Beranda budaya Merti Dusun Sidoharjo, Pusat Seni Pahat Batu di Magelang

Merti Dusun Sidoharjo, Pusat Seni Pahat Batu di Magelang

612
0

SIAGAINDONESIA.COM Suara denting palu dan pahat seakan tak pernah henti di dusun Sidoharjo desa Tamanagung Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Dusun ini semula disebut Prumpung dan merupakan “sentra seni pahat batu”.

Seni pahat batu dan nama Prumpung sudah menyatu. Artinya, seni pahat batu ada di Prumpung, sebaliknya bila mendengar nama Prumpung pengertiannya dusun pusat seni pahat batu. Nama Prumpung konon berasal dari kata “kemrumpyung”. Karena di sini tidak pernah sepi dari suara kemrumpyung-nya pahat dan palu mengukir batu-batu menjadi karya seni.

Kini seni pahat batu telah berkembang dan meluas ke desa-desa tetangga, seperti desa Keji, Pabelan dan Mungkid. Lokasinya yang strategis di jalur jalan raya Yogyakarta – Magelang, menjadi persinggahan wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur, baik wisatawan domestik maupun dari mancanegara. Di kanan kiri jalan raya di desa-desa ini, kini banyak dipajang aneka ragam hasil karya seni pahat batu.

Pada tahun 1955 warga dusun Prumpung mulai banyak yang bekerja sebagai jlagra (tukang pemecah batu). Keadaan dusun Prumpung kala itu masih sepi, para jlagra mencari batu andesit dari Gunung Merapi yang melimpah ruah di sungai Pabelan yang alirannya melewati dusun ini. Batu andesit ini lebih mudah dipahat menjadi bermacam-macam bahan bangunan rumah seperti ‘umpak’, maupun barang untuk kebutuhan rumah tangga berupa lumpang, cowek, pipisan jamu, serta kijing (batu nisan).

Kala itu di sini belum ada orang yang pandai membuat patung atau karya seni pahat batu lainnya. Diantara para jlagra di dusun ini, adalah Salim Djayapawiro dan kakaknya Wirodikromo (semua sudah almarhum). Salim Djayapawiro, pada tahun 1930 pernah bekerja pada pemugaran tangga naik Candi Borobudur yang dipimpin Van Erp.

Para putra Pak Salim dan Pak Wiro tidak puas bekerja hanya menjadi jlagra. Mereka ingin mengembangkan pekerjaan orang tuanya, tidak sekedar sebagai tukang pemecah dan pemahat batu. Artinya, mereka ingin berkarya tidak hanya membuat umpak, lumpang, kijing dan sejenisnya dengan harga yang relatif murah. Ada empat bersaudara, yaitu Dulkamid Djayaprana, Ali Rachmat, Kasrin Endraprayana dan Marto yang berniat seperti itu.

Berbekal niat mengubah nasib dan taraf kehidupan, mereka berempat pergi ke Candi Borobudur untuk melihat-lihat keindahan arca-arca, relief dan ornamen-ornamen yang menghiasi monumen raksasa dari batu andesit peninggalan Kerajaan Mataram Kuna itu.

Mereka berangkat ke Borobudur dengan berjalan kaki sejauh 11 kilometer. Sore hari mereka berangkat dari Prumpung. Petang menjelang malam hari mereka sampai di Candi Borobudur. Mereka mengamati bagian-bagian candi mulai dari bentuk utuhnya, relief, arca dan stupanya. Semuanya sangat menarik perhatian dan mengagumkan mereka. Keindahan pahatan-pahatan batu di candi ini telah menginspirasi mereka untuk meniru membuatnya.

Sejak tahun 1967 masyarakat dusun Sidoharjo menggelar acara Merti Dusun pada setiap bulan Sapar. Menurut para sesepuh dusun, Kasrin Endraprayana dan Dulkamid Djayaprana, acara ritual tradisional ini untuk ‘bersih dusun’, baik secara fisik mau pun non fisik, menghormati para leluhur cikal bakal dusun ini dan mempererat tali persaudaraan serta meningkatkan semangat gotong royong masyarakat. Cikal bakal dusun ini adalah mBah Mustopawiro dan mBah Endah, yang makamnya di pemakaman umum dusun Tejowarno.

Dalam ritual Saparan Merti Dusun ini upaya membersihkan dusun dan diri pribadi warganya dari sifat-sifat negatif dengan perlambang yang diwujudkan melarung ‘sesuker’ (kotoran) baik yang ada di dusun tersebut mau pun yang ada dalam diri warga. Sesaji larungan berupa jenang baro-baro (jenang bekatul dengan gula jawa), jenang merah-putih, jenang merah berpalang jenang putih, jenang putih berpalang jenang merah, kembang setaman, kinang, rokok dan senthir atau api. Juga ada unsur-unsur tanah, air, api dan udara yang diambil dari dusun ini.