Beranda aneka Kenapa Tugu Kartonyono Tidak Sesuai Desain Prototipe Sebelumnya, Ini Jawabannya

Kenapa Tugu Kartonyono Tidak Sesuai Desain Prototipe Sebelumnya, Ini Jawabannya

8287
Tugu Kartonyono Ngawi

SIAGAINDONESIA.COM -Awal Nopember 2018 publik Ngawi disuguhkan dengan pemandangan berbeda pasca realisasi pembangunan Tugu Kartonyono yang berada tepat di jantung kota tersebut. Pembangunan tugu dibawah leanding sektor Dinas Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Ngawi yang dibangun melalui PT Asimuru memang bisa dibilang ‘clear’ dikerjakan meskipun belum diserahkan.

Dalam beberapa hari terakhir dunia media sosial (medsos) khususnya dari para masyarakat kota orek – orek Ngawi itu pun dibuat tanda tanya. Alasan mereka pada pertanyaan yang berkutat, kenapa realisasi Tugu Kartonyono yang menelan budget Rp 3,1 miliar bersumber dari APBD Ngawi 2018 tidak sesuai desain prototype sebelumnya.

Berikut penulusuran awak media mengenai hal itu, Teguh Suprayitnya selaku PPK DPUPR Ngawi menjelaskan, pembangunan Tugu Kartonyono mendasar perencanaan yang dibuat tahun 2017 melalui sayembara desain prototype Tugu Kartonyono. Sekitar Agustus 2017 saat itu keluar sebagai pemenang sesuai penilaian lima orang dewan juri desain gambar miliknya Triyono atas lima besar gambar desain mendasar dari 26 desain yang masuk pada sayembara saat itu.

Kemudian, apabila hanya mendasar penilaian dewan juri juga sangat tidak logis. Tentunya untuk menjaga asas keterbukaan dan dikenal serta melibatkan masyarakat Ngawi dilakukan sosialisasi di media massa maupun langsung ke masyarakat pada saat kegiatan 17 Agustus 2017. Agar benar-benar segera terwujud seperti apa atas Tugu Kartonyono maka dibuat audisi memanfaatkan poling melalui pesan singkat (SMS-red).

“Saat itu kalau hanya mendasar penilain lima dewan juri juga kurang pas. Maka seperti dalam audisi itu kita lempar ke masyarakat langsung melalui sistem poling sms,” terang Teguh Suprayitna, Sabtu, (03/11/2018).

Dibeberkan, dari poling tersebut juga dihasilkan bahwa desain prototype versi Triyono memperoleh skor sekitar 600 berbanding 200 an. Maka atas dasar inilah yang dipakai untuk membangun Tugu Kartonyono sesuai desain prototype milik Triyono bukan yang lain.

Akan tetapi terkait desain itu pun harus tetap menyesuaikan dan di analisis lagi dengan detail engineering design (DED). Dari DED itu muncul beberapa pertimbangan dan masukan dari tokoh masyarakat Ngawi terkait dengan isi desain prototype versi Triyono. Bahwasanya, desain gambar miliknya Triyono tidak semuanya bisa diakomodir dalam perencanaan salah satunya terkait ikon manusia purba sebagai latar belakang dari gading gajah.

Karena sesuai analoginya sebagian masyarakat beropini bahwasanya manusia purba jelas telanjang bulat. Dilihat dari norma dan adat ketimuran apabila tetap dipasang ikon manusia purba dengan keadaan telanjang bulat maka kurang etis. Akhirnya tidak menimbulkan polemik ditengah kelompok masyarakat Ngawi yang notabene beragama Islam maka ikon manusia purba dihilangkan dari desain gambar.

Walaupun dihilangkan ikon manusia purbanya jelas Teguh, desain prototype versi Triyono tetap dimasukan diangkat tanpa meninggalkan nuansa purba berupa gading gajah dan sejarah tentang Ngawi. Dimana gading gajah menjuntai keatas sesuai filosofinya sebagai simbol rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan melambangkan sesuai visi Kabupaten Ngawi dimana Ngawi Sejahtera, Berakhlak Berbasis Pedesaan Sebagai Barometer Jawa Timur.

“Jadi keberadaan Tugu Kartonyono sekarang ini berupa gading gajah menjuntai keatas berbahan stainless dan meninggalkan ikon manusia purbanya itu. Semalam pukul 00.00 WIB sudah diserahkan dari pihak rekanan. Dan barang tentu akan saya tindaklanjuti dan saya laporkan ke tim PHO untuk proses selanjutnya,” pungkas Teguh Suprayitna. (pr)