SIAGAINDONESIA.COM Sebuah bangunan rumah peninggalan zaman Belanda masih berdiri kokoh di Jalan Sudanco Supriyadi, Kota Blitar. Lingkungan ini dulunya dikenal sebagai rumah bangsawan Belanda pada masa penjajahan. Hingga kini, tidak banyak bangunan yang masih utuh, bahkan beberapa bangunan di sekitar Jalan Sudanco Supriyadi sudah mengalami pemugaran beberapa kali. Kawasan ini juga menjadi kawasan rumah dinas para pejabat baik Pemkot Blitar dan pejabat pimpinan daerah di Blitar. ‎

Rumah dengan nomer 42 ini memiliki pepohonan di halaman rumah membuat suasana rumah nampak asri. Arsitektur khas belanda, dengan ciri tembok tebal sekitar 30 cm, menjadi khas bahwa rumah ini dibangun pada masa Pemerintahan Hindia Belanda.

Di rumah khas kolonial inilah, Suroto (80) adik Supriyadi tinggal. Rumah ini merupakan warisan dari Raden Darmadi, mantan Bupati Blitar 1945-1965 yang tidak lain ayah kandung Pahlawan Peta Sudanco Supriyadi. “Saya tinggal di sini sejak 2008, karena sebelumnya saya di Jakarta, Makasar, dan NTT, jadi saya pindah-pindah. Sebelumnya ditempati oleh adik saya,” ungkap Suroto, saat ditemui di kediamanya, Kamis (14/02).

Di halaman rumah orang tua Pahlawan Pembela Tanah Air (PETA), Supriyadi tertampang tulisan rumah dijual dengan luas 856 M persegi. “Iya rumah ini dijual, alasanya karena memang harus dibagi. Ahli warisnya ada 10 orang,” ungkap Suroto.

Untuk harga, Suroto tidak tahu menahu, karena untuk menjual rumah ini sudah diserahkan pada keponakanya yang ada di Kecamatan Srengat. Sementara Suroto tidak memiliki istri dan membujang hingga saat ini.

Meski Suroto tinggal seorang diri, rumah ini nampak bersih dan asri. Rumah ini memiliki enam kamar, yang terdiri tiga kamar besar dan tiga kamar kecil.

Sementara itu, Pemerintah Kota Blitar menyatakan, bahwa kawasan ini merupakan daerah cagar budaya di Kota Blitar. Meski demikian, untuk rumah peninggalan ayah Sudanco Supriyadi ini masih atas nama Darmadi. Bahkan rumah ini juga memiliki ahli waris, yakni anak-anak Darmadi.

Adanya informasi rumah Darmadi dijual, Pemerintah Kota Blitar juga ingin berupaya mempertahankan sebagai cagar budaya untuk Kota Blitar. Namun, Pemkot Blitar masih menghitung anggaran yang dimiliki untuk membeli rumah ini.

“Kita berfikir selama anggaran Pemda mampu, nanti kita beli, untuk dijadikan musium, sebagai cagar budaya,” ungkap Wakil Walikota Blitar, Santoso.

Pada malam hari ini, Pergelaran teater Pemberontakan Peta digelar di Monumen PETA Jalan Sudanco Supriyadi. Lokasi pertujukan ini berjarak 300 meter dari rumah ayah sang Pahlawan PETA. Panghegar ini setiap tahun dilaksanakan untuk mengenang dan memperingati Pemberontakan PETA yang dipimpin Supriyadi terhadap penjajah Jepang. Dalam pemberontakan ini pasukan PETA kalah dan Supriyadi hingga kini belum diketahui rimbanya. Banyak pelaku sejarah yang mengatakan Supriyadi dapat lolos dari Jepang dan masih hidup. rob