Beranda Headline Sandiaga Uno, Sang Predator

Sandiaga Uno, Sang Predator

414
0
Sandiaga Uno.

Oleh: Hersubeno Arief

Presiden Jokowi mulai semakin terbuka soal penurunan elektabilitasnya. “Saya sampaikan apa adanya. Survei terakhir yang dilakukan, (di Riau) kita baru 42%. Di sana 54%. Hati-hati,” kata Jokowi saat bertemu Tim Kampanye Daerah Jokowi-Ma’ruf Riau, di Pekanbaru, Sabtu (15/12/).

Ini bukan pertamakalinya Jokowi mengakui elektabilitasnya mulai masuk lampu merah. Bulan lalu di Palembang Jokowi menyebut elektabilitasnya di Sumatera Selatan hanya sebesar 37%. Namun dia tidak menyebut berapa persen perolehan lawannya.

Elektabilitasnya bahkan juga kalah di Banten, kampung halaman Ma’ruf Amin. “Banten masih rawan,” kata Dewan Pengarah Bravo-5 Luhut Panjaitan. Bravo-5 adalah salah satu sayap kampanye Jokowi-Ma’ruf berisi sejumlah jenderal purnawirawan.

Di seluruh Sumatera yang menyumbang 21% dari total suara pemilih nasional, Jokowi juga sudah kalah. Benar secara nasional Jokowi-Ma’ruf masih unggul. Namun jaraknya dengan Prabowo-Sandi makin tipis. Tinggal hitungan jari.

Jokowi-Ma’ruf masih unggul karena ditopang oleh dua daerah yang menjadi basis kemenangannya, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dua provinsi dengan pemilih terbanyak kedua dan ketiga di bawah Jabar. Dengan trend elektabilitas yang terus menurun, sementara Prabowo-Sandi terus naik, situasinya memang sangat mengkhawatirkan.

Fenomena menurunnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf juga sangat terasa di lapangan. Beberapa acara dan kampanye yang dihadiri Jokowi sepi peserta. Dia sudah mulai kehilangan pesonanya. Jika terlihat ramai, karena adanya pengerahan massa oleh sejumlah dinas pemerintah, aparat kecamatan sampai kelurahan.

Di media sosial beredar foto-foto dan video kosongnya ruang pertemuan relawan dengan Jokowi. Peristiwa terbaru terjadi di Banda Aceh. Jokowi membatalkan pertemuannya dengan relawan di Stadion Sepakbola Harapan Bangsa Lhong Raya, karena sepi peserta. Padahal Jokowi sebelumnya meresmikan ground breaking ruas jalan tol Banda Aceh-Sigli.

Terus menurunnya elektabilitas ini membuat tim sukses Jokowi mulai saling menyalahkan. Erick Thohir Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf menyebut stagnannya —bukan turun—elektabilitas inkumben, karena Ma’ruf Amin belum banyak turun ke lapangan.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Luhut Panjaitan.”Ya belum turun. Tapi nanti, begitu beliau turun, saya kira banyak pengaruhnya.”

Dalam satu bulan terakhir Ma’ruf tidak nampak keluar rumah, apalagi berkampanye. Spekulasi yang berkembang Ma’ruf sakit berat setelah jatuh di kamar mandi dalam sebuah kunjungan ke Lampung. Namun Ma’ruf membantahnya. Dia hanya terkilir.

Karena faktor usia dan keterbatasan fisik, alih-alih mendongkrak elektabilitas Jokowi, Ma’ruf menjadi titik lemah petahana. Jokowi terkesan bekerja sendirian. Situasinya jauh berbeda dengan Sandiaga Uno yang menjadi pasangan Prabowo.

Muncul sebagai kandidat yang tidak diunggulkan, bahkan cenderung diremehkan, Sandi bermetamorfosa menjadi antitesa Jokowi. Sandi menjadi predator yang menggerus elektabilitas Jokowi. Dia memperkuat positioning Prabowo yang sangat kuat pada sisi ketegasan, dan tekadnya membawa bangsa Indonesia berdaulat, bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Sandi membuat Jokowi yang sering bergaya bak milenial, mati gaya. Tampilannya terkesan dipaksakan. Berbeda dengan Sandi yang lebih natural dan original. Seorang Habib terkenal di Jakarta menggambarkan dalam satu kalimat. “Prabowo-Sandi adalah politik apa adanya. Jokowi-Ma’ruf, politik ada apanya.” Banyak polesannya.

Erick Thohir mengakui Sandi menjadi faktor naiknya elektabilitas Prabowo. “Kalau Pak Prabowo menyumbang 20% suara, Sandi setidaknya menyumbang 10%,” ujar Erick.

Mulai tampil menyerang

Menghadapi elektabilitas yang mendekati lampu merah dan tak mau disalahkan, tim sukses memutuskan tampil untuk menyerang. “Sudah waktu kita offensif sekarang,” tegas Erick sahabat lama Sandi.

Irma Suryani Chaniago, salah satu juru bicara TKN mengaku akan mengkapitalisasi masa lalu Prabowo-Sandi. “Kita sudah nggak mau diam lagi, kita nggak mau lagi mengalah, kita nggak mau lagi ngerasa selalu harus santun.”