Beranda Headline Komisi E: KONI Jatim Jangan Hanya Bisa Jadi EO Saja

Komisi E: KONI Jatim Jangan Hanya Bisa Jadi EO Saja

118
0

SIAGAINDONESIA.COM  Komisi E DPRD Jatim  meminta Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansa, tetap memberikan perhatian lebih untuk dunia olahraga, dengan melakukan evaluasi mempertahankan yang baik dan meningkatkan prestasi Jatim yang sudah cukup baik di tingkat nasional.

Ini dikatakan anggota  komisi E DPRD Jatim, Yayuk Padmi Rahayu
saat ditanya harapan komisi nya   terhadap pengganti Gubernur Soekarwo ini. Yang sangat penting adalah kata Politisi Gerindra ini masalah pembibitan atlet harus menjadi hal utama, sebab saat yang muncul adalah kesan mengejar prestasi dengan membeli atlet dari provinsi lain, sehingga pembinaan cabor terkesan kurang maksimal. ” Anggaran milik KONI ini besar lho, Pakde Karwo menggelontorkan dana ratusan Miliar untuk KONi Jatim,  Jangan lantas dengan dana besar ini KONI hanya jadi EO ( event organizer) tapi juga melakukan pembibitan, jangan hanya yang senior senior saja yang diperhatikan, tapi  regenerasi harus diperhatikan. sebab merekalah yang nantinya akan menggantikan yang lebih senior,” tegas Yayuk Jatim ini, Jum’at (1/2/2019)

Lebih jauh Mantan Atlet peraih medali emas Pencak Silat B Putri  PON 1977 ini mengatakan dari pandangannya, demi meraih prestasi maksimal KONI Jatim harus merubah mindset nya dari gaya EO menjadi lembaga yang membina cabor cabor di kabupaten kota, “Yang saya maksud jadi EO itu adalah KONI hanya mau terima atlet mateng saja, atau kemudian ngebon atlet atlet dari luar provinsi agar bisa menang. Jangan dong jangan lalu ngebon sana ngebon sini. Tapi harus memberikan bantuan dana untuk cabor yang ada di kabupaten kota, agar yang akan berprestasi ini bisa benar benar menjadi atlet penghasil medali,” tambahnya .

Harusnya kata Yayuk malah atlet Jatim yang dijual, sebab stoknya berlebih.

Yayuk juga menyindir pola pemberian gizi atlet yang terkesan asal asalan dan kurang terprogram sehingga sulit terpantau dan terkontrol, agar bisa mencapai kebutuhan atlet yang ideal.
“Jangan hanya dikasih duit tapi gak kontrol makanan mereka. Kita gak tahu itu duit buat beli makan apa, kalau ternyata hanya makan Bakso dan mie instan bagaimana. Ini akibat pola desentralisasi,” ungkapnya.

Yayuk lantas mencontohkan saat dirinya menjadi atlet PON tahun 1977 dari pencak silat. “Kita masuk pemusatan dan dapat perhatian. dulu itu makanan diperhatikan , berapa ons daging yang harus diasup , sayur, susu semua terjamin . biar over weight tetap harus dimakan, tapi  ada tambahan latihan fisik untuk berat badan mereka tetap terjaga. itu kalau sentralisasi. jadi terkontrol,” kenangnya.

Namun Yayuk mengakui dibawah kepemimpinan Soekarwo, prestasi Jatim sudah cukup bagus,” ini bisa dilihat dari prestasi PON yang lalu, termasuk jumlah atlet Jatim yang berlaga di ASIAN GAMES 2018, yang juga sukses meraih medali untuk kemenangan Indonesia,” pungkasnya. Nang.