Beranda figur Pelestari Hutan Lawu: Relakan Dua Jari Tanganya Putus Demi Kelestarian Alam

Pelestari Hutan Lawu: Relakan Dua Jari Tanganya Putus Demi Kelestarian Alam

70
Ketarangan Foto: Mbah Saman, menunjukan dua jari tanganya yang hilang/ Foto: Siagaindonesia.com

SIAGAINDONESIA.COM- Lahir 70 tahun yang silam di Desa Blumbang , desa terdekat dari pertapaan Pringgondani yang di kenal sebagai putra wayah Gunung Lawu,  Saman sosok pria sederhana yang tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Sejak kecil dia gemar naik turun gunung, keluar masuk hutan belantara menanam pohon di sepanjang lereng gunung lawu. Hutan lawu seakan rumah alam yang harus ia jaga dan rawat kelestarianya

Untuk itu di usianya yang menginjak tujuh puluh tahun, lebih dari dua ratus juta bibit pohon rimba dan buah  di tanam Saman di hutan lawu pasca kebakaran besar melanda hutan lawu tahun 2002 silam. Api melahap hutan sepanjang 6ribu hektar lebih. Hal itu membuat nuraninya terusik, rumah alamnya rusak akibat ulah oknum yang menutupi pencurian kayu selama bertahun tahun dengan cara membakar hutan menghilangkan jejak perambahan.

Dikatakan Saman, hampir seluruh kebakaran yang terjadi di gunung lawu di picu ulah manusia yang sengaja membakarnya. Oleh karena itu untuk menghijaukan kembali lahan yang rusak, lebih dulu harus di bersihkan dan diolah agar bisa di tanami kembali. Ribuan bibit pohon rimba dan buah di tancapkan oleh Saman, diantaranya liwung, wartel, cemara, akasia, damar, maglit, mindi, mahoni, Durian, manggis, alpukat dan lainya.

Di harapkan nantinya, hasil tanaman tersebut tidak hanya bermanfaat bagi alam dan penduduk desa, tetapi juga menghidupi ekosistem fauna di gunung Lawu. Pengalamanya saat merantau di Lampung menjadi petani kopi di terapkan dengan menanam bibit kopi di sela sela pohon rimba.

‘ Selama setahun lebih dari  8 hektar sudah berhasil di hijaukan kembali‘ Terangnya.

Selama ini seluruh pelestarian di lakukan sendiri oleh mbah Saman, baik untuk pengadaan bibit maupun proses penanamanya.  Beberapa warga yang peduli kepada mbah Saman akhirnya bergabung menghutankan kembali lereng gunung Lawu tempat dimana mereka tinggal.

Tahun 2003 hingga 2004 bersama 60 orang warga sekampung, mbah Saman berhasil menanami lahan  rusak akibat terbakar seluas tidak kurang dari 800 hektar.

Tahun 2004 mbah Saman membentuk paguyuban LMDH Estu Pringgondani. Dari bentukan organisasi, mbah Saman mengenal dan menjalin silaturahmi dengan  para rimbawan dari tiga belas gunung se Jawa Madura,  sekaligus belajar tentang program pengetahun pelestarian hutan.

Jiwa rimbawan yang di miliki mbah Saman tak pernah surut, meski dalam melestarikan hutan yang rusak dia sama sekali  tidak mendapatkan bantuan dari Pemerintah, apalagi penghargaan kalpataru.  Selama ini  ribuan hektar hutan rusak berhasil di hijaukan kembali oleh mbah Saman. Pengadaan bibit di biayai uang dari kantongnya sendiri.

Dirasakan olehnya,  Pemerintah selama ini kurang peduli terhadap keberlangsungan kelestarian alam, apalagi kepada para rimbawan pelestari lingkungan seperti mbah Saman.

Orang seperti dia justru dianggap sebagai penghalang oleh segelintir oknum dinas kehutanan pembalak liar.

Mbah Saman menyampaikan,  dirinya kerap di fitnah di benturkan dengan penduduk desa sebagai perambah hutan oleh oknum dinas terkait yang tak ingin keculasanya di ketahui warga.  Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, banyak oknum bermain melakukan pembalakan.

‘ Untuk menghilangkan jejak pembalakan, mereka membakarnya’ Tandasnya

Selama ini tidak hanya waktu, uang dan seluruh  hidupnya di curahkan untuk menjaga kelestarian hutan lawu, ia juga harus merelakan kaki kananya remuk, dua jari tanganya putus karena menyelamatkan hutan lawu.

Kepedulian mbah Saman tidak hanya mengembalikan ekosistem hutan lawu  yang rusak, tetapi juga menggelar upacara adat tradisi sedekah bumi sebagai wujud ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia dan rahmatNya yang selama ini dia terima.