Krisis Ekonomi Ancam Indonesia

Comment

SIAGAINDONESIA.COM – Gubernur Jawa Timur Soekarwo di sela melantik pejabat eselon II, mengingatkan soal gejala krisis ekonomi. Para pejabat yang dilantik diingatkan untuk ikut mengantisipasi krisis, dengan mengambil keputusan dan melaksanakan program yang telah disusun dalam RPJMD.

“Selain itu, juga terus mengamati perkembangan yang ada,” pinta Pakde Karwo, sapaan Soekarwo, di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (31/8/2018), lalu.

Kemudian, Pakde Karwo dengan mengutip pendapat seorang ahli bidang pembangunan yang mengatakan bahwa krisis yang terjadi saat ini bisa berlanjut, apalagi nilai kurs sudah menyentuh Rp. 14.800 (siang hari saat acara digelar) per dollar AS.

Dikatakan, itu (krisis) akibat pengaruh krisis di Argentina. Dan, China yang juga mengurangi investasi dan memperkuat pasar dalam negeri sebagai langkah mengantisipasi konflik perang dagang.

“Saya mengusulkan, pikirkan dengan matang yang bisa meningkatkan kesejahteraan seperti proses industri yang bahan bakunya di sekitar kita. Karena saat ini defisit neraca berjalan, impor lebih besar ketimbang ekspor,” katanya.

Para pejabat termasuk yang hari itu dilantik, untuk terus belajar dan menghadapi krisis. Diminta juga merubah pemikiran tidak saja untuk kepentingan Jatim, tapi juga menghidupkan antar provinsi dan antar negara.

Juga mengingatkan pejabat di Jatim untuk tidak mengeluarkan pernyataan tentang biaya pembangunan, karena merupakan keputusan gubernur dan DPRD, bukan Kepala OPD.

“Kalau DPRD gondok nanti ribut, tolong kesadaran sepenuhnya. Tugas kepala OPD mengusulkan kepada kepala pemerintahan yakni gubernur dan DPRD,” terangnya.

Pakde Karwo juga berpesan para istri pejabat yang baru dilantik untuk terus mengingatkan suaminya soal integritas. Apalagi kasus OTT KPK selama ini sebagian besar karena integritas.

“Saya titip kepada ibu-ibu untuk menjaga integritas suaminya. Tolong ini dijaga betul kalau kata ahli agama termasuk juga imannya harus dijaga,” pesannya.

Sekedar tahu, di lingkungan Pemprov Jatim pejabat Eselon II yang dilantik hari itu ada 20 orang. Pelantikan mengacu Keputusan Gubernur Jatim Nomor 821.2/1673/204/2018 tanggal 31 Agustus 2018.

Mereka adalah, Boedi Prijo Soeprajitno, SH., M.Si sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah Prov. Jatim, Dr. Bobby Soemiarsono, SH, M.Si sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Prov. Jatim, dan Setiajit, SH, M.M sebagai Kepala Dinas ESDM Prov. Jatim.

Dr. Ir. Raden Bagus Fattah Jasin, M.S sebagai Kepala Dinas Perhubungan Prov. Jatim, Dr. Ir. Wahid Wahyudi, M.T sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekdaprov Jatim, serta Aries Agung Paewai, S.STP, MM sebagai Kepala Biro Humas dan Protokol.

Ekonomi Indonesia Mengkhawatirkan

Ekonom Rizal Ramli jauh hari telah mengingatkan kalau ekonomi Indonesia telah berada di kondisi mengkhawatirkan, masuk di lampu merah. Disebut, gejolak sudah terasa Mei 2018 dan ditandai neraca perdagangan yang terus defisit hingga US$ 1,52 miliar. Transaksi yang tengah berjalan di bulan itu berada di minus US$ 5,5 miliar.

Sebulan kemudian atau Juli 2018, Rizal kembali menegaskan kondisi itu semakin parah. Kalau tidak berhati-hati akan terjadi krisis yang melanda negeri ini. “Kalau tidak hati-hati krisis akan terjadi kembali. Jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama, krisis yang berkepanjangan,” tegas Rizal.

Indikator lainnya yang semakin memburuk, nilai tukar rupiah yang terus anjlok dan  berdampak pada daya beli masyarakat yang ikut terpuruk. Menurutnya, kondisi itu tidak akan lepas dari pantauan para investor asing. Dampaknya banyak investor yang khawatir dan kemudian menarik investasinya dari pasar modal di Indonesia.

Meyakinkan ucapannya, Rizal juga menyebut kalau investor asing yang terus memantau perkembangan itu tidak akan percaya begitu saja meski Menteri Keuangan RI Sri Mulyani dalam setiap laporannya ke Presiden Joko Widodo selalu mengatakan kalau ekonomi Indonesia baik-baik saja.

“Meski Menteri Keuangan (Sri Mulyani) memberikan laporan ke Presiden, kalau kita surplus dan menyebut ekonomi kita baik-baik saja, investor asing tidak akan percaya begitu saja. Mereka (investor asing) itu pintar. Mereka terus menganalisa dari Credit Default Swap (CDS) negara kita dari komputernya,” terangnya.

Disebutkan, CDS Indonesia meningkat cukup drastis, dari posisi 80 di Januari 2018 menjadi 144 di Agustus 2018. Jika CDS Indonesia kembali naik, maka rating investasi Indonesia bisa turun. Dirinya pun mengaku prihatin, lantaran para pejabat di negeri ini tidak peduli dengan kondisi yang semakin mengkhawatirkan itu.

“Saya heran, tidak pernah melihat pejabat di Indonesia ini melihat dua indikator penting itu,” tegasnya.

Kondisi rentan itu akan semakin buruk dengan indikator yang disebut Country Vulnerability Index atau indeks kerentanan. Indonesia saat ini berada di nomor dua negera paling beresiko.

“Artinya kalau terjadi sesuatu (Indonesia) paling gampang digoyang,” tegasnya.

Belum lagi utang Indonesia kembali meningkat. Menurutnya, indikator-indikator itu bisa menjadi sentimen bagi investor asing untuk terus menarik investasinya dari Indonesia. Jika itu terjadi, tak akan bisa dihindari Indonesia akan kembali jatuh, karena krisis ekonomi.

Ekonomi Indonesia akan semakin terbebani dan tak bisa menghindar dari krisis. Sebab pasar modal Indonesia masih terus dikuasai investor asing. Kemudian, mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu dengan sikap kritisnya sebagai aktivis juga mengingatkan jika terjadi krisis, maka disarankan agar Indonesia menghindari pinjaman atau bantuan dari International Monetary Fund (IMF). Lanjut Rizal, pemerintahan Joko Widodo harus belajar dari krisis ekonomi 1998, saat itu Indonesia tak bisa lepas dari jerat utang IMF yang terus menggerogoti sendi-sendi semua perekonomian.

“Indonesia harus berhati-hati dengan IMF, karena IMF akan membuat hancur negara kita,” tegasnya.

Soal kondisi ekonomi dan yang akan terjadi di negeri ini. Rizal juga membeber perbandingan ekonomi di Indonesia saat terjadi krisis di tahun 1998, serta ancaman krisis yang bakal dihadapi Indonesia, itu seperti yang dituangkan dalam video di akun Twitternya, @RamliRizal, Kamis (16/8/2018).

Membandingkan krisis 1998 dan ancaman krisis yang akan terjadi, Rizal Ramli juga menayangkannya dalam vidio, diberi tema “Dr. Rizal Ramli Bandingkan Krisis 1998 dan Ancaman Krisis Saat Ini. Memang ada perbedaannya. Tetapi saat 98 kita masih punya bantalan secara ekonomi ataupun sosial,” tulis akun @Sahabat_Bangsa itu.

Namun, yang disampaikan Rizal tidak digubris begitu saja oleh pemerintah. Bahkan, sejumlah petinggi di negeri ini mencibir dan mengajak Rizal untuk bedebat terbuka soal itu, klaim ekonomi yang dijalankan oleh pemerintahan saat ini selalu dikatakan baik-baik saja.

Nyatanya, terbukti rupiah terkapar, dan hari ini Bank Indonesia (BI) sudah intervensi Rp 3 triliun di pasar SBN, ayo dalil apalagi yang ingin dikatakan petinggi negeri ini kalau Indonesia akan terhindar dari krisis?.

Dikutip dari Reuters, nilai tukar rupiah terus merosot. Itu akibat tekanan di pasar global selain tekanan domestik. Pada pukul 10.00 WIB siang tadi, nilai tukar rupiah tercatat di angka Rp 14.710 per dollar AS (dan terus merangkak naik), artinya melemah 0,17% dibandingkan penutupan perdagangan di hari sebelumnya.

Terkait itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah pun angkat bicara. Dia menyebut, kalau hari itu juga BI berada di pasar untuk memastikan pelemahan rupiah tidak cepat dan tajam. Dengan masuk ke pasar valas dan juga ke pasar SBN untuk melakukan dual intervention.

“Hari ini BI sudah beli SBN Rp 3 triliun dan masih akan berlanjut,” kata Nanang.

Dia mencatat, total pembelian SBN oleh BI secara year to date pada 2018 ini sebesar Rp 79,23 triliun. Rinciannya, pembelian di pasar sekunder sebesar Rp 22,18 triliun dan pembelian di pasar primer sebesar Rp57,23 triliun.

Itu tak hanya dilakukan di pasar global, juga domestik. Pihaknya pun berkelit kalau pelemahan rupiah juga disebabkan oleh pembelian valas oleh korporasi untuk impor yang masih besar.

Ditambahkan, kalau tekanan terhadap rupiah dipicu oleh revisi data PDB AS triwulan II, dari 4,1% menjadi 4,2%, langkah PBOC memperlemah mata uang Yuan di tengah negoisasi sengketa dagang AS dan China yang belum tercapai, serta melemahnya mata uang Argentina Peso dan Lira Turki.

Perlu diketahui, nyatanya nilai tukar rupiah merosot. Itu akibat tekanan di pasar global selain juga tekanan domestik. Kurs rupiah pada Jumat pagi (31/8/2018) di pasar spot diperdagangkan Rp 14.710 per dollar AS. Ini adalah posisi terlemah untuk nilai rupiah sejak Juni 1998, yang sempat pernah tercatat Rp 14.750 per dollar AS.

Soal itu, Sri Mulyani menyebut terkait pelemahan nilai tukar rupiah pemerintah terus waspada. “Kami terus awasi dan waspadai,” katanya.

Namun, sebagai pejabat pemerintahan, apa pun dalih yang disampaikan jika disandingkan dengan apa yang telah dibeber Rizal Ramli sangat masuk akan, Indonesia akan kembali dilanda krisis ekonomi.

Tangan Kotor IMF Hantui Indonesia

Harus disadari, melalui Bank Dunia, ‘tangan kotor’ IMF sebagai lembaga dana moneter intemasional, misi sebenarnya adalah tidak sekedar memberi bantuan kepada negara-negara yang mengalami kesulitan likuiditas keuangan. ‎

Pengamat Kebijakan Publik, Amir Hamzah jauh hari telah mengingatkan kalau hadirnya IMF hanya merusak tatanan ekonomi Indonesia agar tidak bisa mewujudkan kemandian.
Dia menyebut IMF telah memporak-porandakan perekonomian Indonesia.

“Keberadaannya mencekik semua negara yang dibantu, tak terkecuali Indonesia,” katanya dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Selama 70 tahun Indonesia merdeka, bangsa ini tidak bisa berdaulat dihampir semua sektor sendi perekonomian. Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan nyawa oleh para pejuang untuk mendapat kemerdekaan sia-sia belaka. Hingga hari ini belum bisa berdiri tegak sebagai negara yang subur dengan berbagai kekayaan alamnya. ‎

Nyatanya IMF bersama antek-anteknya terbukti telah menguasai sejumlah aset dan kekayaan alam negeri ini. Ini tidak boleh dibiarkan dan kembali terulang, harus diakhiri kalau negeri ini ingin lepas dari negara-negara yang bersekongkol dengan “penjahat” ekonomi.Tji

Up Next

Related Posts

Discussion about this post