Beranda budaya Semua Pesantren Musuh PKI

Semua Pesantren Musuh PKI

89
Sumur bekas pembantaian yang menjadi monumen dan tugu peringatan atas kekejaman PKI tahun 1948.

SIAGAINDONESIA.COM Banyak pihak ingin melakukan upaya rekonsiliasi dan rehabilitasi para pelaku pemberontakan/eks Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejumlah elemen masyarakat kemudian menggelar seminar. Mengekor aksi bela Islam, mereka pun punya slogan aksi bela PKI.

Menurut mereka sejarah tentang pengkhianatan PKI adalah kebohongan. PKI disebut menjadi korban. Mereka mengklaim peristiwa PKI yang terjadi di Indonesia dari tahun 1926, 1948, 1960 hingga 1965, tidak membantai umat Islam. Karena itu, menuntut negara meminta maaf kepada PKI dan korban-korban dari pihak PKI.

Selama ini gambaran paham Marxisme-Leninisme atau gampangnya komunisme, telah menjadi hubungan diametral dengan Islam. Dalam sejarah yang belum sampai satu abad, paham komunisme telah terlibat dalam pertentangan bengis tak kunjung selesai dengan Indonesia.

Dalam peristiwa Madiun, 1948, umpamanya, kaum muslimin Indonesia berdiri berhadapan dengan PKI. Saat itu di bawah kendali Muso, PKI berusaha menggulingkan pemerintahan Republik Indonesia yang didirikan oleh bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Dan kalaulah klaim bahwa tidak ada korban dari pihak Islam, maka dalam peristiwa di Madiun itu diungkapkan fakta bahwa pemuka agama Islam dan ulama banyak terbunuh, seperti kalangan pengasuh Pesantren Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, yang hanya terletak beberapa kilometer di luar kota Madiun sendiri.

Setidaknya Pesantren Takeran ini menjadi saksi bisu banyaknya orang yang dijagal dan dimasukkan ke dalam sumur tua di tengah-tengah perkebunan tebu sewaktu pemberontakan PKI Madiun pada September 1948. Anehnya, ini malah dianggap tak penting.

Di Desa Rejosari, dekat pabrik gula Rejosari, Kecamatan Kawedanan, Magetan, setiap bulan September dan Oktober banyak orang berdoa dan tabur bunga di monumen burung garuda terbang. Sebab di bawah tugu itulah dulu lubang pembantaian PKI 1948. Siapa yang “ditanam” di dalam lubang sumur itu? Ada bupati, wedana, jaksa, kiai, haji, pegawai, dan lainnya.

Di tembok monumen memang terdapat 26 nama. Ada bupati Magetan, anggota kepolisian, patih Magetan, wedana, kepala pengadilan Magetan, kepala penerangan Magetan, lima orang kiai, dan para warga biasa lainnya. Bila dijumlah seluruh korban pembantaian tercatat ada 114 orang. Sebelum dieksekusi, mereka diangkut dengan gerbong lori yang biasa untuk mengangkut tebu.

Beberapa nama ulama yang ada di monumen tertulis KH Imam Shofwan. Dia pengasuh Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali. Bahkan, ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan azan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kiai Zubeir dan Kiai Bawani, juga menjadi korban dan dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.

Selain itu, beberapa nama yang menjadi korban adalah keluarga Pesantren Sabilil Mutaqin (PSM) Takeran. Mereka adalah guru Hadi Addaba’ dan Imam Faham dari Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran. Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, paman dari mantan mendiang ketua DPR M Kharis Suhud. Selain perwira militer, pejabat daerah, wartawan, politisi pun ikut menjadi korbannya.

Hanya saja, untuk Kiai Mursyid dan sesama kiai pesantren Takeran hingga saat ini belum diketahui di mana kuburannya. Pengasuh Pondok Pesantren Sabilil Mutaqin KH Zakaria (83) menceritakan, usai shalat Jumat pada 17 September 1948 pesantrennya didatangi beberapa orang tokoh PKI. Kepala rombongan yang dipimpin aktivis PKI Suhud. Mereka datang didampingi para pengawal bersenjata yang dikenali sebagai kepala keamanan di Takeran.

”Ketika menjemput Kiai Mursyid, Suhud menukil ayat Alquran, innalloha laa yughoyirru bi qoumin hatta yughoyiyiru maa bi anfusihim (Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib satu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri). Setelah berkata seperti itu, Kiai Mursyid dibawa pergi dan sampai sekarang tak diketahui rimbanya,” kata Zakaria mengenangkan peristiwa tersebut.