Beranda budaya Mengulik Pemimpin Nusantara Pilpres 2019

Mengulik Pemimpin Nusantara Pilpres 2019

99
0
Mpu totok brojodiningrat

SIAGAINDONESIA.COM Perjalanan bangsa Indonesia selama ratusan tahun sejak jaman kuna sampai reformasi tak lepas dari peran serta para leluhur.

Meski modernisasi jaman terus berlanjut, akan tetapi secara umum masyarakat Nusantara masih tetap mempercayai konsep astrologi jawa.

Baik melalui petung pawukon maupun ramalan para pujangga agung seperti Jayabaya dan Ronggowarsito.

Menilik sejarah kepemimpin Nusantara di kutip dari serat serat kuna sangat jelas diterangkan, seorang pemimpin nusantara tidak bisa lepas dari trah para leluhur gung binantara.

Bahkan di era kemerdekaan pasca 45, hanya Soekarno yang mampu membawa perubahan dan kebebasan Nusantara menjadi negara bermartabat yang merdeka kedalam satu wadah Bhinneka Tunggal Ika, konsep kesatuan era Majapahit yang di usung Bung Karno untuk menyatukan Nusantara di masa depan

Suksesi Nusantara selama ratusan tahun selalu di warnai dengan pergolakan politik. Peralihan kepemimpin pasca Soekarno jatuh hingga reformasi tak lebih hanya untuk mengisi kekosongan kekuasaan.

Hanya saja kekuasaan di sini bukanlah kepemimpinan yang membawa bangsa Indonesia menuju kemakmuran seperti jangka para pujangga agung, melainkan hanya kemakmuran semu.

Tak terkecuali pertarungan Pilpres 2019 tahun ini, bagi Mpu Totok Brojodiningrat hanya pertarungan kepemimpinan semu, bukan mencari pemimpin yang sesungguhnya seperti di jangka para pujangga agung.

Pilpres 2019 ibarat suluk dalam pewayangan, ‘ bumi gonjang ganjing langit kelap kelap, katon lir kincanging alis, risang maweh agandrung, sabarang kadulu geger moyag mayig……’.

Suluk diatas merupakan penanda dari gambaran kondisi kedepan bangsa saat ini yg akan menggelar perhelatan akbar pesta demokrasi pileg dan pilpres yang jatuh pada hari Rabu Pahing, wuku Wayang dengan Hastawara “Brama”.

” Yang maknanya tidak sabaran, segala sesuatu di dasari emosional dan sandiwara ” “Mawulu”, artinya was was saling curiga.’ Terang Mpu Totok dalam babaranya.

Di tambahkan oleh Mpu Totok Brojodiningrat, dalam petung leluhur Nusantara khususnya jawa, watak atau sifat hari pelaksanaan suatu perhelatan akbar sudah bisa menjadi pertanda untuk menengarai peristiwa peristiwa yg akan mengikutinya, baik suatu peristiwa buruk ataupun sebaliknya. Sebagaimana contoh laut bergolak, bumi menggeliat, dalam kosmologi jawa keduanya adalah konsep Pasir Wukir, segara dan gunung yang menjadi rahim kita.

Dalam petung astrologi jawa, hasil dari perhelatan pesta demokrasi yg jatuh pada hari Rabu Pahing wuku Wayang, hampir tidak bisa merubah keadaan bangsa ini pada tataran yg lebih baik. Karena didalam jangka Joyoboyo memang belum waktunya.

Suatu saat nanti akan tiba jangka ” Gunung mendhak jurang mbrenjul” yang artinya, kelak jika sudah muncul keturunan raja gung binatara yang selama ini tidak diperhitungkan setelah tahun 2024 akan terwujud negara “Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kertaraharja”.

Karena sosok pemimpin tersebut akan menerapkan ajaran leluhur yg sudah teruji keampuhannya sejak berabad abad silam.

Konsep Catur Upaya Sandi yaitu “Somo dono bedo dendo”. Tanpa pilih kasih didalam menerapkan hukum kepada para kawula, tandas Mpu Brojodiningrar

Pada diri pemimpin tersebut memiliki perpaduan sifat Prabu Hayam Wuruk, Tri Buwana Tunggadewi dan Mapatih Gajahmada.

Calon pemimpin kedepan setelah tahun 2024 akan muncul dari bumi Wengker, timur selatannya gunung purba atau yang lebih dikenal dengan nama gunung Lawu. Mengapa didalam Para, Pura, Puri, Purana, para Empu kerap menyebut akan muncul pemimpin agung dari bumi wengker di dalam jangka.

Karena selama ini banyak yang tidak mengetahui dan menyadari, bahwa raja gung binatara di Wilwatikta adalah seorang putra terbaik dari bumi Wengker. Prabu Hayam Wuruk raja Mapahit adalah putra raja wengker.