Beranda Bisnis Impor Jagung Kesannya Dipaksakan?

Impor Jagung Kesannya Dipaksakan?

293
0
Foto ilustrasi.

SIAGAINDONESIA.COM Persoalan impor ternyata tidak pernah kunjung selesai. Setelah sebelumnya pemerintah getol mengimpor beras, gula, garam, gandum, daging, cabai, dan bahan pangan lainnya. Kini impor jagung juga direncanakan.

Sebanyak 50.000 hingga 100.000 ton jagung akan diimpor. Hal ini patut dipertanyakan, dan kesannya pemerintah memaksa impor jagung. Mengapa demikian?

Menteri Pertanian Amran Sulaiman beralasan, demi menjaga harga jagung, saat ini terjadi pergeseran di mana perusahaan biasanya mengimpor gandum untuk ternak, kini membeli jagung dari petani.

Menurutnya harga jagung harus jaga, khususnya untuk peternak, sekarang memang ada pergeseran karena biasanya dari impor gandum untuk ternak, sampai hari ini tidak ada lagi. Ada pergeseran perusahaan-perusahaan tertentu membeli jagung ke petani. Sehingga, harga jagung naik. Situasi ini harus diatasi.

Namun Amran tidak menyinggung masalah impor untuk memenuhi kebutuhan peternak. Dia hanya mengatakan akan mencarikan jagung untuk memenuhi kebutuhan peternak.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan pemerintah akan mengimpor jagung untuk pakan ternak hingga akhir tahun. Jumlah jagung yang bakal diimpor sekitar 50 ribu hingga 100 ribu ton.

Hal tersebut diketahui setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi Jumat (2/11/2018) lalu. Rapat itu dihadiri Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, dan beberapa pejabat lain.

Menurut Darmin rekomendasi impor jagung dari Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Penyebabnya karena harga jagung naik, sementara jagung itu sangat diperlukan masyarakat. Kenaikan harga jagung sendiri disebabkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak yang selama ini berasal dari gandum.

“Ya jadi jagung itu harganya kan naik, padahal itu diperlukan, dan Menteri Pertanian mengusulkan kita impor dan perlu cepat,” kata Darmin.

Impor jagung ini ditujukan untuk pengusaha kecil dan menengah yang beternak ayam petelur. Perusahaan peternakan kecil menengah, peternakan telur bukan pedaging. Kalau pedaging hasil industri. Kalau telur bikin sendiri.

Namun data Kementerian Pertanian produksi jagung nasional justru menyebut surplus alias kelebihan pasokan. Bahkan, Indonesia telah mengekspor jagung ke Filipina dan Malaysia.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Syukur Iwantoro menjelaskan Indonesia telah mengekspor 380.000 ton jagung. Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, produksi jagung dalam 5 tahun terakhir meningkat 12,49% per tahun.

Artinya periode 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta pipilan kering (PK). Sementara itu untuk luas panen per tahun naik 11,06% dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42% (data BPS).

Sementara ketersediaan produksi jagung pada November 2018 sebanyak 1,51 juta ton dengan luas panen 282.381 hektare. Bulan Desember 1,53 juta ton, dengan luas panen 285.993 hektare, tersebar di sentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontolo, Lampung, dan provinsi lainnya. 

Sementara dari sisi kebutuhan, berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15, 5 juta ton PK, terdiri dari: pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120.000 ton PK, dan industri pangan 4,76juta ton PK.

“Artinya Indonesia masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK, dan bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Filipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton,” kata Syukur.

Dia menambahkan secara umum produksi jagung nasional saat ini sangat baik. Di wilayah Indonesia Barat panen terjadi pada Januari-Maret, mencakup 37% dari produksi nasional. Sedang ke wilayah Indonesia Timur, panen cenderung dimulai pada bulan April-Mei. Sentra produksi jagung tersebar yang di 10 Provinsi yakni, Jatim, Jateng, Sulsel, Lampung, Sumut, NTB Jabar, Gorontalo, Sulut, Sumbar total produksinya sudah mencapai 24,24 juta ton PK.