Beranda aneka Pakis, Pusat Budidaya Bunga Mawar di Magelang

Pakis, Pusat Budidaya Bunga Mawar di Magelang

328
0

SIAGAINDONESIA.COM – Mawar merupakan komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak diminati konsumen serta dapat dibudidayakan secara komersial. Mawar mempunyai nilai ekonomi yang penting sebagai bunga potong dan bahan baku minyak wangi yang digunakan industri parfum. Permintaan bunga mawar potong menduduki peringkat pertama, namun pengembangan bunga potong di Indonesia tergolong lambat karena adanya kendala dalam budidaya secara konvensional yang tergantung pada musim. Masalah kesehatan dan penyakit tanaman serta kecepatan multiplikasi yang rendah. Tanaman bunga mawar biasanya dibudidayakan secara konvensional oleh para petani.
Bagi sebagian besar masyarakat petani di wilayah Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang bunga mawar merupakan komoditas pertanian andalan yang bisa untuk menopang ekonomi keluarga. Karena bunga mawar bisa dipanen setiap hari dan sepanjang musim, dengan harga yang fluktuatif tergantung kebutuhan masyarakat dan waktunya. Budidaya bunga mawar di wilayah Kecamatan Pakis ini dikembangkan sejak tahun 1970-an. Tanaman bunga mawar di kaki Gunung Merbabu ini dapat tumbuh dan berkembang dengan baik karena agroklimatnya cocok, tanah vulkanis yang subur dan berhawa sejuk.
“Pada hari-hari biasa harga sekeranjang bunga mawar dengan berat antara 4 – 5 kilogram harganya Rp. 25.000,-/keranjang. Pada hari Rabu Pon, Kamis Wage dan Jum’at Kliwon, setiap keranjang harganya berkisar antara Rp. 50.000,- sampai Rp. 100.000,- karena pada hari-hari tersebut kebutuhan bunga mawar relatif meningkat”, jelas Manteb Sudarsono, salah seorang petani mawar di Gumelem. Dia menambahkan, pada hari-hari itu banyak permintaan masyarakat akan bunga mawar sebagai bunga tabur dalam berziarah kubur. Sedangkan pada bulan-bulan Rejeb dan Ruwah serta Syawal, kebutuhan mawar dari masyarakat meningkat tajam. Harga satu keranjang bunga mawar antara Rp. 200.000,- sampai Rp. 500.000,-. Karena pada bulan-bulan tersebut banyak orang berziarah kubur atau untuk keperluan kelengkapan ‘ubarampe’ acara ritual lainnya.
Para petani di daerah ini tidak ada kesulitan dalam menjual bunga mawar. Karena setiap pagi ada ‘Pasar Bunga Mawar’ di tepi jalan dusun Magersari desa Pakis. Di sini para petani penjual bunga mawar menggelar dagangannya. Puluhan tengkulak datang dari luar daerah membeli bunga mawar di pasar ini untuk dijual ke berbagai kota. Pemasaran bunga mawar dari Pakis ini antara lain ke kota Magelang, Muntilan, Sleman, Yogyakarta dan Purworejo.
Di wilayah Kecamatan Pakis, desa desa yang menjadi penghasil bunga mawar adalah Gumelem, Pakis, Muneng, Munengwarangan dan Banyusidi dengan jumlah petani tidak kurang dari 1.750 kepala keluarga. Mereka menanam mawar dengan cara tumpangsari (ditanam berdampingan dengan tanaman hortikultura lainnya) mau pun cara blok (seluruh lahan ditanami mawar). Meski pun mawar ditanam secara konvensional, para petani di sini membudidayakan dengan cara intensif. Artinya penanamannya tidak meninggalkan pemupukan baik pupuk kandang mau pun pupuk non-organik, dan teknik pertaniannya menggunakan mulsa plastik agar pupuk secara efisien dapat diserap akar tanaman mawar dan mengurangi gangguan tanaman gulma.
Para petani mawar di sini pun dapat ‘mengatur’ kapan bunga mawarnya akan dipanen. Biasanya dirancang agar bunga mawar dapat dipanen pada bulan-bulan di mana harganya cukup tinggi, yaitu pada bulan Rejeb dan Ruwah. Caranya, 55 hari sebelum hari panen/petik mawar, tanaman bunga mawar ranting-rantingnya dipangkas. Kemudian tanaman mawar dipupuk dengan pupuk kandang dan pupuk buatan, dengan jumlah yang seimbang.
Untuk mensyukuri nikmat atas hasil bunga mawar yang dapat untuk menopang kehidupan keluarga petani di sini, untuk pertama kalinya pada tanggal 1 Sura 1952 Be yang lalu masyarakat desa Gumelem menggelar acara ritual ‘Merti Kembang Mawar’. Acara ini atas prakarsa Manteb Sudarsono, salah seorang petani mawar yang juga Aparat Sipil Negara di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang. Acara ritual perdana yang bertujuan untuk melestarikan budidaya bunga mawar di wilayah Kecamatan Pakis ini direstui Bupati Magelang, Zaenal Arifin S.IP., yang mengharapkan agar acara ini dapat dilaksanakan setiap tahunnya untuk masa-masa yang akan datang. Disamping bisa dikemas sebagai obyek wisata budaya yang menarik, acara ini juga dapat memberi semangat kepada para petani untuk lebih intensif dalam membudidayakan bunga mawar sebagai komoditas andalan di wilayah ini.
Dalam ritual ini diusung Gunungan Kembang Mawar setinggi dua meter dan payung (songsong) mawar merah-putih. Para peserta kirab membawa bunga mawar warna merah dan putih. Perjalanan kirab dari ujung jalan dusun Gumelem Kulon menuju ke dusun Gumelem Wetan. Acara ini dimeriahkan dengan pentas kesenian rakyat Soreng, Warokan dan Rampak Buta.*** ASk