Beranda budaya KRT Suronolo, cikal bakal Soronalan

KRT Suronolo, cikal bakal Soronalan

98

SIAGAINDONESIA.COM – Haul cikal bakal desa Soronalan, Kanjeng Raden Tumenggung Suronolo, dilaksanakan pada hari Ahad Wage tanggal 5 Sura 1952 Be/16 September 2018. Dalam acara ini digelar Kirab Budaya dan Kirab Pusaka peninggalan KRT Suronolo berupa dua bilah keris, Kyai Kenanga dan Kyai Upas Naga Sewu. Sebelum dikirab keliling desa, kedua keris tersebut dijamas oleh pak Bejo dari Magelang. Keris-keris pusaka peninggalan KRT Suronolo tersebut berhasil ditemukan kembali (‘ditayuh’ – Jawa) oleh H. Chabib Sudarmadi, sesepuh Padepokan Makukuhan, Magelang. Kyai Kenanga ‘ditayuh’ empat tahun yang lalu di makam KRT Suranala, sedangkan keris Kyai Upas Naga Sewu ‘ditayuh’ pada bulan Agustus 2016 yang lalu di makam desa Banyuroto Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, tidak jauh dari obyek wisata Ketep Pass. Ada tiga pusaka peninggalan KRT Suranala yang telah berhasil ditemukan. Disamping dua bilah keris tersebut, juga ada sepucuk tombak yang ditemukan satu tempat dengan keris Kyai Upas Naga Sewu.
Kirab Budaya dan Kirab Pusaka ini mengusung dua buah gunungan yaitu Gunungan Thiwul Bumbung Legen dan Gunungan Hasil Bumi, juga gambar lukisan KRT Suronolo dan Demang Suru Kubeng Surya Ngalam, ayahanda KRT Suronolo. Gunungan-gunungan itu menggambarkan suasana kehidupan masyarakat desa Soronalan pada masa lalu. Kala itu KRT Suronolo menghidangkan sajian utama berupa thiwul dan berbagai makanan olahan dari ketela pohon untuk warga dusun ini. Minumannya, legen/badhek yang selalu dihidangkan dalam setiap perjamuan dan pertemuan warga dusun. Gunungan hasil bumi menggambarkan kesuburan desa yang berada di kaki Gunung Merbabu ini dengan berbagai hasil pertanian khususnya sayuran. Lukisan-lukisan tersebut merupakan hasil imajinasi ‘penerawangan’ wajah KRT Suranala dan Demang Suru Kubeng Surya Ngalam yang dilakukan oleh H. Chabib Sudarmadi dan dituangkan dalam lukisan oleh Nurfuad, seorang pelukis dari Tempuran.
Kirab Budaya diikuti warga desa Soronalan dan para seniman dari desa-desa tetangga yang ikut menyemarakkan acara ini. Untuk memeriahkan acara ini setiap malam selama empat hari digelar pentas berbagai kesenian rakyat. Penyelenggaraan acara ini difasilitasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, didukung Pemerintah Desa Soronalan, Padepokan Makukuhan Magelang dan warga masyarakat. Hadir pada acara ini para pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Sawangan, tamu undangan dan warga desa setempat.
Kepala Seksi Warisan Sejarah, Kepercayaan dan Tradisi, Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Sidhi Widiasih, S.Pd, MPd, mengatakan, kirab budaya dan kirab pusaka yang digelar ini sebagai sarana untuk menggali, melestarikan dan mengembangkan tradisi yang ada dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah daya tarik pariwisata yang ada di daerah Kabupaten Magelang. Acara ini disamping bernilai spiritual untuk menghormati leluhur/cikal bakal desa, juga sebagai sarana untuk lebih meningkatkan semangat gotong royong masyarakat.
Kanjeng Raden Tumenggung Suronolo yang nama kecilnya Raden Mas Wulandana adalah putra kedua dari Ki Demang Kutu (Ki Gede Surya Ngalam), atau lebih dikenal dengan sebutan Ki Ageng Wengker, karena kademangannya berada di Wengker, daerah yang kini disebut Ponorogo. Ketika terjadi pertempuran antara Ki Demang Kutu melawan Raden Mas Mirah Kali utusan Sultan Demak Bintara. Ki Demang Wengker gugur. Raden Mas Wulandana menyelamatkan diri dan berniat berguru mencari ilmu kesaktian dan kanuragan untuk membalas kematian ayahandanya.
Raden Mas Wulandana berguru pada Syeh Siti Jenar. Di sinilah dia menimba ilmu agama dan kesaktian kepada Syeh Siti Jenar dan namanya diganti Jaka Sasangka. Jaka Sasangka melanjutkan berguru ilmu kanuragan di Padepokan Banyubiru yang dipimpin Ki Buyut Poleng. Di padepokan inilah dia bertemu dengan Jaka Sengara, putra Bajul Sengara yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Ketika berguru di sini, mereka mendengar kabar bahwa di Kerajaan Majapahit ada sebuah sayembara terkait dengan hilangnya putri raja, Diah Retna Pembayun yang diculik Menak Dali Putih putra Adipati Blambangan, Menakjingga.
Dalam mengikuti sayembara tersebut, Jaka Sengara dan Jaka Sasangka dapat mengalahkan dan membunuh Menak Dali Putih dan menyelamatkan Diah Retna Pembayun yang kemudian diserahkan kepada Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Memenuhi janjinya, Diah Retna Pembayun dikawinkan dengan Jaka Sengara dan dihadiahi tanah perdikan di Pengging. Jaka Sengara dinobatkan menjadi Adipati Pengging bergelar Sri Makurung Handayaningrat (Ki Ageng Pengging I) dan Jaka Sasangka diangkat menjadi penasehat Kadipaten Pengging dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Suronolo.
Ketenteraman Kadipaten Pengging terusik ketika terjadi pergolakan antara Kasultanan Demak Bintara dengan Kadipaten Pengging. Dan akhirnya perang pun terjadi, Adipati Handayaningrat gugur. Tampuk pemerintahan Kadipaten Pengging dilimpahkan kepada putra kedua, Raden Kebo Kenanga menjadi Ki Ageng Pengging II. Kanjeng Raden Tumenggung Suronolo tetap menjadi penasehat Raden Kebo Kenanga.
Ketika terjadi perang antara Kasultanan Demak Bintara dengan Kadipaten Pengging, Raden Kebo Kenanga (Ki Ageng Pengging II) gugur. Sebelum wafat, dia menyerahkan putranya, Mas Karebet, kepada kepada KRT Suronolo untuk dititipkan kepada Nyai Ageng Tingkir dan memerintahkan KRT Suronolo bersama keluarganya untuk menyingkir dari Kadipaten Pengging demi keselamatannya.
Perjalanan KRT Suronolo didampingi isterinya Nyai Rara Jumingah dan diikuti lima orang putra/putrinya yaitu Sura Cipta, Sura Brata, Marga Asih, Sura Bangga dan Sura Gati. Sampai di desa Selo, Cepogo, di daerah Boyolali mereka singgah untuk beberapa lama di rumah Ki Lurah Cipta Kusuma (Kyai Galuh). Di sini dua putranya, Sura Cipta dan Sura Brata meninggal dunia. Karena di desa ini KRT Suronolo merasa belum aman, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat.
Ketika perjalanan mereka sampai di desa Banyuroto singgah di rumah Ki Lurah Dalem untuk beberapa lama. Supaya jejak perjalanan KRT Suranala tidak diketahui perajurit Kasultanan Demak Bintara, Ki Lurah Dalem menyarankan untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat dan sampailah di dusun Banyuurip. Di dusun ini anak putrinya, Marga Asih, meninggal dunia. Perjalanannya dilanjutkan lagi menuju ke dusun Karanglo, Krogowanan Sawangan. Dan di sini putra keempat KRT Suronolo, Sura Bangga, meninggal dunia. Tempat persinggahan perjalanan KRT Suronolo selanjutnya adalah dusun Ngaglik. Dan akhirnya mereka menemukan tempat kosong yang kala itu masih berupa hutan belantara (alas gung liwang liwung) yang belum berpenghuni. Di sinilah KRT Suronolo bersama isteri dan seorang anaknya, Sura Gati, akhirnya bertempat tinggal.
Atas kearifan, kebijaksanaan dan kepiawaiannya dalam mengolah lahan tanah yang kala itu masih berupa hutan, keluarga KRT Suronolo dapat hidup aman, damai dan tenteram di tempat ini. Keberadaan KRT Suronolo di tempat tersebut beritanya tersebar ke daerah di sekitarnya. Sehingga banyak warga dari desa dan daerah di sekitarnya yang datang ke tempat itu untuk mengabdi kepada KRT Suronolo. Sifatnya yang tidak membeda-bedakan pangkat, jabatan atau pun kedudukan menjadi daya tarik bagi warga di sekitarnya untuk datang dan mengabdi kepadanya. Ajarannya, semua manusia sama di hadapan Tuhan. Dan dia selalu berpesan kepada warga di tempat tinggalnya untuk selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa di mana pun mereka berada. “Uni istajib lakum”, (Kamu selalu berdoa, di mana pun berada) itulah pesan yang selalu dia sampaikan kepada warga. Dari hari ke hari semakin banyak orang yang datang untuk mengabdi kepada KRT Suronolo, sehingga akhirnya terbentuklah sebuah pedusunan.
Pada hari Ahad Wage tanggal 10 Sura tahun Masehi 1542, KRT Suronolo mengumpulkan warga untuk duduk bersama dengan hidangan yang sama yaitu minuman badhek atau legen yang dituangkan ke dalam bumbung dan makanannya adalah ‘sapah’ atau ubi rebus. Pada saat itulah KRT Suranala berkata, “Wiwit dina iki, papan iki ingsun jenengi desa Suranalan.” Mulai hari ini tempat ini aku beri nama desa Suranalan), dan dalam perkembangan kini disebut Desa Soronalan.-(ask)