Beranda Headline Pathet  

Pathet  

193
0
Soetanto Soepiadhy. 

Oleh: Soetanto Soepiadhy 

Widodo Basuki dalam Pameran Lukisan Tunggal Ke 3 mengambil judul “Wayang Wewayanganing Urip“ memberi maksud untuk membuka kembali ingatan catatan sejarah kebudayan dengan menampilkan lukisan wayang dalam format yang baru. Terkait dengan pameran ini, maka sangatlah relevan di mana Widodo Basuki mengambil catatan sejarah kebudayaan yang ditampilkan dalam format kekinian, cara baru dan media baru.

UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB)  telah menetapkan, wayang kulit adalah warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Wayang kulit sebagai warisan leluhur kita yang telah diakui dunia sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Seorang bijak mengatakan, bahwa wayang is more than just wayang, more than just plays. Ia adalah metafora kehidupan, wewayanganing urip. Ia mentransenden, merupakan cara berpikir tentang hal-hal yang melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta. Sebagai contoh, pemikiran yang mempelajari sifat Tuhan yang dianggap begitu jauh, berjarak, dan mustahil dipahami manusia.

Pathet Nem

Pathet dalam wayang mempunyai peran sangat penting. Pergelaran wayang dibagi menjadi tiga pathet, yaitu Pathet Nem, Pathet Sanga, dan Pathet Manyura. Tentang pathet ini dapat dikemukakan dua pandangan, yaitu pathet dalam pagelaran wayang kulit purwa gaya Surakarta dan gaya Yogjakarta yang pada prinsipnya sama, tetapi ada perbedaan yang justru dapat memperkaya seni pewayangan dan pedalangan.

Makna Pathet Nem tidak hanya tersirat dalam pemaknaan kata nem yang bersinonim nem/mudha, namun termasuk juga dalam penyusunan musikalitas gending. Rasa gending sangat dinamis sebagaimana karakter remaja. Persoalan pathet nem itulah tergambar pada Pameran Lukisan Widodo Basuki sejak pameran pertamanya hingga Pameran Lukisan Tunggal Ke 3 “Wayang Wewayanganing Urip”.

Pathet Sanga

Secara musikalisasi, gending-gending dalam Pathet Sanga bernuansa sepi dan tenang stabil. Dalam pakeliran digunakan untuk mengiringi seorang kesatria utama menghadap Brahmana atau pendeta, merupakan gambaran bahwa pathet ini adalah awal kesadaran manusia mencapai pencerahan hidup pada apa yang disebut sepuh atau tua sebagaimana diuraikan oleh Sri Mangkunegara IV dalam Wedhatama: “Sepuh iku sepi hawa awas loroning atunggal.”

Pathet Sanga merupakan simbol manusia yang telah mencapai kesempurnaan tertinggi, bahwa sebenarnya hidup itu adalah sebagai wujud upaya manusia mendekatkan diri pada Tuhan. Kesadaran tersebut menghasilkan hati yang ikhlas melaksanakan darma dengan landasan taqwa. Apapun dan siapapun akan kembali pada Tuhan Yang Maha Esa.

Rendra pernah mengatakan manjing ing kahanan, nggayuh karsaning Hyang Widhi, “masuk ke dalam kontekstualitas, meraih kehendak Allah.” Masuk ke dalam kontekstualitas itu, menurut Rendra, bekalnya adalah rewes dan sih katresnan. Rewes adalah kepedulian. Sih katresnan adalah cinta kasih (karisma). Maka seorang yang kreatif harus selalu berusaha, agar ia selalu mempunyai kepedulian terhadap lingkungan yang mengelilingi dirinya, dari saat ke saat. Mulai dari lingkungan yang terdekat: baju-bajunya, meja tulisnya, lemarinya, negaranya, segenap flora dan faunanya, tetangganya, bangsanya, bumi, langit, samudra, alam semesta raya.

Dalam kesempatan yang sama, Rendra juga bertutur, bahwa disiplin manjing ing kahanan, nggayuh karsaning Hyang Widhi menjadi disiplin hidupnya, berkarya dalam menulis puisi. Sehingga, pada hakikatnya, puisi-puisinya adalah yoga bahasa atau dalam bahasa Rendra: Menciptakan ruang ibadah bagi dirinya.

Nah, wayang itu ya wayang. Maksudnya, seperti ucapan Gertrude Stein: “A rose is a rose, is a rose.” Dalam “Wayang Wewayanganing Urip”, Widodo Basuki dituntut untuk tidak kurang dan tidak lebih. Untuk itulah,  baik “deformasi” maupun “stilasi” sebenarnya tujuannya sama yaitu untuk menciptakan suatu karya yang lebih menarik dari pada objek aslinya.