Beranda featured 212, Pertanda Indonesia yang Membebaskan Al Aqsa

212, Pertanda Indonesia yang Membebaskan Al Aqsa

672
0
Reuni 212.

SIAGAINDONESIA.COM Seorang ulama dari Palestina menghadiri Reuni 212. Namanya Taisir Hamdan. Ia menyampaikan pesan untuk peserta Reuni 212. Melalui penerjemah. Katanya, ia siap membebaskan Al Quds, Masjidil Aqsa dan Palestina dari Israel.

Hamdan mengaku telah dipenjara selama lebih kurang 20 tahun oleh Israel. Saat mendekam dalam sel, ia berhasil meraih gelar S-1-nya.

“Ketika 20 tahun kami dijebloskan dalam penjara, kami dibebaskan ketika ada perjanjian penukaran tahanan. Ketika itu beliau bersama 500 tahanan Palestina di Israel dan seorang tentara Israel yang diculik, beliau di antaranya mendapat gelar S-1 dalam penjara,” katanya.

Masih melalui penerjemah, Hamdan menunggu kontribusi peserta reuni 212. Peserta ditunggu berkontribusi untuk pembebasan Al Aqsa. Menurutnya, yang nantinya menjadi pembebas Al Aqsa adalah bangsa Indonesia.

“Palestina dan Al Aqsa menunggu kalian untuk membebaskan Al Aqsa. Sesungguhnya Palestina dan Al Aqsa menunggu keterlibatan kalian untuk membebaskan Al Aqsa,” tutur Hamdan.

Kata-kata Hamdan bahwa Indonesia yang dapat membebaskan Al Quds bukan bualan. Soal siapa pembebas Palestina, hal ini pernah disampaikan Rasulullah yang menyatakan, bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka.

Wakil Ketua Rabithah Ulama Palestina, Syaikh Dr. Abu Bakr Al Awawidah mengatakan, bangsa muslim dari Timur adalah Indonesia.

Dulu para ulama mengira daerah Timur itu adalah Khurasan, dan Daulah Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah Umawiyah.

Tapi dunia Islam ternyata membentang dari Maghrib; dari Maroko sampai Merauke. “Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam,” katanya Syaikh Al Awawidah.

Menurut dia, tugas umat muslim di tanah air hanya mencukupi syarat syarat untuk membebaskan Al Quds. Dan, ia melihat tanda-tanda itu sudah muncul di Indonesia.

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaalah.”

Bersatunya umat Muslim Tanah Air dalam Reuni 212, bisa menjadi tanda-tanda kejayaan Islam. Gerakan ini kian membesar. Jutaan umat hadir. Mereka tidak lagi sembunyi-sembunyi menyuarakan kebenaran Islam.

Tuduhan umat Islam radikal, intoleran, anti Pancasila, teroris, dilawan dalam senyuman dan tangisan di Reuni 212. Umat datang dan berbicara dengan perilaku di 212. Mereka bukan perusak negeri, dan rumput pun tidak ada yang dirusak.

212 bahkan menginspirasi negeri tetangga Malaysia dengan membuat gerakan serupa bernama daulat 812. Tujuan 212 dan 812, sama-sama menggelorakan semangat persatuan, semangat ukhuwah Islamiyah, sama-sama menjunjungi tinggi agama, bangsa dan tanah air. Inilah tanda-tanda kejayaan Islam, seperti kata Syaikh Al Awawidah. Dan, Indonesia pelopor kebangkitan itu.

Memimpin penzhahiran agama Allah

Sebelumnya ada berbagai telaah yang menyatakan bahwa persoalan Palestina takkan selesai sampai bangsa Arab bersatu. Bagi Syaikh Al Awawidah, tidaklah ditafsirkan demikian.

“Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

Syaikh Al Awawidah kemudian membeberkan, pada kurun awal, Allah memang memilih Bangsa Arab. Dipimpin Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan beberapa penguasa Daulah Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allah pun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.