Beranda Headline Buku “Kembalikan Harum Citarum” Menjawab Kritikan Dunia Sebagai Sungai Terkotor Sedunia

Buku “Kembalikan Harum Citarum” Menjawab Kritikan Dunia Sebagai Sungai Terkotor Sedunia

225
0
Buku "Kembalikan Harum Citarum" karya Joko Irianto Hamid.

SIAGAINDONESIA.COM Dua wartawan asal Surabaya, Joko Irianto Hamid dan Esa Tjatur Setiawan menulis buku paparan jurnalistik hasil telisik prajurit TNI berjudul “Kembalikan Harum Citarum”. Di sini penulis seakan menjawab kritikan dunia internasional dimana sungai Citarum dijuluki “sungai terkotor sedunia”.

Ulasan dalam buku ini terkait perang melawan perusakan ekosistem dan pencemaran limbah industri polutan di sungai Citarum. Bagi penulis, julukan sungai Citarum sebagai sungai terkotor sedunia, telah merendahkan martabat bangsa.

“Pencemaran Citarum yang sejak 2013 divonis sungai terkotor sedunia oleh Black Smith Institute, organisasi nirlaba berbasis di New York, sangat merendahkan martabat bangsa. Ini bencana besar,” tegas Joko Irianto Hamid kepada siagaindonesia.com, Senin (28/1/2019).

Buku “Kembalikan Harum Citarum” karya Joko Irianto Hamid.

Buku setebal 380 halaman hasil telisik berbulan-bulan ini diluncurkan sebagai kado HUT BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) ke 11 dan diserahkan kepada Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo di acara pamungkas HUT BNPB ke 11 di Gedung Training Center BNPB, Jumat (25/1/2019) lalu.

Yang menarik dari buku ini, penulis tidak sendiri dalam memaparkan karya jurnalistiknya, melainkan melibatkan prajurit “Maung Siliwangi”, terutama dalam dalam menelisik kerusakan ekosistem sungai terpanjang di Jawa Barat (269 Km) hingga dapat lebel sungai terkotor sedunia.

Yah, dalam tiga tahun sebelumnya (2010) media huffington post Amerika memang memasukkan dalam kategori 9 sungai terburuk di muka bumi. Itu saat Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo menjabat Pangdam Siliwangi menjadi pelopor. Walhasil, penerbitan buku “Kembalikan Harum Citarum” mendapat apresiasi luar biasa dari Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo.

“Kami tidak mengira Kepala BNPB memberi ruang peluncuran buku di acara HUT BNPB. Berkat keterbukaannya dan menghargai peran pers saat menjabat Pangdam Siliwangi, kami tim penulis tidak banyak hambatan selama menelisik Citarum yang dipandang rendah internasional,” kata Joko Irianto, Pemred lensaindonesia.com sekaligus mantan wartawan senior Jawa Pos.

Buku “Kembalikan Harum Citarum” karya Joko Irianto Hamid.

Banyak yang diulas dalam buku “Kembalikan Harum Citarum”. Di antaranya menelisik kondisi Citarum yang mencemaskan akibat pencemaran berat limbah berbahaya yang puluhan tahun dibuang secara tidak bertanggungjawab oleh sebagian besar 1900 industri. Dan, sungai bak sampah raksasa karena menampung sampah domestik yang dibuang masyarakat di sepanjang DAS Citarum. Akibatnya, rawan longsor dan rawan luapan banjir, karena tidak ada akar yang berfungsi menyerap air hujan dan mencegah longsor.

“Sejak akhir 2017, Kepala BPNP Letjen Doni Monardo saat menjabat Pangdam Siliwangi membuat program Citarum Harum, mengerahkan 22 kolonel untuk memimpin pembersihan sampah DAS Citarum dan menata ekosistem dengan membagi per wilayah sektor. Kemudian dilanjutkan pangdam-pangdam penggantinya,” jelasnya.

Ditambahkan Joko, terobosan besar Doni Monardo merupakan solusi penanganan permasalahan DAS Citarum sejak Orde Baru yang menelan anggaran lebih dari puluhan triliun, namun tidak membuat kualitas sungai membaik. Bahkan, World Bank juga menjuluki sungai terkotor sedunia.

Buku “Kembalikan Harum Citarum” karya Joko Irianto Hamid.

“Hasil telisik berbagai narasumber, semua itu akibat penanganan cenderung parsial, ego sektoral. Bahkan penanganan pencemaran,  gubernur ada yang pernah tidak digubris saat mengundang industri tekstil besar di wilayahnya. Wajar, kalau Jawa Barat gudangnya profesor dan ulama, tidak berdaya menghadapi sungai tumpuhan hidup puluhan juta masyarakat menhadi rusak berat,” ungkap Joko sembari menyebut buku digagas pegiat kebudayaan Almarhum Sys NS.