Beranda Bisnis Mahalnya Bawang Putih, Bukti Pemerintah Tak Jalankan UU

Mahalnya Bawang Putih, Bukti Pemerintah Tak Jalankan UU

452
0
Bambang Haryo, Anggota DPR RI

SIAGAINDONESIA.COM – Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo menyebut, komoditas bahan pokok yakni bawang putih yang harganya terus naik, adalah akibat kartelisasi. Dan, menurutnya pemerintah seakan diam tidak bertindak dengan cepat. Itu tidak boleh dibiarkan.

Selain ketersediaan bawang putih di tingkat pengecer yang terus menipis, harga juga terus meroket. Akibatnya, yang paling dirugikan adalah konsumen atau masyarakat kelas bawah.

“Saya menyebut, naiknya harga komoditas termasuk bawang putih akibat kartelisasi dan penipuan yang dilindungi oleh pemerintah. Ini tidak boleh dibiarkan,” kata Bambang Haryo usai memberikan ceramah di acara ‘Sosialisasi 4 Pilar’ di Gedung Mandiri di Surabaya, Sabtu (15/2/2019).

Bambang Haryo meminta pemerintah segera bergerak cepat, turun dan melakukan pengecekan kemudian mengambil tindakan tepat. Pihaknya juga mempertanyakan keberadaan dan kinerja Satgas Pangan bentukan Presiden Joko Widodo.

“Mana Satgas Pangan bentukan presiden? Itu harus turun melakukan pengecekan dan melakukan penindakan. Tetapi nyatanya satgas itu tidak ada, telah hilang dan membleh,” tegas Bambang Haryo dengan nada kesal.

Dia kembali menegaskan, kartelisasi adalah bentuk penipuan yang seakan dibiarkan oleh pemerintah.

“Padahal, sesuai UU nomor 7 tahun 2014 dan PP nomor 71 tahun 2015, ada 11 komoditas yang harus dijamin oleh pemerintah, baik soal ketersediaannya yang cukup serta harga terjangkau. Kenapa undang-undang ini tidak dijalankan oleh pemerintah,” terang Bambang Haryo yang juga pengusaha asal Surabaya ini.

DPR RI akan turun mengecek harga 

Bawang putih komoditas yang seksi

Terkait terus melonjaknya harga bawang putih pihaknya yang berada di Senayan sebagai wakil rakyat, dari daerah pemilihan Jatim 1, mengaku akan membawa persoalan itu untuk dibahas di DPR RI. Juga akan turun ke pasar, melakukan pengecekan harga.

“DPR RI akan turun untuk mengecek langsung harga komoditas pokok, termasuk harga bawang putih,” katanya, sambil membandingkan bawang putih di Tiongkok hanya 9 ribu per kilogram.

Untuk diketahui, masyarakat tengah dipusingkan dengan terus naiknya harga bawang putih, di pasar induk di Surabaya harga mencapai Rp 40 ribu per kilogram. Dikuatirkan harga itu akan terus melambung dan semakin menyulitkan masyarakat.

Misalnya, di Pasar Wonokromo Minggu, 10/2/19 lalu harga bawang putih jenis katting dari harga semula Rp 19 ribu menjadi Rp 27 ribu hingga Rp 28 ribu per kilogram.

Untuk bawang putih besar dan bonggolan harga sudah mencapai 29 ribu per kilogram. Sama dengan yang berukuran kecil lokal bonggolan, juga di angka Rp 29 ribu tiap satu kilogram. Bawang putih yang sudah dikupas Rp 45 ribu dan dijual Rp 47 ribu. Sama dengan di Pasar Pabean, Surabaya.

“Bawang putih jenis kate premium awalnya 32-33 ribu per kilogram kini menjadi 43 ribu per kilogram,” kata M Nasir salah satu pedagang.

Pemerintah Harus Jujur 

Faktanya, harga bawang putih terus melonjak dan ketersediaan semakin menipis. Padahal, seperti yang diamanatkan undang-undang pemerintah punya kewajiban menjaga ketersediaan pasokan dan kestabilan harga, termasuk komoditas bawang putih.

Hingga saat ini pasokan dari dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan. Selain sedikitnya lahan yang sesuai untuk menanam jenis bawang putih yang baik. Topografi, kelembaban dan ketinggian lahan tidak sebaik dibanding Tiongkok yang menjadi langganan impor untuk memenuhi kebutuhan pasokan.

Sementara, pemerintah juga masih menahan keluarnya surat izin impor bawang putih. Khususnya bagi importir yang dianggap tidak bisa memenuhi kewajiban tanam sebesar 5 persen dari nilai impor yang akan dilakukan.