Beranda featured Ilmu Ekonomi Nabi Yusuf

Ilmu Ekonomi Nabi Yusuf

862
0
Sandiaga Uno.

SIAGAINDONESIA.COM Sandiaga Uno berjanji akan memulihkan kondisi perekonomian Indonesia dengan menerapkan ilmu Nabi Yusuf bila kelak terpilih sebagai wakil presiden dalam kontestasi Pilpres 2019. Apa maksudnya?

Pernyataan ini disampaikan Sandi saat berdialog dengan pelaku ekonomi dan enterpreneur Jatim di Surabaya, Selasa (4/12/2018). Ia berjanji akan memulihkan kondisi ekonomi dalam waktu 3 tahun bersama Prabowo Subianto.

“Kalau Nabi Yusuf butuh waktu 7 tahun untuk mengatasi krisis. Insya Allah, saya bersama Pak Prabowo cukup 3 tahun untuk memulihkan perekonomian Indonesia,” katanya.

Sandi selama ini memang dikenal menyukai kisah-kisah para Nabi untuk dijadikan rujukannya. Salah satunya Nabi Yusuf yang lihai sangat inspiratif dan lihai dalam mengatur perekonomian negara. Nabi Yusuf bisa mengatasi krisis pangan dan kekeringan di masa kenabiannya. Yang paling menonjol dari Nabi Yusuf adalah kecerdasannya dalam mengantisipasi krisis serta sifatnya yang jujur dan amanah.

Bagaimana cara Nabi Yusuf mengatur perekonomian negara? Sebenarnya ada rumusan yang bisa dipetik dari kisah Nabi Yusuf. Rumus itu bisa lihat di QS 12:47 saat Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.

Rumus selanjutnya bisa lihat di QS 12:55 saat Yusuf berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”.

Ayat pertama bicara soal produktifitas, investasi, kemandirian, dan penghematan. Yusuf paham bahwa Mesir saat itu sedang menghadapi ketidakstabilan alam dan berdampak pada ketidakstabilan ekonomi serta kelaparan massal.

Selama masa kesuburan, Yusuf rutin melakukan penyuluhan ke rakyat tentang beberapa hal yang bisa menyelamatkan masyarakat dari kelaparan massal. Menurut Dr. Sa’id Marthan dalam kitabnya yang berjudul Madkhalu li al-Fikri al-Iqtishadiyi fi al-Islami, setidaknya terdapat tiga hal penting dari penyuluhan tersebut.

Pertama, Yusuf menjelaskan pentingnya menabung hasil panen (berperilaku hemat dan tidak konsumtif) sebagai investasi, terutama makanan pokok masyarakat yang ketika itu adalah gandum. Cara menabung gandum yang disuluhkan oleh Yusuf adalah dengan tidak memutus biji gandum dari tangkainya agar gandum tidak mudah membusuk dan rusak.

Kedua, Yusuf melakukan ajakan untuk mengendalikan tingkat konsumsi. Yusuf mengarahkan masyarakat agar berhemat dan memanfaatkan makanan sebaik mungkin. Prinsip swasembada pangan dalam jangka panjang, minimal tujuh tahun ke depan, perlu menjadi komitmen bagi semua, terutama pemimpin bangsa, agar ketahanan nasional tidak mudah goyah dan gonjang-ganjing, hanya karena nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi.

Ketiga, Yusuf menginginkan dibangunnya lumbung umum oleh pemerintah yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan makanan selama masa ketidakstabilan. Selain membangun lumbung, pemerintah juga diminta untuk mengatur dan mengelola lumbung tersebut seefisien mungkin. Inilah manajemen ketahanan pangan yang berorientasi futuristik, dibarengi dengan etos menyimpan atau menabung dan mengelola stok pangan yang memadai untuk jangka panjang.

Hasilnya, ketika paceklik menimpa daerah Mesir dan sekitarnya, kebijakan-kebijakan yang dilakukan Yusuf menuai hasil. Masyarakat terbebas dari kelaparan massal dan Mesir menjadi negara termakmur dibandingkan dengan negara-negara lain di sekitarnya.

Ayat kedua bicara soal amanah dan kompetensi. Untuk menjadi seorang pemimpin yang amanah, tidak hanya butuh pencitraan melainkan juga sosok tersebut kompeten di bidangnya. Sosok kompeten itu harus paham manajemen ekonomi terutama ketahanan pangan. Sehingga tidak ada pemimpin bangsa yang gampang menggadaikan aset dan kekayaan kepada pihak asing, dan agar tidak hobi impor sembako sebelum mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini.