Beranda Headline Ansor Jangan Pekithak-Pekithik! Banser Itu Dulu Panser

Ansor Jangan Pekithak-Pekithik! Banser Itu Dulu Panser

486
0
Choirul Anam.

Oleh: Choirul Anam

SIAGAINDONESIA.COM Baru kemarin sore, beberapa tokoh Banser dan Ansor tua mendatangi saya dengan sikap sempura, tegak dan hormat.

Setelah saya persilahkan duduk, mereka lalu mengungkapkan  keprihatinan dan kesedihannya melihat tingkah laku Ansor sekarang ini yang, kian menyimpang, dari nilai-nilai dasar perjuangannya.

Puncak kesedihannya, ketika mereka melihat video pembakaran bendera tauhid oleh sejumlah anggota Banser.

“Saya yakin itu pembakar bendera tauhid bukan Banser beneran. Itu pasti Banser palsu, selundupan, orang susupan dan harus diusut tuntas,” kata mantan Komandan Batalyon Banser yang pernah saya bangunkan dari tidur lelapnya di era 90-an.

Memang, ketika saya mulai aktif memimpin GP Ansor Jawa Timur di tahun 1990, sempat membangunkan Banser dari tidurnya hingga mencapai satu devisi, sekitar 120 ribu personel.

Semua tercatat dan terdokmentasi serta terintegrasi dengan Polri dan TNI, terutama dalam bidang pelatihan. Ada saksi hidup yang pasti masih ingat, di antaranya: Pangdam V/Brawijaya Jenderat Haris Sudarno, Jenderal Djaja Suarman, Jenderal Riyamizar Riyacudu.

Bahkan Jenderal Haris pernah bertanya: Berapa jumlah anggota Banser? Saya jawab 120 ribu personel, Jenderal. Beliau pun geleng kepala. Waktu itu saya terinspirasi terbentuknya pasakukan Hizbullah Jawa Timur, di bawah komando Panglima Devisi Kiai Wahib Wahab, yang ikut bertempur habis-habisan dalam perang 10 November 1945 di kota pahlawan.

Karena itu, kawan-kawan Banser dan Ansor tua tadi itu mendesak saya untuk meluruskan langkah GP Ansor dan Banser yang mereka nilai telah melenceng jauh dari khitthah perjuangannya.

Pimpinan Ansor dan NU sekarang ini kemelinthi, mekithik-mekithik, kata mereka. Sukanya berteriak “NKRI harga mati”.  “Malu, malu kita, kok kayaknya paling NKRI sendiri,” kata mereka menggebu lalu saya hibur: tenang…dan sabar, Balanda masih jauuuh.

Bukan cuma mereka yang risih mendengar teriakan “NKRI harga mati”, tapi kawan-kawan Muhammadiyah juga terkekeh-kekeh mendengarnya. Karena, tampak sekali kalau mereka yang teriak-teriak itu tidak mengerti sejarah bangsa.

Coba baca buku-buku sejarah nasional, pasti mereka akan tahu, bahwa tertundanya sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 lantaran ada gugatan kelompok radikal dengan ancaman akan memisahkan diri dari NKRI, jika UUD yang telah disepakati bersama dalam BPUPKI dan akan segera disahkan oleh PPKI itu, tidak dilakukan perubahan.

Akhirnya, tulis buku-buku sejarah, Soekarno meminta Kiai Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah), ditambah Kasman Singodimedjo dan Teuku Muhammad Hasan (Gubernur Sumatera) untuk berunding menyelesaikan gugatan kelompok radikal tersebut demi keutuhan NKRI.

Apa yang terjadi? Dengan sangat cepat diubahlah rumusan Sila Pertama dengan menilangkan tujuh anak kalimat, dan beberapa pasal serta ayat dalam batang tubuh UUD juga mengalami perubahan, antara lain: syarat calon presiden “Orang Indonesia asli dan beragama Islam”, dan beragama Islam-nya dicoret.

Jadi, pelopor penyelamatan keutuhan NKRI itu adalah NU dan Muhammadiyah serta seluruh anggota PPKI. Nah, Ansor jangan merasa paling NKRI, ngisin-ngisini.

Lagi pula, penjaga NKRI itu TNI dan sudah dipersenjatai. Dan untuk mengatur ketertiban, misalnya memperingati hari Santri dengan membawa bendera tauhid, itu domain Polri. Lha kok Banser malah membakar bendera tauhid dengan alasan bendera HTI.

Kalau memang HTI dan Wahabi dianggap membahayakan NKRI, serahkan pada Polri dan TNI. Pimpinan NU dan Ansor jangan melindungi tindakan anaskis. Indonesia negara hukum, jangan mengajari babarisme. Kalau tidak bisa memimpin Ansor dengan baik, lebih baik mundur. Masih banyak kader yang bisa memimpin Banser, agar tidak bikin gaduh terus.