Aksi Unjuk Rasa di DPRD Kota Blitar

SIAGAINDONESIA.COM Puluhan warga yang tergabung dalam Gerakan Pembaharuan Indonesia (GPI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Kota Blitar. Mereka mempertanyakan rekomendasi yang diberikan DPRD Kota Blitar beberapa waktu yang lalu untuk menutup Cafe Maxi Brillian, di Jalan Semeru Kota Blitar.

Puluhan massa yang terdiri dari karyawan dan warga yang terdampak akibat penutupan ini juga membawa poster berupa tuntutan dan sindiran bahwa pemerintah lebih melindungi monyet ketimbang manusia. Pemerintah dinilai tidak mendengarkan aspirasi para pekerja dan pengelola dan percaya dengan isu-isu yang beredar bahwa ada tarian striptis di Cafe Maxi Brillian. “Kita ingin pemerintah membentuk tim pencari fakta (TGF) untuk mencari kebenaran isu tarian striptis di Kota Blitar,” ungkap koordinastor aksi, Jaka Prasetya, Senin (07/01).

Jaka menjelaskan, bahwa ia meminta Pemerintah Kota Blitar untuk mengklarifikasi adanya opini di masyarakat bahwa ada tarian striptis di tempat hiburan yang ada di Kota Blitar. Bahkan Ia juga meminta pada aparat penegak hukum untuk menangkap dan mengadili aktor Intelektual penyebaran video palsu tarian striptis yang dilakukan di Maxi Brillian.

Dalam aksi ini, Supriarno selaku kuasa hukum Maxi Brillian menilai DPRD Kota Blitar melawan tatanan dasar Pancasila. Menurutnya, tindakan DPRD Kota Blitar untuk memberikan rekomendasi penutupan Maxi Brillian tidak berhikmat kebijakan sesuai sila ke-4 Pancasila. “Kalau berkhidmat kebijakan, harusnya apabila mendapatkan informasi dari satu pihak, maka pihak yang bersangkutan diajak untuk dimintai keterangan. Maka saya sebut disitu, DPRD Kota Blitar mengkhianati Pancasila,” tegasnya.

Adanya umpatan ini membuat anggota DPRD geram. Nuhan Wahyudi salah satu anggota Fraksi PPP DPRD Kota Blitar marah, saat dinilai mengkhianati Pancasila. “Siapa yang tidak Pancasilais, siapa yang tidak marah, sebagai warga negara Indonesia dinilai tidak Pancasilais,” ungkap Nuhan.

Hal senada juga diungkapkan, Sekertaris Fraksi PDIP DPRD Kota Blitar, Bayu Kuncoro yang menilai massa tidak mempunyai etika. Niatnya datang untuk menyampaikan aspirasi, namun justru memancing emosi anggota DPRD. Ia tidak terima jika dikatakan mengkhianati Pancasila, sebab sebagai wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat, ia juga memiliki sumpah untuk setia pada Pancasila. rid