Beranda Headline Christea Divonis Percobaan, Hakim Perintahkan Terdakwa Dibebaskan

Christea Divonis Percobaan, Hakim Perintahkan Terdakwa Dibebaskan

202
0
Terdakwa dugaan pemalsuan surat domisili Christea Frisdiantara dijatuhi hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 6 bulan oleh hakim PN Sidoarjo, Selasa (26/2/2019).

SIAGAINDONESIA.COM Terdakwa dugaan pemalsuan surat domisili Christea Frisdiantara akhirnya dijatuhi majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo dengan hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 6 bulan, Selasa (26/2/2019).

Namun demikian, dalam amar putusan yang dibacakan Ketua Majelis Hakim Djoni Iswantoro, putusan yang dijatuhkan itu tanpa harus dijalani terdakwa. Karena itu, hakim memerintahkan untuk membebaskan terdakwa.

“Majelis juga memerintahkan agar terdakwa dibebaskan dari tahanan sejak amar putusan dibacakan,” ucap Djoni saat membacakan amar putusan.

Meski hanya diputus percobaan, Ketua Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi PGRI (PPLP PT PGRI) Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) ini, tetap dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana, turut serta melakukan dengan sengaja memakai surat yang isinya atau yang dipalsu.

Surat tersebut seolah-olah benar dan tidak dipalsu yang dapat menimbulkan kerugian, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 263 ayat 2 KUHP, Junto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Pertimbangan majelis hakim menjatuhkan putusan percobaan, karena selama persidangan terdakwa bersikap sopan. Selain itu, terdakwa adalah seorang pengajar (dosen) di kampus Unikama dimana tenaganya masih dibutuhkan.

Atas putusan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sidoarjo yang melihat jauh dari tuntutan jaksa yang menuntut 2 tahun penjara, masih pikir-pikir untuk menentukan sikap akan mengambil upaya banding.

Sementara itu kuasa hukum Christea Frisdiantara, Bonaventura Sunu Setyonugroho mengatakan pihaknya masih pikir-pikir untuk melakukan upaya banding.

“Putusan hakim pada dasarnya lebih ringan dari tuntutan JPU, dan JPU pasti akan lakukan banding. Pihak kami masih pikir-pikir untuk upaya banding atas putusan itu,” ucap Sunu.

Namun demikian, Sunu menyesalkan putusan hakim yang tidak mempertimbangkan fakta di persidangan. Sunu berpendapat kliennya sebetulnya dapat dibebaskan dari segala dakwaan.

“Ada beberapa pertimbangan yang tidak mempertimbangkan fakta materiil yang muncul di persidangan, misal hasil uji forensik tidak ada, tapi berkas bisa jadi lengkap. Padahal penyidik sudah melakukan permohonan uji lab, khan laporannya Lurah. Dan Lurah tidak pernah merasa bikin surat domisili, jadi suratnya palsu. Ini yang harus dilampirkan uji labnya. Nyatanya tidak ada, dan penyidik enggan datang, karena bisa rontok itu penyidikan. Sayangnya fakta ini tidak dipertimbangkan oleh majelis,” imbuhnya.

Ada lagi pertimbangan Sunu, dalam kasus tersebut kliennya dipidana sebagai turut serta. Maka, kalau dia dipidana ‘turut serta’, artinya ada pelaku lain.

“Kalau ada pelaku lain, kenapa dia harus sendiri mempertanggungjawabkan pidana itu. Padahal sepengetahuan pak Tea soal surat domisili itu baru ia ketahui saat setelah sidang penetapan. Aartinya Julianto yang jelas berdasarkan keterangannya bahwa ide untuk menggunakan surat domisili dalam mengajukan penetapan adalah idenya dia sendiri buka pak Tea,” tegasnya.

Ditambahkan Sunu, surat domisili itu dibuat tanggal 7 Mei 2018, dan dipergunakan Julianto tanpa pengetahuan Christea pada 8 Mei 2018. Julianto pun tidak memberikan keterangan bahwa dalil-dalil permohonan yang ia buat tidak pernah dikonsultasikan kepada Christea.

“Jadi kalau ditanya, apakah adil putusan hakim? Saya jawab, ketidakadilan itu adalah keadilan itu sendiri dan keadilan itu adalah ketidakadilan itu sendiri. Sekarang tergantung dari sisi mana kita berada,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur, Agustinus Tedja, mengaku sangat kecewa dengan putusan yang dijatuhkan pada Christea Frisdiantara.

“Sebuah jargon persidangan yang tampak sekali dipaksakan dan secara substansi keadilan yang dialami pak Tea (Christea) adalah pendzoliman,” terang Tedja.