Beranda Bisnis Fundamental Ekonomi Lemah Dibilang Kuat, Pemerintah Bohong

Fundamental Ekonomi Lemah Dibilang Kuat, Pemerintah Bohong

38
Presiden Jokowi dan Menkeu Sri Mulyani.

SIAGAINDONESIA.COM Di tengah pelemahan rupiah nyaris menembus level Rp15.000 per dolar AS, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berulangkali menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, APBN sehat, dan utang terkendali.

Sri Mulyani mengatakan dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini ternyata memberikan dampak positif terhadap APBN. Buktinya, setiap pelemahan atau depresiasi Rp100 per US$ maka ada kenaikan penerimaan dan belanja negara.

“Pelemahan Rp100 mempengaruhi kenaikan penerimaan Rp4,7 triliun dan belanja naik Rp3,1 triliun,” kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR.

Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terhitung dari Januari sampai 7 September 2018 sebesar Rp13.977. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan asumsi APBN pada 2018 sebesar Rp13.500. itu sebabnya, pada RAPBN 2019 asumsi APBN juga dinaikkan dari Rp13.910 menjadi Rp14.400. Tanggal 7 September 2018 tercatat Rp14.848 per US$. Kalau dihitung rata-rata dari Januari adalah Rp13.977 per US$, ini rata-rata 8 bulan plus 7 hari.

Jika diperhatikan, dari sejumlah mata uang utama dunia, rupiah termasuk yang mengalami depresiasi cukup signifikan 9,81% sejak Januari-September 2018. Rupiah terlemah keempat setelah lira Turki, peso Brazil dan rubel Rusia.

Menurut Sri, mengelola APBN itu bukan untung rugi, kalau APBN sehat maka ekonomi lebih baik lagi. Di tengah dinamika nilai tukar ini pemerintah berhasil mencatatkan penerimaan negara sebesar Rp1.152 triliun atau 60,8% dari target sebesar Rp1.894,7 triliun.

Dengan akselerasi lebih tinggi karena penerimaan tumbuh tinggi maka primary balanced (keseimbangan primer) per 31 Agustus sangat rendah positif Rp11 triliun. Meski demikian pemerintah masih tetap hati-hati dalam menjalankan APBN terlebih lagi ketidakpastian global masih menghantui.

“Tahun lalu, primary balanced defisit Rp84 triliun dan menjadi positif Rp11 triliun, perbaikannya jauh lebih nyata, defisit anggaran Rp150 triliun, tahun lalu Rp220 triliun, ini perbaikan postur kita, kita tetap jaga fiskal kita secara hati-hati,” imbuh Sri.

Namun hal ini dibantah oleh ekonom senior Anwar Nasution sambil mengatakan semua hanya bualan. Bagi mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia itu, pelemahan rupiah nyaris menembus level Rp15.000 per dolar AS benar-benar menggambarkan bahwa fundamental ekonomi kita lemah. Kalau dikatakan fundamental ekonomi bagus, APBN sehat, dan utang terkendali, itu hanyalah lips service semata.

“Rupiah hampir menembus level Rp15.000 jadi salah satu indikator bahwa fundamental ekonomi kita belum kuat. Fundamental ekonomi kita lemah sekali. Bohong pemerintah katakan fundamental kuat. Omong kosong itu,” kata Anwar dalam sebuah diskusi di Jakarta akhir pekan lalu.

Selain itu, indikator yang mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia lemah, adalah dari sisi rasio penerimaan pajak atau tax ratio Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang relatif rendah.

Tax ratio kita hanya 10%, di dunia rata-rata 20%. Kita sudah 73 tahun merdeka, kapan merdekanya? Utang melulu, minta sedekah melulu. Jadi tangan di bawah. Harus menutup defisit APBN dan neraca pembayaran,” kritiknya.

Anwar menegaskan, hanya satu dari beberapa masalah fundamental yang masih dialami Indonesia. Ekspor nasional yang tidak bergairah, juga menjadi penyebab nilai tukar rupiah cukup rentan. Ekonomi Indonesia saat ini sedang sakit panas.

“Sama seperti sakit panas, temperatur hampir 40 derajat celcius. Obat paling ampuh bukan lagi Panadol, bukan lagi Tolak Angin, tapi anti biotik yang paling kuat supaya turun,” katanya.

Lebih  jauh dia menyarankan, “Dipaksa itu para eksportir sementara di Indonesia, supaya rupiah mereda. Baru secara perlahan, ekspor juga ditingkatkan,” saran mantan Ketua Badan Pemeirksa Keuangan (BPK) itu.