Anggota DPRD Kota Blitar mendatangi Mapolres Blitar

SIAGAINDONESIA.COM Sebanyak enam anggota DPRD Kota Blitar mendatangi Polres Blitar Kota, Selasa (08/01). Mereka melaporkan seorang pengacara berinsial S, karena diduga telah menyampaikan ujaran kebencian. Keenam anggota DPRD Kota Blitar yang mendatangi Mapolres Blitar Kota yakni, Wakil Ketua DPRD Kota Blitar, Totok Sugiarto Wakil, Sekretaris Fraksi PDI-P Bayu Kuncoro, Ketua Fraksi Karya Persatuan Pembangunan, Nuhan Wahyudi, Ketua Komisi III, Agus Zunaidi, anggota Fraksi Gerindra Musfatid, Ketua Fraksi PKB Hj Rafiqoh.

Ujaran ini disampaikan S saat berorasi ketika memimpin orasi di depan kantor DPRD Kota Blitar, Senin (07/1) kemarin. “Maksud kedatangan kami, atas nama lembaga melaporkan seseorang berinisial S, karena menurut temen-temen di fraksi menyinggung denga mendiskriditkan lembaga DPRD Kota Blitar, bahwa kami dianggap tidak Pancasilais,” ungkap Wakil Ketua DPRD Kota Blitar, Totok Sugiarto di Mapolres Blitar Kota, Selasa (08/01).

Dalam laporannya, DPRD Kota Blitar juga membawa bukti rekaman saat terlapor berorasi dan saat diwawancarai oleh awak media. “Kebetulan kami juga merekamnya,” tegas Totok.

Lanjut Totok, atas nama DPRD Kota Blitar tersinggung dengan kata-kata terlapor S, karena tindakan DPRD Kota Blitar dinilai tidak sesuai dengan norma-norma Pancasila khusus sila ke-4. DPRD Kota Blitar memberikan rekomendasi untuk melakukan penutupan terhadap Cafe dan Karaoke di Kota Blitar berdasarkan hasil dengar pendapat dengan Forum Organisasi Islam Blitar Raya.

Selain hasil dengar pendapat dengan Forum Organisasi Islam Blitar Raya, rekomendasi DPRD Kota Blitar ini juga berdadarkan peraturan daerah nomor 1 tahun 2017 tentang ketertiban umum.

Seperti diberitakan sebelumnya, bahwa sejumlah warga menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Kota Blitar, Senin (07/01). Mereka mempertanyakan rekomendasi DPRD Kota Blitar kepada Pemerintah Kota Blitar untuk menutup Cafe dan Karaoke Maxi Brillian.

MaxiBrillian yang ada di Jalan Semeru beberapa waktu yang lalu digrebek Polda Jawa Timur karena diduga di dalamnya ada kegiatan prostitusi. Polda Jatim menetapkan dua tersangka dalam kasus ini. rid