Beranda Headline Merindukan Rendra

Merindukan Rendra

324
0
Soetanto Soepiadhy.

Oleh: Soetanto Soepiadhy

SIAGAINDONESIA.COM Kita semua kangen. Kita semua rindu. Karena di balik sosok yang hebat, memesona dan cemerlang, ia pribadi yang selalu tersenyum dan jenaka. Kita semua kehilangan. Kita semua tergagap. Kita semua sepertinya kehilangan panutan dalam proses pendewasaan kita, berkebudayaan di negeri besar, kaya dan indah ini untuk rentang waktu ke depan.

Kita semua tercekat, lantas baru menyadari betapa pentingnya sosok Rendra setelah kematiannya 9 tahun lalu, utamanya bagi usaha memajukan peradaban negeri yang masih belum berbudaya sempurna ini. Negeri yang belum matang demokrasinya dan negeri yang dipenuhi banyak kegaduhan dan kekerasan. Negeri yang belum selesai dengan dirinya.

Sehingga menjadi kewajiban kita bersama untuk sesegera mungkin merumuskan, bagaimana wajah negeri tercinta ini ke depannya. Apakah negeri ini di tahun 2045—ketika seratus tahun usia kemerdekaannya nanti—Menuju Berkah atau Menuju Musibah? Wallahua’lam …

Tapi seperti kata Rendra: “Cucu–cucuku, zaman macam apa, peradaban macam apa yang akan kami wariskan kepada kalian. Kami adalah angkatan pongah, besar pasak dari tiang. Kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan, karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu, dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini. Maka rencana masa depan hanyalah spekulasi keinginan dan angan-angan. Bangsa kita kini seperti dadu terperangkap di dalam kaleng hutang yang dikocok-kocok oleh bangsa adi kuasa tanpa kita bisa melawannya”.

Itulah beberapa keping kalimat dari sajaknya Rendra yang sangat terkenal: Maskumambang. Tampak sekali di situ kekecewaan Rendra terhadap penguasa yang digambarkan sebagai angkatan pongah, besar pasak dari tiang.

Dan kenyataannya, memang bangsa kita kini seperti dadu terperangkap di dalam kaleng hutang yang dikocok-kocok oleh bangsa adi kuasa tanpa kita bisa melawannya. Dengan catatan hutang spektakuler dan mengerikan seperti itu, kita menduga, kalau tidak ada pembenahan dari pemerintah secara cepat, cerdas, dan tidak ada perubahan, maka di 2045 itu negara kita akan menuju musibah.

Prediksi Rendra seperti dalam sajaknya itu, sesungguhnyalah lahir dari pengamatan yang tajam dan olah batinnya yang tinggi. Sebagai budayawan yang telah melewati tiga zaman: Kemerdekaan, Orde Baru dan Reformasi, selayaknya memperoleh perhatian pemerintah secara serius. Bahwa apa yang disampaikannya lewat sajak Maskumambang itu, juga sajak-sajaknya yang lain, yang penuh kritik tajam, seperti: Sebatang Lisong, Orang-Orang Miskin, Orang Kepanasan, dan Pamflet Cinta, adalah untuk kebaikan negeri ini.

Dalam salah satu sajaknya, Rendra berkata: Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi/maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam//Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan//Tidak mengandung perdebatan/Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan//

Di sinilah kecemerlangan Rendra, yang mungkin tidak dimiliki seniman-seniman seangkatannya. Beberapa pertanyaan signifikan muncul: Apa yang membuat Rendra sedemikian cemerlangnya, sehingga sebagai bangsa kita merasa sangat kehilangan dengan kematiannya itu? Seberapa penting posisi mendiang Rendra dalam khazanah seni dan kebudayaan Indonesia modern? Dan banyak lagi pertanyaan dan kesaksian lain-nya yang bisa kita tampilkan di sini.

Yang pasti, semua pertanyaan itu muncul karena kebesaran dan kelapangan hatinya. Itulah yang membuat Rendra memiliki ketajaman berbeda dalam membaca kehidupan, juga dalam membaca Indonesia secara bernas.

Sekarang ini, terbaca jelas, adanya ancaman nyata terhadap kehidupan rakyat kita yang bukan lagi “jaring laba-laba”: yang menghalangi kebebasan menyampaikan pendapat. Tapi sebuah sistim ekonomi yang melegitimasi dominasi asing. Sebuah kediktatoran baru yang ditegakkan, yakni kekuasaan segelintir pemodal atas nasib mayoritas manusia.