Beranda featured Detik-detik Menegangkan Penumpang Lion Air JT-610 Sebelum Jatuh

Detik-detik Menegangkan Penumpang Lion Air JT-610 Sebelum Jatuh

413
Jenazah pesawat Lion Air JT-610 dievakuasi.

SIAGAINDONESIA.COM Suasana tegang kerap kali menghinggapi penumpang pesawat udara. Namun dengan berbagai kejadian yang melanda Lion Air, bahkan hingga menyebabkan korban jiwa, ketegangan massal dengan durasi yang panjang pun tak bisa dihindari para penumpang.

Ketegangan bersama Lion Air itu terjadi mulai dari menunggu kedatangan pesawat, saat memasuki kabin pesawat, saat take off, saat di udara, dan terutama saat kecelakaan itu terjadi. Kejadian ini dialami oleh penumpang sehari sebelum kecelakaan dan pada saat kecelakaan itu terjadi.

Sebagaimana diungkapkan Supriyanto, pegawai Departemen Keuangan yang bersama 52 teman sekantornya selepas menuaikan tugas di Bali, menaiki pesawat Lion Air. Ia naik Lion Air dengan nomor penerbangan JT-43, jadwal keberangkatan dari Denpasar pukul 19:30 pada Minggu (28/10).

Namun setelah menunggu beberapa jam ada pengumuman bahwa pesawat delay hingga pukul 21:50 waktu setempat. Sampai akhirnya dikabarkan diganti nomor penerbangan Lion Air JT-610 dengan jadwal 21:50, sambil diberikan makanan dan minuman kardus. Masa tegang pertama menunggu hingga delay berhasil dilalui Supriyanto, teman-teman sekantor dan seperjalanan.

Namun pukul 21:15 Supriyanto, memasuki ketegangan kedua, karena ia dan penumpang lainnya pada pukul 21:15 diminta masuk kabin pesawat. Ini tentu keputusan lebih awal dari jadwal delay yang dijanjikan. Ternyata terkonfirmasi memang ganti pesawat, saat akan naik ke pesawat ia melihat banyak orang sibuk di bawah pesawat seperti mereparasi mesin.

Setelah memasuki kabin, Supriyanto duduk di bangku nomor 2D, ia menyaksikan intensitas kesibukan makin tinggi. Ada teman seperjalanan yang sempat mengabadikan logo Lion Air JT-610 PK-LQP yang menempel di bagian pesawat.

Ketegangan ketiga, dirasakan Supriyanto dan kawan-kawan adalah ketika di udara dimana cuaca relatif baik. Saat pesawat take off, terasa sekali kalau ada mesin ngegas suara kurang enak. Pas naik terjadi anjlok, naik lagi, anjlog lagi. Setelah naik kami melihat ada pilot dua tiga kali keluar, salah satunya ada yang mengambil koper, buka sesuatu untuk dibawa.

Tak tahu apa yang diambil. Di tempat duduk pramugari di depan pintu pilot, ada buku instruksi atau manual sangat tebel. Sepertinya kru berusaha memperbaiki permasalahan teknis di udara.

Sementara Dia, penumpang sekantor dengan Supriyanto menambahkan, menggambarkan ketegangan di udara. Wanita yang duduk di kursi 21C menceritakan sejak diumumkan delay dirinya bersama teman-teman merasa tidak enak. Namun ia buang rasa tidak enak tersebut yang penting penerbangan selamat sampai Jakarta.

Ketegangan saat take of, menurut Diah, begitu kencang. Mesin pesawat digas langsung turun. Digas lagi turun lagi lebih kencang, bahkan terasa goyang. Tapi akhirnya pilot berhasil mengatasi keadaan.

“Saat pesawat anjlog, para penumpang pada teriak Allahu akbar, setelah itu penumpang masing-masing berdoa karena situasi sangat mencekam. Seumur-umur saya baru mengalami kejadian seperti itu, goyangnya terlalu keras,” jelas Diah di Jakarta semalam.

Setelah di udara, di belakang pesawat, co-pilot berusaha mengeluarkan koper, semua penumpang berdoa karena kondisinya terasa genting. Co-pilot itu masuk cock pit, keluar lagi, tidak terlalu jelas apa yang dilakukan karena terhalang gorden. Hingga situasi perjalanan relatif stabil sampai menjelang landing.

Dalam perjalanan, Diah dan beberapa teman sempat mencium bau gosong, seperti kanvas rem atau kabel hangus. Itu yang menambah penumpang sangat khawatir, situasi semakin tegang. “Kalau bawa mobil bau seperti itu kita bisa minggi, kalau di pesawat bagaimana? Ini yang membuat kami tegang,” tambah Diah.