Beranda Headline Sutradara

Sutradara

199
0
'Nyai Ontosoroh' pernah dimainkan di gedung gelanggang mahasiswa, 27 Juni 2007. Produksi Teater Institut, UNESA. Sutradara R Giryadi.

Oleh: R. Giryadi

SIAGAINDONESIA.COM Sebenarnya saya manggru-manggru untuk bicara sutradara atau penyutradaraan. Mengapa, karena kapasitas saya untuk bicara soal itu masih sangat minim. Banyak tokoh-tokoh yang layak bicara penyutradaraan, dengan bekal pengalaman yang berjibum. Tetapi karena ini sudah menjadi janji saya untuk meneruskan tulisan saya tentang naskah, maka dengan bekal yang minim saya tuliskan saja.

Tentu ini masih berkait dengan ‘hasil pengamatan’ saya selama melihat beberapa peristiwa teater, terutama dilingkungan teater pelajar. Dan tentu pula, tulisan ini sebagai refleksi bagi diri saya sendiri setelah mengalami kevakuman menyutradari, setelah produksi; Hikayat Perlawanan Sanikem atawa Nyai Ontosoroh, 27 Juni 2007 lalu. Sudah cukup lama. Selebihnya hanya menjadi wong kemeruh tentang teater…:-0

To the point saja, menjadi sutradara itu pilihan berat. Dalam struktur artistik, dia berada pada bagian paling atas. Di bawahnya tim-tim artistik lainnya. Artinya, ketika mengambil peran sebagai sutradara, kudu punya kesadaran, bakal menjadi pusat rujukan. Karena itu, seorang yang telah memilih berposisi sebagai sutradara, sudah menyiapkan visi artistiknya. Ini belum hal-hal thethek mbengek lainnya. Tetapi tidak perlu saya jelaskan disini.

Apa itu visi artistik? Visi artistic bisa berupa ide, konsep, sistem kerja untuk mewujudkan pertunjukan. Seorang sutradara memulai dengan memaparkan ide dan konsep kepada tim artistik yang kelak akan membantu mewujudkan pertunjukannya. Karena itu, seorang sutradara kudu punya kemampuan mengorganisir setiap bagian untuk menuju pada visi artistiknya.

Seorang sutradara memahami tentang penyutradaraan, menguasai seni peran, memahami seni rupa, sejarah, sastra, bahkan mungkin juga filsafat, ilmu jiwa, dan pengetahuan umum lainya untuk mendukung pekerjaan sebagai sutradara. Namun jika itu memberatkan bagi tugas sutradara, maka pihak produksi harus menyiapkan ‘tenaga ahli’ yang berkaitan dengan ‘pendalaman’ bagi keseluruhan tim yang terlibat.

Apakah itu bisa diberlakukan bagi teater pelajar? Bisa saja, tergantung bagaimana kita menyampaikan kepada tim yang mungkin pemahamannya masih jauh dari pemahaman orang dewasa. Selama ini, saya melihat, banyak permainan yang ‘robotik’, mungkin karena sutradara tidak memberi pemahamanan yang cukup; tentang aksi reaksi.

Setelah naskah ditentukan, tentu, seorang sutradara mengungkapkan hal hal yang berkaitan dengan isi naskah, mendiskusikan kepada tim artistik, tentang kemungkinan bentuk pertunjukan, sehingga dalam proses ‘pencarian’ tim artistik seperti rias/kostum, setting, musik, lampu, dll merujuk pada visi artistik sang sutradara. Namun kecenderungan umumnya, tak banyak sutradara yang mengkonsep visi artistiknya dengan baik. Hanya berdasarkan naluri dan membiarkan tim artistik bekerja sendiri-sendiri. Akibatnya, pertunjukannya centang perenang tanpa visi yang jelas.

Lebih dari pada itu, kerja sutradara adalah memilih pemain, sesuai dengan tuntutan peran yang ada dalam naskah. Ini pekerjaan gampang-gampang susah. Atau mungkin lebih banyak susahnya, apalagi ini teater pelajar atau teater mahasiswa. Beda dengan teater amatir atau professional, seorang sutradara bisa melakukan audisi peran. Tetapi bagi teater pelajar atau mahasiswa, terkendala sumberdaya –aktor-, akibatnya pilihnya hanya pada yang berminat dan yang antusias untuk berlatih. Tak heran kalau bekal keaktoran juga pas-pasan. Maklum…

Karena itu, seorang sutradara, kudu memberi arahan yang intensif kepada para pemain, yang minim pengetahuan tentang acting. Begitu juga, mungkin mereka juga baru kali pertama tampil di atas pentas. Latihan dasar tentang vocal, gerak dan olah tubuh, berlatih bloking, memberi pemahaman bahwa setiap yang dilakukan di atas panggung ada motivasinya. Sehingga anak paham apa yang dilakukan dan yang tidak harus dilakukan. Jangan dibiarkan ‘sekarepe dhewe’ bergerak dan berdialog tanpa memahami maksudnya.