Beranda budaya Ruwat Rawat Borobudur Ajang Kiprah Budaya Masyarakat

Ruwat Rawat Borobudur Ajang Kiprah Budaya Masyarakat

147
0

SIAGAINDONESIA.COM – Dari tahun ke tahun acara Ruwat Rawat Borobudur yang merupakan kegiatan swadaya dari para warga Paguyuban Pecinta dan Pelestari Budaya ‘Brayat Panangkaran’, Warung Info Jagad Cleguk Borobudur, dapat terus diselenggarakan dengan kekuatannya sendiri. Nilai yang dicapai dalam kegiatan ini adalah pelestarian budayanya, bukan nilai material semata. Dalam pelestarian budaya masyarakat di kawasan Candi Borobudur, dilakukan sepenuh hati dengan menghayati warisan budaya dengan berbagai bentuk kesenian dan bentuk kegiatan lainnya yang tidak lain bertujuan untuk pelestarian. Demikian diungkapkan Direktur Jendral Kebudayaan, Hilmar Farid Ph.D, dalam sambutannya pada acara Pembukaan Dwi Windu Ruwat Rawat Borobudur, Sabtu, 9 Pebruari 2019 yang lalu.
Hilmar Farid menambahkan, mulai tahun 2020 mendatang untuk seluruh kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ini Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia akan memberikan bantuan untuk penyelenggaraan acara ini. Sehingga acara Ruwat Rawat Borobudur ini dapat berjalan dengan baik. “Saya sangat bangga kegiatan pelestarian ini dijalankan dengan cara yang sungguh – sungguh, mandiri dan swadaya. Tugas pemerintah mendukung supaya acara ini dapat berjalan dengan baik. Dan dapat diselenggarakan setiap tahun,” tambahnya.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olah Raga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Drs. Sinoeng Noegroho Rachmadi MM mengatakan, kegiatan yang diselenggarakan di Borobudur ini menjadi suatu pengejawantahan jiwa-jiwa kebhinekaan dan semangat gotong royong dengan dasar Pancasila yang sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Dari acara Ruwat Rawat Borobudur tidak hanya melestarikan, tetapi juga dapat memberikan manfaat terhadap masyarakat luas, tidak hanya di Borobudur. Dan di sinilah terdapat jiwa-jiwa yang saling peduli, saling berbagi dan saling empati. Dalam penyelenggaraan Ruwat Rawat Borobudur ini ketiga komponen tersebut masih ada di tengah kehidupan masyarakat. Dia mengharapkan, untuk penyelenggaraan acara ini di masa mendatang, pesertanya tidak hanya dari Jawa, tetapi juga dari wilayah Sabang sampai Merauke.
Ketua Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni dan Budaya ‘Brayat Panangkaran’ LSM Warung Info Jagad Cleguk Borobudur, Sucoro dalam sambutannya mengungkapkan, kalau dilihat dari kelebihan dan kekurangannya penyelenggaraan Ruwat Rawat Borobudur ini pasti ada kekurangannya. Kelompok-kelompok kesenian yang hadir mengikuti acara ini berasal dari desa yang kebanyakan petani. Nilai-nilai yang lebih mahal bagi mereka, bukanlah rupiahnya dalam menyelenggarakan acara ini, melainkan nilai pelestarian budaya, nilai spiritual dan nilai keagungan warisan budaya. “Candi Borobudur yang kini menjadi destinasi wisata merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang memiliki nilai sangat tinggi dan tidak bisa dinilai dengan rupiah,” tandas Sucoro.
Dwi Windu Ruwat Ruwat Borobudur dengan tema “Ngolah Budi lan Pangangen-angen, Murih Lestari lan Majuning Budaya” (mengolah budi dan harapan untuk lestari dan kemajuan budaya). Acara ini diselengggarakan oleh Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni dan Budaya ‘Brayat Panangkaran’ LSM Warung Info Jagad Cleguk Borobudur sejak 16 tahun yang lalu dan sampai sekarang masih lestari. Rangkaian acaranya selama tiga bulan dari tanggal 9 Pebruari sampai dengan 27 April 2019, dengan menggelar berbagai acara antara lain bakti sosial dengan membagikan bahan sayuran kepada masyarakat di sekitar Borobudur, pentas kesenian rakyat, sarasehan dan dialog budaya, festival kesenian rakyat, ritual sedekah di makam Sunan Geseng, Grabag, sanja brayat ke Purworejo, Kebumen, Bantul dan Wonosobo. Juga dilaksanakan Bhakti Puser Bumi di Gunung Tidar, ritual Jamasan Pitutur, renungan Hari Warisan Budaya Dunia, dan ditutup dengan ritual Persembahan Gunung Candi di Taman Lumbini, Taman Wisata Candi Borobudur.
Pada acara pembukaan Ruwat Rawat Borobudur ke XVI ini juga diluncurkan buku terbitan Warung Info Jagad Cleguk Borobudur berjudul ‘Imajinasi Peradaban Borobudur dari Masa ke Masa’. Buku setebal 366 halaman ini berisi kumpulan tulisan dari para penulis dengan berbagai sudut pandang terkait keberadaan Candi Borobudur sebagai warisan budaya dan jejak peradaban dunia.
Hadir dalam acara ini Dirjen Kebudayaan dan Pendidikan Republik Indonesia, Hilmar Farid Ph.D, Sekretaris PT Taman Wisata Candi Borobudur, Achmad Muchlis, Kepala Balai Konservasi Borobudur, Tri Hartono dan General Manager PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, I Gusti Putu Ngurah Sedana, para pejabat setempat dan tamu undangan lainnya. Pembukaan acara ini di bawah kerindangan pohon kenari pelataran sisi barat Candi Borobudur. Usai pembukaan RRB XVI, para peserta ruwatan berjalan mengelilingi candi satu kali putaran dan dilanjutkan dengan pentas kesenian rakyat di area parkir Taman Wisata Candi Borobudur.-ASk