Beranda budaya Konon yang Menguasai Ilmu Pancasona Jasadnya Digantung

Konon yang Menguasai Ilmu Pancasona Jasadnya Digantung

118
Makam Eyang Joyodigo digantung.

Semasa hidupnya, orang yang dimakamkan di tempat ini dikenal sebagai tokoh sufi. Pasalnya, dia menguasai ilmu langka yang bernama Aji Pancasona. Yakni sebuah ilmu yang dapat hidup kembali ketika mati. Dengan catatan, asal menyentuh tanah. Karena itu, agar tidak hidup kembali, saat meninggal, jasadnya digantung alias makamnya tidak boleh menyentuh tanah.

Orang awam lebih sering menyebutnya Makam Gantung.  Banyak sekali spekulasi cerita yang didengar mengenai makam Gantung. Cerita dari mulut ke mulut ini akhirnya sudah seperti legenda yang dipercayai banyak masyarakat walaupun mereka juga belum pasti pernah masuk ke tempat ini.

Pesanggrahan Djojodigdan atau Eyang Joyodigo, demikian namanya, terletak di Pusat Kota Blitar, sekitar 1 kilometer kearah selatan alun-alun Kota Blitar, tepatnya di Jalan Melati No.43, Blitar, Jawa Timur. Makam ini mengurai banyak cerita misteri yang penuh teka-teki mengenai sebuah makam tua atau lebih dikenal dengan nama makam gantung (dalam arti yang sebenarnya).

Pintu masuk makam Eyang Joyodigo.
Pintu masuk makam Eyang Joyodigo.

Area Pesanggrahan ini cukup luas, terdapat sebuah bangunan rumah yang cukup besar dan hampir di sekeliling Pesanggrahan terdapat kebun yang cukup rindang. Namun predikat yang melekat pada makam tua ini, sangat singkron dengan kondisi makam tersebut. Pasalnya, makam ini memang dalam posisi tidak menyentuh tanah. Karena itu, masyarakat Blitar menyebutnya dengan nama, Makam Gantung. Keunikannya, tak sedikit para penjiarah yang datang ke makam Bung Karno, menyempatkan diri berjiarah ke makam gantung.

Eyang Joyodigo, inilah nama tokoh sakti yang makamnya dibuat tidak menyentuh tanah. Menurut penuturan juru kunci makam gantung, Mbah Man (74) dan istrinya Mbah Ram (60), semasa hidupnya, Eyang Joyodigo dikenal sebagai satu-satunya tokoh pada zamannya yang memiliki ilmu Aji Pancasona.

Yakni, ajian yang ketika mati dapat hidup kembali asal jasadnya menyentuh tanah. Karena itu, ketika tokoh ini meninggal diusia senja, kemudian makamnya dibuat tidak menyentuh tanah. Jasadnya dimasukan ke dalam peti besi, kemudian disangga dengan empat penyangga yang juga terbuat dari besi.

Karena makamnya tidak menyentuh tanah, walau jasadnya disangga dalam peti besi, masyarakat setempat menyebutnya dengan nama makam gantung. Sedangkan dibawah serta di kiri-kanannya, dimakamkan para keluarga Eyang Joyodigo.

Masih menurut penuturan juru kunci, dalam epos Ramayana, saat itu hanya satu yang memiliki Aji Pancasona. Yakni saudara kembar Sugriwo yang bernama Subali. Keduanya, berasal dari bangsa kera.

Namun, karena rayuan Rahwana, kemudian ilmu Aji Pancasona jatuh ke tangah raja dari Ngalengka in. Lalu bagaimana Aji Pancasona bisa dikuasai oleh Eyang Joyodigo?

Menurutnya lagi, semasa hidup, tokoh ini dikenal suka laku tirakat. Berbagai macam ilmu telah dikuasai. Termasuk Aji Pancasona. Bahkan gurunya, tak hanya dari bangsa manusia saja. Tapi ada juga yang berasal dari bangsa lelembut.

Tak heran, jika Eyang Joyodigo bisa menguasai ilmu Aji Pancasona yang pemilik aslinya, tinggal cerita.

“Beliau semasa hidupnya, berguru sosok gaib pemilik pertama Aji Pancasona,” terang juru kunci yang juga mantan tentara PETA.Lalu siapa sebenarnya Eyang Joyodigo?

Bagian atas makam.
Bagian atas makam.

Mati hidup lagi

Sebagaimana yang dituturkan Boiran, Eyang Joyodigo dulunya sahabat dekat Pangeran Diponegoro. Tak hanya sahabat juga, karena Joyodigo juga trah darah biru dari Mataram.

Dan pada tahun 1825, timbul perselisihan antara Belanda dengan Pangeran Diponegoro. Penyebabnya, pihak keraton bagi Diponegoro, terlalu merendahkan martabatnya. Keraton Yogyakarta, seakan-akan berdiri hanya karena kemurahan hati Belanda.