Beranda Headline Nama Dirut Pertamina Menghilang di Sidang Suap Proyek PLTU Riau-1

Nama Dirut Pertamina Menghilang di Sidang Suap Proyek PLTU Riau-1

100
Direktur Utama Nicke Widyawati.

SIAGAINDONESIA.COM Kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 di Pengadilan Tipikor Jakarta, mengadili terdakwa owner Blackgold pelaksana proyek PLTU Riau-1, Johannes B Kotjo, Kamis lalu (4/10/2018), rencananya akan dilanjutkan pekan ini.

Dakwaan Jaksa Penuntut KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pada sidang pertama itu, ternyata masih menyisahkan pertanyaan banyak pihak, terkait tidak disebutnya nama Direktur Utama Nicke Widyawati alias menghilang. Nicke sempat dipanggil KPK –dua kali mangkir–, dan diperiksa karena saat masih menjabat Direktur Perencanaan Strategis 1 PT PLN (persero) –membawahi divisi RUPTL (Rencana Usaha Pengadaan Proyek Tenaga Listrik) periode 2016-2024–, ikut melakukan pertemuan-pertemuan dengan terdakwa.

“Ini yang masih dalam bedahan di esPeKaPe. Ada apa kok dalam dakwaan Jaksa, tidak ada nama Nicke. Padahal, dari berbagai media mainstrem maupun online, KPK saat memeriksa tersangka Eni Saragih dan Johannes B Kotjo dalam beberapa pertemuan dengan pihak PLN juga ada Nicke sebagai Direktur Pengadaan Strategi 1 PLN,” tegas fungsionaris Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (esPekaPe), Teddy Syamsuri dikutip siagaindonesia.com, Selasa (9/10/2018).

“Ada alibi kami, untuk alihkan isu demi Pertamina. Nicke saat ini menjabat Dirut Pertamina, sehingga terus bergerilya tidak ada dugaan keterlibatannya atas kasus Riau-1,” kata Teddy.

Lain lagi, penelisikan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman. Yusri juga tanda tanya karena Jaksa justru menyebut nama Direktur Utama (Dirut) PT PLN (persero) Sofyan Basir sampai sembilan kali melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak terkait proyek PLTU Riau-1 yang pelaksanaannya oleh PLN diserahkan PT Blackgold Natural Resources Limited. Termasuk, disebutkan nama Supangkat Iwan Santoso sebagai Direktur Perencaan Strategis 2 PT PLN (persero). Sedang, nama Nicke hilang bak ditelan bumi.

“Malah nama Supangkat Iwan Santoso sebagai Direktur Perencaan Strategis 2 (PT PLN) yang membawahi Divisi IPP (Independent Power Producer) yang disebut-sebut hadir dan aktif berdiskusi,” kata Yusri Usman di Jakarta, yang juga dilansir terbit, Selasa (9/10/2018).

Tedy menyatakan, hilangnya nama Nicke itu sangat mungkin jadi alibi pengalihan isu. Ini jika dikaitkan dengan penyidik di Kejaksaan Agung tiba-tiba menahan mantan Dirut Pertamina Karen G Agustiawan dengan tuduhan diduga merugikan keuangan negara Rp 568 Miliar. Karen yang sudah sejak 1 Oktober 2004 mundur dari PLN karena akan mengajar di Harvard Amerika Serikat, saat ini malah ditahan dengan tuduhan melakukan penyimpangan pelaksanaan investasi Pertamina melalui akisisi Blok Basker Gummy (BMG) di Australia, setelah melakukan Interest Participating (IP) milik ROC Oil Company.

“Alibi pengalihan isu, karena yang meniadakan nama Nicke itu dalam dakwaan jaksa. Sebaliknya, yang merumuskan Karen kasusnya di Kejaksaan Agung itu waktunya bersamaan. Momentumnya sama-sama membawa nama Pertamina. Ini yang harus dicermati seksama,” kata Teddy.

Sementara itu, penyebutan nama Sofyan Basir melakukan pertemuan sampai delapan kali dengan sejumlah pihak terkait pelaksanaan proyek PLTU Riau-1 yang diserahkan PT Blackgold dengan CEO Johannes B Kotjo, termasuk keterlibatan Supangkat Iwan Santoso, mengundang spekulasi besar bahwa Sofyan Basir dan Supangkat Iwan Santoso seperti di ujung tanduk. Keduanya sangat mungkin status dari saksi bisa dinaikkan menjadi tersangka.

“KPK sudah menggeledah rumah Sofyan Basir dan kantor PLN pusat di Jakarta Selatan, dan menyita sejumlah dokumen. Kalau sudah ada dua alat bukti keterlibatan Sofyan Basir dan Supangka, langkah KPK
sudah bisa ditebak. Apalagi, kalau fakta persidangan nanti ada kesaksian dari Eni Saragih dan Idrus Marham, atau pengakuan Johannes Kotjo,” kata pegiat Anti Korupsi Nasional (AKN), Tjatur Setiawan dikutip siagaindonesia.com, Selasa (9/10/2018).