Beranda Kolom Generasi Milenial di Era Revolusi Industri 4.0

Generasi Milenial di Era Revolusi Industri 4.0

445
0
Soetanto Soephiadhy.

Oleh: Soetanto Soephiadhy

SIAGAINDONESIA.COM Bagaimana cara kita menemukan pahlawan masa kini? Ke mana kita mencari pahlawan yang menjawab tantangan masa kini, dan mengangkat Indonesia sebagai bangsa yang beradab? Harus ditemukan dalam jiwa anak-anak Indonesia. Dan diyakini, di sinilah tumpuan harapan bangsa. Mereka, anak-anak, adalah heroes in the making. Mereka sedang dalam perjalanannya untuk menjadi jawaban bagi tantangan bagi generasinya. Anak-anak Indonesia masa kini inilah sebagai generasi milenial.

Generasi milenial punya tantangan menyambut Revolusi Industri 4.0 dan bonus demografi tahun 2030. Era Revolusi Industri keempat sebenarnya sedang Indonesia tapaki yang ditandai dengan digitalisasi. Dari sistem belanja daring sampai pembayaran uang elektronik (e-money).

Bonus demografi (demographic bonus) adalah kondisi yang menguntungkan bila dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan. Bonus demografi ini sesungguhnya suatu kesempatan yang sangat langka. Hal ini terjadi bila suatu masyarakat atau bangsa berhasil mengubah struktur umur penduduknya dari berbentuk piramida menjadi bentuk kubah dan kemudian berubah lagi menjadi bentuk granat. Dalam perjalanan perubahan itu, akan bisa dihitung berapa banyak penduduk yang berusia produktif (15-59 tahun) dibanding yang berada di usia tidak produktif (0-14 tahun, ditambah 60 tahun ke atas). Bila suatu bangsa struktur umur penduduknya piramida atau granat maka 100 penduduk usia produktif akan disertai dengan 70-80 atau lebih penduduk usia tidak produktif. Hanya bedanya, kalau pada bentuk piramida yang banyak adalah anak-anak (0-14 tahun ), dalam bentuk granat yang banyak adalah lansia (60 tahun ke atas). Suatu masyarakat dikatakan mengalami bonus demografi bila berada dalam struktur yang berbentuk kubah tadi, yakni 100 penduduk usia produktif hanya diimbangi oleh sekitar 40-50 penduduk usia tidak produktif.

Dari kajian beberapa peneliti, generasi milenial cenderung unik dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Keunikannya terletak pada penggunaan teknologi dan budaya pop/musik yang sangat kental. Karenanya, milenial seakan tidak bisa lepas dari internet, hiburan (entertainment), serta traveling. Milenial — yang sangat kreatif dan percaya diri — lebih suka bekerja keras dalam bidang usaha yang digeluti, untuk kemudian dinikmati dengan perjalanan panjang dan pengalaman. (Munawir Aziz, 2018).

Komposisi penduduk Indonesia, 90 juta milenial (20-34 tahun), dengan total fertility rate (angka kelahiran) 2,28 (per 1.000 orang per tahun), dan angka kematian anak 24 (per 1.000 kelahiran), meski angka harapan lama sekolah masih 12,72 tahun. Artinya, generasi milenial seharusnya memiliki peran penting untuk masa depan negeri ini. Wajah masa depan Indonesia tergantung dari visi, interaksi, dan nilai-nilai yang diserap generasi milenial negeri ini.

Untuk itulah, Making Indonesia 4.0 mencerminkan kesungguhan negara sedang beradaptasi dengan ragam perubahan besar pada era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini. Kewajiban negara pula untuk menyiapkan generasi ini menjadi angkatan kerja yang kompetitif dan produktif sepanjang era Revolusi Industri 4.0 itu.

 Revolusi Industri 4.0

Adalah Klaus Schwab, ekonom terkenal dunia asal Jerman, Pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) yang mengenalkan konsep Revolusi Industri 4.0. Dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution” (2017), Schawab menjelaskan revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental.  Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi baru di antaranya (1) robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), (2) teknologi nano, (3) bioteknologi, dan (4) teknologi komputer kuantum, (5) blockchain (seperti bitcoin), (6) teknologi berbasis internet, dan (7) printer 3D. (Slamet Rosyadi, 2018).