Beranda Headline Revolusi Kreativitas Pemuda Indonesia

Revolusi Kreativitas Pemuda Indonesia

307
Soetanto Soepiadhy.

Oleh: Soetanto Soepiadhy 

SIAGAINDONESIA.COM Pemuda di tahun 1928 yang telah membuat perubahan besar itu adalah minoritas, tapi mereka adalah orang-orang kreatif. Hari Sumpah Pemuda diperingati setiap 28 Oktober. Hasil keputusan kongres tersebut ialah menegaskan cita-cita tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia. “Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Seperti inilah kutipan naskah asli hasil Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia yang dikenal dengan istilah Sumpah Pemuda. Kongres yang berlangsung pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta ini menjadi bukti otentik peran pemuda dalam mengawali semangat persatuan dan perjuangan meraih Kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan sejarah, kongres ini diinisiasi oleh perkumpulan-perkumpulan pemuda yang berasal dari seluruh Indonesia dengan nama Jong Java, Jong Soematera, Pemuda Indonesia Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Batakabond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi dan Perhimpunan Peladjar Indonesia.

Teladan Pemuda Parikesit

Dalam dunia wayang, Parikesir dikenal sebagai raja terakhir di negara Astina. Ia anak Abimanyu yang dinobatkan menjadi raja, ketika masih bayi, yaitu beberapa saat setalah perang besar Bharatayudha di padang Kurusetra — antara Kurawa dan Pandawa – berahir. Bahkan sebenarnya, ia sudah digariskan menjadi raja oleh dewa pada wakyu ayahnya memperoleh wahyu Cakraningrat.

Saat lakon Parikesit Gobyok diceritakan, raja muda Parikesit meminta mengadakan penangkapan berbagai binatang buas secara hidup-hidup untuk dimasukkan Kebonraja, semacam kebun binatang. Dengan cepat permintaan itu dilaksanakan oleh saudara-saudaranya, dibantu prajurit pilihan di hutan belantara.

Dalam proses penangkapan itu, Sang Raja menjadi tahu persis, bagaimana kepiawaian saudara-saudaranya membekuk binatang buas yang liar dan ganas. Ia mengetahui bagaimana Sasikirana (anak Gatutkaca) dengan trengginas melumpuhkan singa besar. Begitu pula Janurwinda (anak Antareja) yang dengan kekuatan mengagumkan mampu meringkus seekor banteng raksasa. Sementara Songosongo (anak Setyaki) begitu cepat menangkap seekor ular besar.

Saat menyaksikan proses penangkapan binatang buas itu, Parikesit merasa malu dan redah diri, serta kemudian berintrospeksi. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya dalam ulah keprajuritan, ia merasa tidak ada apa-apanya. Ia mengaku pada dirinya sendiri, bahwa ia yang telah sinungga dadi raja (dinobatkan menjadi raja) dan sinunggi dadi aji (dijunjung begitu terhormat) oleh saudara-saudaranya dan rakyat Astina, ternyata tidak berimbang dengan kemampuannya. Ia merasa tidak layak dan tidak pantas memperoleh jabatan raja dan penghormatan yang begitu tinggi.

Tanpa pamit, Parikesit kemudian pergi meninggalkan Astina, masuk ke hutan belantara, dengan maksud menggembleng diri. Dalam pengembaraannya itu, ia bertemu dengan beberapa pandita, raksasa, dan berbagai kendala. Di sana ia mengalami proses jatuh bangun, siksaan, dan cobaan hidup. Namun justru di situlah yang ia cari, agar terjadi pematangan diri, baik secara fisik maupun mental untuk bekal memimpin negara.

Merasa telah memperoleh bekal, Parikesit kemudian kembali ke Astina dengan perasaan mantap dan penuh percaya diri, serta siap mengemban tugas dan kewajiban sebagai seorang raja. Kembalinya raja muda itu, disambut dengan suka cita oleh saudara-saudaranya dan rakyat Astina.

Bonus Demografi

Teladan Parkesit di atas ada kemiripan dengan apa yang harus dilakukan pemuda Indonesia dewasa ini, yakni kreativitas. Saat pemuda yang sering menamakan diri sebagai agent of change akan diuji seberapa kuat kreativitas mereka dalam memaknai Sumpah Pemuda di bidang apa pun. Mereka tertantang untuk mampu mengemas nasionalisme dan sumber daya manusia dalam bingkai kreativitas.