

Setidaknya gempa bumi di Yogyakarta 2006 silam yang merenggut banyak korban dan ribuan rumah rusak, serta meletusnya Gunung Merapi yang memakan banyak korban, bisa menjadi pengingat untuk merubah pola tata bangunan, menjadi tahan gempa.

Kerusakan bangunan rumah oleh gempa bumi antara lain karena pecahnya fondasi dan lantai yang mengakibatkan bangunan turun atau miring. Dinding dan atau rangka pintu, jendela retak atau pecah. Rangka bangunan, plafon, atap, mengalami perubahan bentuk menjadi tidak sempurna atau pergeseran dan menjadi labil. Kemungkinan terjadi korsleting listrik yang dapat menimbulkan kebakaran. Kerugian total adalah robohnya bangunan.

Sudah seharusnya rumah-rumah di Indonesia dibangun sesuai dengan Undang-undang Bangunan Gedung No.28/2002. Kuatnya bangunan ada di konstruksi pondasi bangunan, sudut kemiringan rumah, perencanaan ruang, selain bahan bangunan yang dipilih. Itu dapat dimulai dengan membuat denah simetris, tujuannya mengurangi efek momen puntir oleh gaya gempa. Puntir adalah gaya torsi tegak lurus yang diberikan pada kedua ujung material bangunan secara berlawanan.

Fondasi rumah harus kuat, yakni pasangan batu-kali, harus dibuat menerus di bawah seluruh pasangan bata dengan diberi balok sloof di atasnya. Pada sistem fondasi dan rangka bangunan harus diberi perkuatan, yakni balok-sloof, kolom praktis dan balok atas, dari beton bertulang. Selain itu bahan bangunan yang dipilih harus ringan, terutama dibagian atas atau atap. Berbahan tahan terhadap gempa, selain material kayu, kekuatan rumah tahan gempa juga dipengaruhi oleh kekuatan dinding yang dirancang berdasarkan rekayasa struktural.

Di Yogyakarta, telah dibangun rumah tahan gempa, yakni di Desa Sumberharjo. Rumah itu mirip rumah fantasi di serial anak-anak Teletubbies sehingga dijuluki perumahan Teletubbies.

Dibangun di atas lahan seluas 2 hektar, terdiri dari 80 unit rumah dilengkapi fasilitas umum seperti masjid, aula, klinik kesehatan dan 6 MCK. Setiap unit rumah memiliki diameter 7m2 dan tinggi 4,6m2. Dan dilengkapi 2 pintu, 4 jendela, dan kamar sebanyak 2 ruangan. Terdiri dua lantai, ada ruang tamu, dapur, serta kamar mandi dengan ventilasi yang cukup.