Beranda budaya Tosan Aji, Warisan Adiluhung yang Perlu Dilestarikan

Tosan Aji, Warisan Adiluhung yang Perlu Dilestarikan

284
0

SIAGAINDONESIA.COM – Dalam tatanan kehidupan masyarakat Jawa, hidup seseorang dikatakan lengkap bila telah memiliki lima hal, yaitu curiga, turangga, wisma, wanita dan kukila. Curiga atau keris menjadi prioritas utama, karena keris memiliki makna petunjuk tentang kebenaran dan mengandung makna nasehat tentang kebajikan. “Para leluhur berkehendak mewariskan ‘pituduh’ dan ‘pitutur’ yang adiluhung itu kepada generasi penerus bangsa agar hidupnya benar dan bahagia lahir batin. Namun pituduh dan pitutur itu disampaikan secara simbolik, kiasan yang dituangkan dalam karya-karya seni adiluhung, termasuk keris,” ungkap Drs. KRT Projo Kardono, dari paguyuban Paheman Memetri Wesi Aji (Pametri Wiji) Yogyakarta, dalam sarasehan warisan budaya tosan aji di Obyek Wisata Gunung Telomoyo desa Pandean Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang, Sabtu, 13 Oktober 2018 yang lalu.
Dijelaskan, para pecinta dan pelestari budaya tosan aji/keris di Indonesia sudah merasa lega dan bangga, karena UNESCO (United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization), pada tanggal 25 Nopember 2005 telah mengakui keris sebagai “warisan atau pusaka budaya dunia”. Keris sebagai salah satu hasil budaya bangsa Indonesia sudah diakui dan dihargai sebagai sebuah “mahakarya”, yang tidak saja indah wujud dan tinggi teknik pembuatannya, tetapi juga penuh makna filosofis berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia.
Karena tingginya nilai sebuah tosan aji memerlukan perlakuan yang proporsional. Perlakuan ini meliputi sopan santun dalam memperlakukan keris, cara menyimpan dan cara perawatan. Perlakuan ini pada intinya adalah penghormatan atas budaya dan jati diri budaya bangsa. Namun perlu dicegah penghormatan yang berlebihan dan over-simbolisasi. Betapa pun hebatnya sebuah tosan aji tidak akan berarti bila pemiliknya tidak mampu menjabarkan makna yang terkandung di keris tersebut dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang bekerja sama dengan paguyuban ‘Satriyatama’ (Satuhu Memetri Budaya Tosan Aji Magelang) menyelenggarakan ‘Pameran dan Sarasehan Tosan Aji’ dengan tema “Kenali, cintai dan lestarikan Warisan Budaya Leluhur Tosan Aji”. Menurut Plt Kepala Disdikbud, Drs. Haryono M.Pd., kegiatan ini sebagai upaya untuk melestarikan dan mengaktualisasikan nilai-nilai budaya bangsa yang adiluhung, budaya tosan aji. Disamping itu, untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat agar dapat mengenal lebih jauh tentang nilai-nilai yang terkandung dalam tosan aji.
Acara digelar tanggal 13 dan 14 Oktober 2018. Pembukaannya diawali dengan kirab budaya yang membawa vandel-vandel paguyuban Satriyatama dan Senapati Nusantara dan tombak pusaka. Sarasehan diikuti 60 orang yang terdiri dari para pecinta tosan aji anggota paguyuban Satriyatama, anggota paguyuban Macapatan dan pecinta tosan aji dari. Nara sumber sarasehan adalah Drs. KRT Projo Kardono dari ‘Pametri Wiji’ Yogyakarta dan Ketua paguyuban ‘Satriyatama’, Nurhadi. Disamping pameran tosan aji dan sarasehan juga digelar ‘bursa’ tosan aji yang diikuti para pedagang tosan aji dari Magelang, Yogyakarta, Pekalongan dan kota kota lainnya. Senapati Nusantara yang mengapresiasi acara ini, meluncurkan buku saku ‘Bahan Ajar Keris’.
Bupati Magelang, Zaenal Arifin S.IP dalam sambutannya mengatakan, sarasehan dan pameran tosan aji ini dapat memberikan pemahaman dari perspektif historis bahwa pusaka-pusaka para leluhur pernah mencapai kejayaan pada jamannya. Diharapkan, generasi muda memiliki rasa bangga dapat berpartisipasi untuk ikut melestarikan dan memanfaatkan sesuai dengan perkembangan jaman.
Sementara itu Sekretaris Jendral ‘Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji Nusantara’ (Senapati Nusantara), Ir. Hasto Kristiyanto MM mengatakan, dari tosan aji dapat belajar peradaban bangsa. Karena tosan aji memiliki nilai-nilai filsafat tentang hidup dan kehidupan manusia. Kegiatan ini sebagai momentum untuk menggelorakan jati diri bangsa dengan mengenal budaya tosan aji warisan adiluhung dari para leluhur.(ASk)