Beranda budaya Bersyukur atas berkah air yang melimpah

Bersyukur atas berkah air yang melimpah

614
0

SIAGAINDONESIA.COM – Bagi warga desa Mungkid Kabupaten Magelang, air yang melimpah merupakan berkah dari Allah SWT, sehingga dalam acara Saparan Merti Desa yang dilaksanakan pada setiap bulan Sapar acaranya tidak lepas dari ungkapan rasa syukur kepada-Nya. Mereka memanjatkan doa bersama secara agama Islam (Tahlilan) di kompleks pemandian Mudal, dimana terdapat mata air dengan debiet yang cukup besar. Dengan doa ini diharapkan warga desa selalu mendapat lindungan-Nya, diberi berkah dan kesejahteraan. Disamping itu, acara “merti desa” ini juga untuk menghormati dan mengirim doa kepada para leluhur cikal bakal desa.
Saparan Merti Desa di desa Mungkid tahun ini diselenggarakan secara sederhana namun khidmad pada hari Minggu Wage, 10 Sapar 1952 Be atau tanggal 21 Oktober 2018 yang lalu. Acara tahunan ini diikuti para tokoh masyarakat dan pejabat setempat dengan membaca doa Tahlil bersama yang dipimpin Mat Khoirudin. Usai membaca doa bersama, dilaksanakan ritual menebarkan sesaji Saparan Merti Desa ke kolam. Murtiyono, mantan Sekretaris Desa Mungkid yang pernah bertugas selama 30 tahun, menjelaskan, sesaji tersebut berupa bunga tujuh macam, jenang tujuh jenis, dan ingkung bebek putih mulus. Untuk ingkung bebek yang dilarung hanya diambil bagian kepala, sayap, cakar dan jeroannya. Acara Saparan ini dimeriahkan dengan pementasan Kesenian Jathilan “Turangga Mudha” dari dusun Gatak desa setempat sebagai hiburan untuk masyarakat.
Menurut Murtiyono, para leluhur cikal bakal desa ini adalah Kyai Sempani yang makamnya berada di Gunung Lemah, Kyai Madu Sirad dengan pusara di dusun Sirad, Kyai Tunggul Wulung yang dimakamkan di dusun Kadipiro di belakang kantor kecamatan, Tumenggung Wongsonegoro yang pesareannya di dusun Karanggayam, Ki Mungkin yang makamnya di belakang masjid Jami’ dusun Mungkid, dan Kyai Umar Sirodjudin yang merupakan tokoh ulama penyebar agama Islam di desa.
Kompleks pemandian Mudal merupakan bangunan kuna peninggalan jaman Penjajahan Belanda. Mataair di sini debiet nya cukup besar, airnya melimpah. Konon, menurut cerita Murtiyono, dulu ada seorang petani yang sedang ‘nggaru’ di sawah dekat mataair itu. Karena besarnya mataair, orang tersebut tenggelam bersama garu dan kerbaunya. Petani, garu dan kerbaunya ditemukan muncul di dekat kali Opak, daerah Yogyakarta. Kemudian ada orang yang mencoba menutup mataair itu dengan papan kayu (‘blabak’ – Jawa) yang pada akhirnya menjadi nama dusun yang berada di dekat mataair ini yaitu dusun Blabak. Tetapi karena kuatnya tekanan air yang keluar dari sumbernya, blabak-blabak penutup mataair itu pun akhirnya pecah tidak kuat. Di lain waktu, ada seseorang yang menutup mataair itu dengan sebuah gong besar. Gong itu berasal dari Kraton Mataram, dengan ditutup gong itu, airnya mengalir terkendali melalui sebuah sungai kecil yang kini namanya Kali Gung. Nama ini mungkin berasal dari kata “Kali Gong”. Dan dusun di sebelah bawah mataair ini ada yang kini bernama “Blambangan” karena di sini dulu banyak “blumbangan” atau empang.
Kini, dengan debiet air yang cukup besar air dari mataair Mudal banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, tidak saja oleh warga desa setempat tetapi juga warga desa-desa lainnya, untuk kebutuhan air minum, sarana penunjang produksi pabrik kertas mau pun untuk keperluan irigasi sawah dan perikanan. Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Magelang juga mengalirkan air dari mataair Mudal. Dulu pabrik kertas yang ada di dekatnya juga mengambil air dari mataair ini untuk menunjang proses produksinya.
Kepala Desa Mungkid, M. Fitri Heriyanto SE, pada acara ini mengatakan, pemerintah desa merencanakan pada tahun 2019 mendatang akan merehabilitasi pemandian umum tersebut. Di sini kini ada kolam renang yang cukup luas dengan air yang bening dan segar langsung dari mataair. Diharapkan, pemandian atau kolam renang umum ini akan dapat menjadi obyek wisata pemandian dengan sarana dan fasilitas yang lebih baik. Rencana ini didukung oleh Camat Mungkid, Drs. Sukamtono, yang hadir pada acara ini.-ASk