Beranda budaya Mengulik Pemimpin Nusantara Pilpres 2019

Mengulik Pemimpin Nusantara Pilpres 2019

341
0

Pada tahun 1250 saka atau tahun 1328 M, Kalagemet atau Prabu jayanegara meninggal akibat tikaman Ra Tanca ditempat peraduannya.

Sepeninggal Jayanegara maha Patih Gajah Mada kemudian mengangkat dua putri Raden Wijaya untuk menjadi ratu Majapahit yakni Rani Daha dan Rani Kahuripan. Rani Kahuripan lantas menjadi istri Bre Wengker Batara Kertawardana.

Pada tahun 1256 saka, Rani Kahuripan dan Bre Wengker di karunia putra bernama Hayam Wuruk yang artinya ayam jantan dari timur. Kelak di kemudian hari Hayam Wuruk akan menjadi raja gung binatara yg sangat masyhur.

Didalam serat Pararaton maupun kitab Negara kertagama tidak di sebutkan angka tahun kapan Hayam Wuruk naik tahta. Hanya saja pada saat peristiwa Bubat dalam serat Pararaton dijelaskan dengan sengkalan “Sanga Turonggo Pakso Wani” (1279) saka.

Sedangkan pengganti Hayam Wuruk setelah wafat, kitab Negara Kertagama atau Kitab Desa Warnana pada pupuh 6/3 dan pupuh 7/4 digantikan oleh Wikramawardana.
Adapun petikan bunyi pupuh dalam Kitab Negara Kertagama diantaranya ‘ tan sah sri krta warddane swara pita de sri narendra dhipa…dst’.

Mangacau pada kitab kitab babonnya sejarah seperti Kitab Pararaton, Serat Kanda, Negara Kertagama serta prasasti gunung Butak, kata Mpu Totok Brojodingrat, tampak gamblang sekali bahwa keberadaan dan kebesaran Wilwatikta atau Majapahit adalah satu tarikan nafas dengan keberadaan kerajaan Wengker.

Karena fakta sejarah tidak bisa lagi ditolak, raja Wengkerlah ayahanda Prabu hayam wuruk. Tribuwana Tungga Dewi lebih mempercayakan kepada Raja Wengker untuk mempersunting Rani Kahuripan, bahkan memberikan mas kawin keris pusaka sebagai kancing gelung ( ikatan keluarga sesama kerajaan besar ).

Konsep nyakra manggilingan atau keterulangan sejarah akan terus berlaku dijagad raya ini. Sosok putra Wengker akan memegang pusara kepemimpinan dengan kekuatan batin yang lengkap laku tapa brata atau gentur tirakatnya. Juga didampingi pusaka pusaka ampuh piyandel para pemimpin nusantara jaman dahulu.

Dua kekuatan batin itulah ciri sosok ksatriya bumi Wengker, sama persis dengan konsep Kanjeng Sunan Kalijaga ketika selalu menjadi dalang di balik kesuksesan raja raja di tanah jawa sejak dari Raden Patah, Sultan Hadiwijaya Sultan Pajang sampai Panembahan Senopati pendiri Mataram islam.

Raja raja tersebut tidak lepas dari laku batin dan menyanding pusaka ampuh keris maupun tombak.

Pada pilpres 2019 tahun ini yang menjadi utama adalah menjaga keutuhan. Persatuan anak bangsa mutlak tidak bisa ditawar tawar lagi.

Para leluhur nusantara memberi wewarah atau solusi untuk menghindari potensi perpecahan dengan sebuah sesaji yg dinamakan “Jadah Suci”.

‘ Yang memiliki nilai filosofi kerekatan jiwa sesama anak bangsa, sebagaimana rekat dan lengketnya jadah atau juadah ketan putih. ” Jelas pakar pawukon yang juga pemilik padepokan keris Brojodiningrat .

Di imbuhkan, pepatah leluhur mengatakan ” Crah agawe bubrah rukun agawe santosa”, yang artinya permusuhan hanya akan menuai kerusakan dibumi.

‘ sedangkan kerukunan akan membuat bangsa ini kuat sentosa, sehingga mampu menapaki kemakmuran seperti jangka para pujangga agung ” pungkas Mpu Totok Brojodiningrat.