Beranda Headline Pathet  

Pathet  

437
0

Memang, suatu karya seni lahir, berawal dari pengamatan seniman terhadap lingkungan sekitar serta adanya proses cipta, rasa, dan karsa yang bertolak dari sebuah rangsangan dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar. Baik rangsangan visual maupun gejala batin yang dirasakan merupakan gejolak ekspresi kreativitas untuk divisualisasikan ke dalam wujud karya seni.

Proses penciptaan sebuah karya seni berlangsung setelah adanya kegelisahan pada diri yang timbul dari pengalaman pribadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Kemudian lahir pemahaman baik secara rasional (pikiran) maupun secara emosional (rasa).

Proses kreatif setiap seniman memiliki ciri dan karakter yang berbeda satu sama lain. Meskipun ide yang menjadi dasar penciptaan sama, namun karya yang diciptakan belum tentu sama, karena tiap seniman memiliki pengalaman batin dan pengalaman estetis tersendiri. Dalam proses penciptaan karya seni lukis diharapkan mampu menjadi media untuk memvisualisasikan dan mengkomunikasikan segenap kegelisahan-kegelisahan yang dirasakan. Baik itu mengenai diri maupun lingkungan sekitar (sosial, politik dan budaya) kedalam bentuk cerita-cerita subyektif yang terinspirasi oleh karakter wayang.

Pathet Manyura

Perlu dikemukakan di sini tentang Suluk Pathet Manyura, sebagai suatu konklusi “Wayang Wewayanganing Urip” Widodo Basuki.

Mèh rahina sêmu bang Hyang Aruna,
kadi nétrané ogha rapuh ,
sabdané kukila ring kanigara,
sakêtêr kêkidungan ningkung,
lir wuwusing winipanca,
papêtaking ayam wana ring pagagan,
mêrak anguwuh,
brêmara ngrabasa kusuma ring parahasyan arum.

Menjelang fajar bersirat kemerahan Sang Surya,
seperti mata yang sedang sakit,
ocehan burung engkuk di pohon kanigara,
bagai rintihan -orang- yg sedang jatuh cinta,
seperti suara seruling winipanca (suling India),
kokok ayam hutan di ladang,
-suara- merak mengundang,
kumbang merusak (menyetubuhi) bunga di kamar tidur harum (indah).

Dalam segi bahasa, kata “Manyura” sebagai sinonim dari burung merak yang mangandung makna, bahwa masa tua itu adalah masa-masa wana prastha, artinya waktu manusia belajar meninggalkan kenikmatan duniawi, kemudian marak marang Gusti.

Last but not least¸ berharap kreativitas Widodo Basuki sampai pada Manyura!

Sambutan Pameran Lukisan Widodo Basuki-Surabaya, 29 Desember 2018-Galeri Prabangkara UPT Taman Budaya Jatim-Jalan Gentengkali 85 Surabaya

*) Soetanto Soepiadhy adalah Pakar Hukum Konstitusi Untag Surabaya dan Pendiri “Rumah Dedikasi” Soetanto Soepiadhy