Beranda budaya Seminar dan Pementasan Wayang Perspektif Pendidikan Nasional

Seminar dan Pementasan Wayang Perspektif Pendidikan Nasional

231

SIAGAINDONESIA.COM – Ada semacam kekacauan dalam ideologi pendidikan nasional, karena kurang mengapresiasi budaya nasional. Budaya nasional mengalami kelunturan, padahal Indonesia memiliki aset media pendidikan nasional. Sekarang ini format media yang ada masih bersifat monoetnis dan monolevel. Sehingga aset media tersebut kurang bermanfaat dan menimbulkan ketidakpedulian. Hal tersebut diungkapkan Dr. Junaidi S.Kar, M.Hum, pimpinan ‘Sanggar Wayang Walisanga’ Yogyakarta, dalam acara Seminar dan Pementasan Wayang Pendidikan Nasional di pendapa Panjang Mas kompleks kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Sabtu, 27 Oktober 2018 yang lalu.
Menurut Junaidi yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Direktorat Pengembangan Riset dan Pengabdian Masyarakat Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi ingin memanfaatkan media budaya yang masih bersifat monoetnis dan monolevel menjadi kemasan yang bersifat multietnis dan multilevel yang berbasis pada nilai-nilai Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Dan harapannya, agar dapat terbentuk masyarakat Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tim Peneliti masalah tersebut diketuai Dr. Junaidi S.Kar. M.Hum dengan dua orang anggota, Dr. Supriaswoto M.Hum dan Drs. Agus Suseno M.Hum. Dari hasil penelitian disebutkan, pada tahun pertama dirumuskan model boneka wayang, panggungan dan gamelan. Pada tahun kedua berhasil disusun naskah wayang untuk murid tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mahasiswa Perguruan Tinggi (PT), dengan menggunakan Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia.
Dari hasil penelitian tersebut, pada tahun ketiga dilaksanakan sosialisasi model wayang pendidikan yang berbasis pada ideologi nasional, dengan mengutamakan fungsi edukasi berbahan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Kesatuan, Kebijaksanaan dan Keadilan. Untuk percontohan aplikasi model terhadap kelembagaan pendidikan yang multilevel pada jenjang pendidikan PAUD/TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan Perguruan Tinggi (S1, S2 dan S3), dan bersifat multietnis di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Dalam merealisasikan hasil-hasil penelitian tersebut, pihak Direktorat Pengembangan Riset dan Pengabdian Masyarakat Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bekerjasama dengan ISI Yogyakarta dan Sanggar Wayang Walisanga Yogyakarta dan didukung CV Mitra Padma Persada dalam menerbitkan buku-buku tentang pengenalan wayang dan pengadaan perangkat pementasan wayang.
Dalam seminar Junaidi menjelaskan, wayang merupakan salah satu wahana atau alat pendidikan watak yang baik sekali. Karena wayang mengajarkan ajaran dan nilai tidak secara dogmatis (harus diterima kebenarannya) dan teoritis sebagai suatu indoktrinasi (paham kebenaran hanya dari satu sisi). Tetapi secara demokrasi dengan menghadirkan kehidupan tokoh-tokoh sebagai teladan yang nyata. Materi pendidikan watak yang ada dalam wayang berupa lakon-lakon, tokoh-tokoh, dan ajarannya serta nilai-nilainya dapat digunakan untuk pendidikan watak, seperti pendidikan agama, Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan lainnya.
Namun kenyataannya wayang dan gamelan kurang akrab dengan masyarakat yang terdiri dari banyak suku, gender, religi, usia dan teknologi informasi. Masyarakat kurang kenal (tepung), kurang paham (dunung) dan kurang dekat (srawung) dengan seni wayang. Sehingga timbul jarak, bahkan bertolakan dengan kesenian tradisional wayang. Akibatnya, mutiara nilai-nilai yang tersirat dalam pagelaran wayang tidak dikenal, dipahami dan dilaksanakan oleh masyarakat sekarang dan masa yang akan datang. Kini permasalahannya adalah, bagaimana menciptakan model seni wayang dan gamelan dengan isi religi, edukasi, rekreasi dan konservasi agar bisa dikenal, dipahami dan dilaksanakan oleh bangsa Indonesia yang memiliki banyak suku, agama, pendidikan, usia dan gender.
Seminar diakhiri dengan pementasan Wayang Perspektif Pendidikan Nasional oleh siswa siswi SMP Negeri 1 Limbangan Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah, yang menggelar lakon carangan, ‘Remaja Ugal-ugalan’ dengan dalang Alifia Puji Hermila. Peserta seminar ini para guru dan siswa dari SMP Negeri 3 Bantul, SMP Muhammadiyah Sewon, SMP Negeri 2 Bantul, SMP Negeri 2 Kasihan dan SMP Muhammadiyah Kasihan, Bantul.- ASk