Beranda budaya Sarasehan di Borobudur, menggali dan mengembangkan Budaya Jawa

Sarasehan di Borobudur, menggali dan mengembangkan Budaya Jawa

286
0

SIAGAINDONESIA.COM – Kondisi generasi yang ada sekarang ini secara kultural masalah utama yang dihadapi adalah ketika antar generasi melakukan interaksi atau komunikasi. Interaksi antara generasi masa kini dengan generasi sebelumnya atau generasi tua. Generasi yang lahir setelah masa reformasi tahun 1998 terpapar secara masif dan intensif dengan teknologi informasi yang modern dan internet. Sehingga terjadi kesenjangan antara generasi tua dengan generasi muda dalam berkomunikasi. Kalau antar generasi tersebut berkomunikasi sering ‘tidak nyambung’, anak-anak semakin ‘kurang ajar’, cuek, dan semau gue. Bila anak-anak diajak bicara oleh orang tua seperti tidak mau mendengarkan, malah seperti tidak mau melihat. Asyik bermain gadget, kuping ditutup earphone. Kalau duduk pun terlihat tidak sopan. Lalu siapa yang disalahkan? Dan dengan terapi apa yang akan digunakan untuk menyembuhkan ‘penyakit’ seperti ini?
Demikian diungkapkan Prof. Dr. Dr. Soetomo W.E. M.Pd., Ketua Yayasan Studi Bahasa Jawa ‘Kanthil’ Jawa Tengah dalam Sarasehan Budaya Jawa yang bertema ‘nDhudhah, ndhudhuk saha mekar-ngrembakaaken Budaya Jawi’ yang digelar di pendapa Mandala Wisata Brojonalan, Borobudur, Kamis Pon, 3 Januari 2019 yang lalu. Sarasehan ini diikuti pejabat Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Borobudur, dinas dan instansi terkait, para budayawan, pemerhati budaya Jawa, guru dan siswa dari SMA Negeri Kota Mungkid dan Madrasah Aliyah Ma’arif Borobudur serta undangan lainnya. Sebagai moderator, Drs. Indartono M.Si, M.Par dan Drs. H. Sumardjoko MBA, MM.
Dalam paparannya Soetomo menjelaskan, menurut pendapat seorang ulama, cendekiawan dan tokoh pendidikan, Ahmad Syafi’i Ma’arif, banyak para pemikir bangsa sebenarnya telah merasakan bahwa kehidupan manusia modern mulai dilanda kehampaan spiritual. Bahkan seorang ahli filsafat Belanda, Bertrand Rassel melihat sekarang ini telah terjadi kesenjangan yang parah antara kemajuan ilmu dan teknologi dengan kemajuan moral yang jauh tertinggal. Hal ini terjadi akibat manusia modern tercabut dari akar spiritual yang paling dalam. Seorang penulis Perancis Maurice Clavel menjelaskan, gagasan besar tentang Tuhan telah terlindas selama lebih dari 300 tahun. Sehingga manusia modern tidak punya lagi rujukan moral tertinggi. Apa yang disebut ‘kearifan’ sepertinya sudah menjadi barang langka.
Sementara itu, manusia Jawa yang sebenarnya memiliki ‘toh jatining budaya’ Nusantara, karena kehilangan orientasi dan prinsip, menjadi rapuh dan rentan. Bahkan dengan senang hati ikut menari mengikuti irama kendang yang ditabuh peradaban modern (peradaban Barat) yang sebenarnya telah kehilangan jangkar transendental. Sehingga yang terjadi sekarang ini terhadap generasi milenial adalah hilangnya keyakinan dan prinsip sebagai pewaris Kebudayaan Jawa yang adiluhung. Anak-anak lupa pada Jatidiri Jawa, padahal manusia Jawa berkeinginan untuk hidup berprinsip dan harmonis. Bukan disharmonis dalam tata kehidupan yang menggunakan peradaban atau budaya bangsa lain yang dianggap modern.
Kondisi inilah yang menurut Ahmad Syafi’i Ma’arif sebagai penyakit yang kronis, sebab telah melemahkan hati nurani dan akal sehat. Bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa memiliki budaya yang kokoh sejak jaman sebelum kemerdekaan. Namun sayang, sekarang kondisi seperti itu sudah tidak ada lagi. Siapa yang disalahkan? Mengacu pada pemikiran Ahmad Syafi’i Ma’arif, yang salah adalah para elite, para pemimpin. Dia mengibaratkan, pembusukan ikan dimulai dari kepalanya, menjalar ke badan dan akhirnya sampai ke ekornya. Pembusukan kearifan di negeri ini dan juga di kalangan orang Jawa dimulai dari pemimpin dan menjalar ke bawah. Bila melihat kasus-kasus korupsi, masalah keteladanan, kasus-kasus politik, keadaannya benar-benar sudah parah.
Sebenarnya negeri ini sudah memiliki acuan karakter bangsa yang secara formal ditetapkan pada Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Namun, ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa yang seharusnya ketaqwaan secara budaya telah digeser ke arah dogmatika. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan digeser ke arah voting. Persatuan Indonesia, mulai dimunculkan issue federasi. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, mulai terlihat kesenjangan antara si miskin dan si kaya yang semakin jauh. Dan untuk Kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi ada di antara bangsa ini yang mempertontonkan sebagai manusia yang biadab. Bhinneka Tunggal Ika, sengaja dihilangkan ‘tan hana dharma mangrwa’ yang artinya kita memang berbeda-beda tetapi dharma kita tidak mendua, hanya satu yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, ternyata dilunturkan.
Karakter sebagai bangsa yang penuh toleransi, suka gotong royong, cinta bangsa, negara dan budayanya dalam kurikulum pendidikan tidak tampak. Fenomena yang dihadapi bangsa saat ini dan sangat memprihatinkan adalah mulai lunturnya kecintaan kepada Ibu Pertiwi. Generasi milenial banyak yang gandrung pada budaya Barat yang ternyata gersang, dan menganggap kebudayaan bangsa sendiri kuna, konservatif. Dan pada akhirnya kita dapat kehilangan harga diri, kepercayaan diri dan jati diri.
Untuk itu, Soetomo berpendapat, bangsa ini harus mampu mengantar generasi milenial tetap modern tetapi dikembalikan pada prinsip jati diri ‘Jawi’, bukan ‘njawi’ yang artinya luar. Dengan memanfaatkan pola pendidikan seperti Bela Negara dan Pancasila, dapat bijak dalam mengantar generasi milenial untuk modern, tetapi tidak tercabut dari jangkar spiritual, berprinsip dalam kebersamaan, toleransi dan harmonis. Hal ini untuk mendorong lahirnya kehidupan sosial-spiritual guna ikut memayu hayuning buwana, bangsa, budaya dan negara demi kesejahteraan kehidupan bangsa.- Ask