Beranda featured Jokowi, Jengkol, dan Pete

Jokowi, Jengkol, dan Pete

264
0
Jokowi menyarankan masyarakat tidak menanam sawit lagi, dan diganti dengan tanaman jengkol.

SIAGAINDONESIA.COM Tidak heran jika elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin terus turun. Sementara tren pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno cenderung naik. Salah satunya, masyarakat semakin sadar betapa konyol dan tidak seriusnya pemerintahan Jokowi dari waktu ke waktu.

Coba perhatikan berapa menteri yang kerap mengeluarkan pernyataan asal bunyi (asbun). Pertama, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan harga telur ayam naik karena ada Piala Dunia dan Pilkada Serentak.

Pernyataan lucu juga pernah disampaikan pada awal 2017, dimana Enggar menyebut kalau harga beras mahal harus ditawar. Kalau harga bawang putih mahal, tak usah makan bawang. Saat harga cabai mahal menembus angka 90 ribu/kg, masyarakat diminta tanam sendiri di rumah.

Kedua, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengajak rakyat untuk beralih konsumsi keong sawah saat harga daging sapi tembus Rp100 ribu/kg. Dengan entengnya Amran mengatakan keong sawah memiliki protein lebih bagus dari daging.

Ketiga, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani meminta masyarakat untuk diet dan mengurangi makan saat menyalurkan beras untuk rumah tangga miskin (raskin) di Provinsi Bali. Sangat konyol.

Keempat, Menteri Kesehatan (Menkes) Nyonya Nila Moeloek menyebut cacing boleh dimakan karena mengandung protein. Pernyataan ini menyusul penemuan BPPOM yang merilis 27 produk makanan kaleng mengandung cacing dan tidak layak makan.

Yang paling lucu, tentu bosnya sendiri, Sang Presiden. Pada April 2018 lalu, Jokowi memberi tips kepada rakyat agar cepat kaya berbisnis racun kalajengking. Menurutnya, racun kalajengking merupakan komoditas paling mahal di dunia, lebih mahal dibanding emas.

Saran yang tidak lumrah beternak kalajengking bagi masyarakat Indonesia. Kalaupun beternak kalajengking apalagi sampai mengambil racunnya, itu adalah sesuatu yang sangat mustahil. Pasalnya, selama ini belum ada pabrik ternak kalajengking. Yang ada pusat riset kalajengking di beberapa negara. Sebab disebutkan kalajengking merupakan hewan liar yang berbahaya dan tidak mau diternak. Maka, pernyataan Jokowi soal budidaya racun kalajengking merupakan sesuatu yang mustahil dilakukan dan menjerumuskan.

Terbaru, Jokowi seolah tak mau kalah dari para pembantunya. Saat harga jual kelapa sawit menurun drastis, Jokowi dengan entengnya menyarankan petani untuk beralih menanam jengkol dan pete.

Hal ini disampaikan Jokowi saat memberikan pembekalan kepada seluruh calon anggota legislatif partai politik pengusung dan pendukung di Provinsi Jambi, Minggu (16/12/2018).

Jokowi mengatakan, menurunnya harga sawit disebabkan faktor ekonomi global. Sawit sangat sulit menjangkau harga tinggi disebabkan banyaknya hasil perkebunan itu yang mencapai 13 juta hektare dan produksinya 42 juta ton.

Atas dasar itu, Jokowi menyarankan masyarakat agar tidak menanam sawit lagi. Ada baiknya menanam kopi, kulit manis, jengkol, dan pete karena harganya jualnya tinggi. “Jangan permasalahkan jengkol dan petenya, namun harganya dilihat terjangkau, karena permintaan sangat tinggi oleh negara tetangga, seperti Thailand, Jepang, Singapura, Taiwan, Hong Kong dan lainnya, sangat besar permintaan buah manggis,” kata Jokowi.

Solusi yang ngawur. Mengapa bisa begitu? Begini logikanya. Sawit, pete dan jengkol itu bukan tanaman palawija yang bisa dipanen tiga bulan dari mulai tanam. Untuk mengganti tanaman tahunan tidak semudah. Sebab tanaman palawija bukan tanaman yang bisa dipanen dalam hitungan bulan. Saat harga sawit murah, petani disuruh tanam pete dan jengkol, kalau harga pete dan jengkol murah, dan harga sawit mahal maka tanam sawit lagi.

Bukan hanya itu, dari sisi fungsinya, minyak sawit merupakan kebutuhan utama untuk minyak goreng sedangkan jengkol dan pete cuma makanan tambahan. Dengan usulan itu, Jokowi dinilai tidak paham urusan pertanian.