Beranda Headline Mengapa Nehe Nehe

Mengapa Nehe Nehe

192
0
Dahlan Iskan.

Oleh: Dahlan Iskan

SIAGAINDONESIA.COM Dari Udon Thani ini, dari pojok timur laut Thailand ini, saya ikuti perkembangan dunia. India-Pakistan memanas. Trump-Kim Summit di Hanoi. Cohen bersaksi di DPR. Huawei menggebrak. Pun Brexit masih bingung.

Nasib perang dagang? Entahlah. Padahal gencatan senjatanya berakhir hari ini.

Memang Presiden Donald Trump sudah menegaskan: tidak ada peningkatan tarif baru. Untuk impor barang dari Tiongkok. Menunggu pertemuan puncak Trump-Xi Jinping. Di ‘istana’ pribadi Trump. Di dekat danau besar. Di Mar de Lago, Florida. Begitu besar, luas dan indahnya ‘Istana Mar de Lago’. Yang artinya Anda tahu sendiri: sea of lake.

Trump sendiri Anda juga tahu: tadi malam meninggakkan Vietnam. Setelah dua hari bertemu pemimpin Korut, Kim Jong-Un.

Tujuan Trump hanya satu: Kim benar-benar bongkar senjata nuklirnya. Atau mungkin dua: dapat hadiah Nobel perdamaian.

Jangan sampai kalah dengan orang yang paling dibencinya: Obama.

Kok bisa-bisanya orang kulit hitam jadi presiden Amerika. Dua periode. Dapat hadiah Nobel pula. Padahal, katanya pada Cohen, mana ada negara yang tidak gagal. Bila dipimpin orang hitam.

Keinginan Kim benar-benar hanya satu: sanksi ekonomi  dicabut. Itu tergantung sikap Amerika. Kim sudah tidak sabar. Ingin membangun ekonomi negaranya.

Michael Cohen sendiri kini bikin repot Trump. Lagi asyik-asyiknya menemui Kim, Cohen bersaksi di DPR Amerika. Tegas-tegas mengatakan Trump itu rasis. Penipu. Pembohong. Di banyak hal. Soal bisnisnya di Rusia. Pencurian email-email Capres yang dikalahkannya: Hillary Clinton. Juga uang bungkam untuk wanita yang ditidurinya.

Cohen tahu semua itu. Ia begitu lama jadi pengacara Trump. “Trump itu bukan ingin membuat Amerika great again,” katanya. “Tapi membuatnya bisnisnya great again,” tambahnya.

Cohen sudah dijatuhi hukuman tiga tahun. Tinggal menjalaninya. Tanpa proses persidangan. Lantaran ia sudah mengaku salah sejak awal.

Trump sendiri buru-buru meninggalkan Vietnam. Balik ke Amerika lebih cepat.  Alasannya: tidak mau lagi bicara dengan Kim.

Trump juga tidak mau cabut sanksi. Alasannya: Korut belum benar-benar akhiri program nuklirnya.

Trump seperti ngambek. Sewot. Marah.

Makan siang bersama dibatalkan. Tandatangan kesepakatan diurungkan. Ngloyor begitu saja. Sendirian menemui wartawan.

Kim salah waktu. Salah tempat. Bertemu Trump di saat serba tidak tepat. Perhatian Trump lagi ke kesaksian Cohen.

Itulah yang utama.

Dua hal lainnya saya hanya bisa berdoa: semoga India dan  Pakistan bisa menahan diri. Dan semoga rakyat Inggris kembali berakal sehat: dalam hal Brexit.

Saya bersyukur menunda kepergian ke Pakistan. Yang mestinya berangkat Senin lalu. Saya bersyukur tiba-tiba harus ke Doi Tung, Thailand. Hari itu.

Begitu mendarat di Chiang Mai saya baca breaking news: Pakistan menutup wilayah udaranya. Lalu berita lainnya: Pakistan menembak jatuh pesawat militer India. Menangkap pilotnya.

Berarti hari itu pendaratan pesawat komersial terganggu.

Apa yang terjadi di Kashmir itu saya bisa membayangkan sangat baik. Saya pernah ke sana. Bersama Robert Lai. Teman baik saya dari Singapura itu.

Waktu itu saya lagi keliling India: Mumbai, Gujarat, Chenai, Bangalore dan Kalkuta. Masih punya waktu lowong satu hari. Saya langsung ke bandara New Delhi. Melihat papan perjalanan pesawat. Siapa tahu ada jurusan yang ingin saya kunjungi. Misalnya Uttar Pradesh, Punjab atau Kashmir.

Robert selalu keberatan dengan gaya perjalanan seperti ini. Hari itu saya memang baru setahun lewat. Menjalani operasi ganti hati di Tianjin. Tapi, sambil ngedumel, Robert  tetap ikut ke mana pun saya pergi.