Beranda Headline Mengapa Nehe Nehe

Mengapa Nehe Nehe

192
0

Kebetulan saat itu ada pesawat  jurusan Kashmir. Tepatnya ke Srinagar. Ibukota Kashmir. Akan berangkat dua jam lagi. Kami pun bergegas beli tiket.

“Tiket belum bisa dijual,” ujar petugas saat itu.

“Kenapa?,” tanya saya.

“Bandaranya masih ditutup. Tunggu info satu jam lagi,” jawabnya.

Bandara Srinagar memang ‘buka-tutup’. Tergantung keadaan keamanan Kashmir. Lagi tegang atau tidak.

Saya disuruh menunggu. Robert terus merayu saya.

Untuk tidak usah ke Kashmir. Yang terbukti lagi tidak aman itu.

“Bandara sudah dibuka. Silakan,” ujar petugas.

Kami pun membeli tiket. Terbang satu jam lebih. Ke arah utara.

Tiba di Kashmir saya mendapat info. Siang nanti kemungkinan besar bandara ditutup lagi.

Kami pun cepat-cepat cari taksi. Ingin keliling kota Srinagar. Yang di tengahnya ada danau besar yang indah. Saya ingin ke pusat  perdagangan karpetnya. Yang terkenal itu.

Ternyata kota Srinagar seperti mati. Semua toko tutup. Tidak terlihat ada lalu-lalang mobil. Tidak ada manusia melintas di jalan.

Di beberapa sudut kota pemuda berkelompok. Saling berbisik. “Mereka akan bergerak,” kata sopir taxi. Suasana mencekam.

“Mereka ingin merdeka dari India,” tambahnya.

Kami terus menyusuri pinggiran danau. Ke luar kota Srinagar. Menuju pusat perdagangan karpet. Hanya lihat-lihat sebentar. Bertanya-tanya sedapatnya.

Lalu lapar. Belum makan. Pun belum sarapan.

Tidak ada restoran buka. Saya dibawa sopir ke dalam satu gang sempit. Jalan kaki. Sepi. Mencekam. Berliku. Sang sopir mengetuk pintu.

“Ini dari Indonesia. Perlu makan,” katanya.

“Saya buatkan,” kata pemilik rumah. Laki-laki. Pakaian khas India. Atau khas Pakistan. Tepatnya: khas Kashmir.

Saya disuruh duduk di dalam rumah itu. Yang pintu dan jendelanya ditutup. Tidak ada suara apa-apa. Robert kelihatan lebih waspada.

Tuan rumah datang dengan membawa makanan: ayam masak tandoori. Satu ekor lengkap. Ukuran besar. Kami melahapnya. Tanpa nasi. Tanpa roti. Tanpa saus. Tanpa sambal. Tapi rasanya bukan main lezatnya. Enak sekali.

Mungkin karena lapar.

Saya sangat terkenang dengan kelezatan ayam tandoori Kashmir hari itu. Kelak saya sering memesan tandoori. Di negara mana pun. Kalau lagi kangen Kashmir. Tapi belum pernah menemukan tandoori selezat di Kashmir hari itu.

Saat makan itulah saya diberi tahu sopir. Bandara segera ditutup. Satu jam lagi ada pesawat mendarat. Dan akan langsung kembali.

Kami bergegas ke bandara. Beli tiket. Pesawat pun tiba. Kami boarding ke New Delhi.

Malamnya saya lihat di TV. Kerusuhan besar terjadi di Srinagar.

Minggu lalu bom bunuh diri  meledak di Kashmir. Lebih 30 orang tewas.

India menuduh Pakistan di balik pemberontak militan Kashmir. Pakistan membantah keras.

Kashmir memang selalu jadi kerikil tajam. Bagi India dan Pakistan. Sebagian wilayahnya diakui India. Masuk India. Sebagian lagi diakui Pakistan.

Masuk Pakistan. India ingin merebut yang dikuasai Pakistan. Pakistan ingin merebut yang dikuasai India. Sebagian orang Kashmir sendiri  tidak mau dua-duanya. Ingin merdeka.

Semua itu gara-gara Inggris memisahkan India dan Pakistan. Secara kurang tuntas. Seperti buru-buru. Meninggalkan masalah Kashmir. Sejak itu sudah pecah tiga kali perang. Antara India dan Pakistan.

Pemisahan India-Pakistan itu sebenarnya mengakibatkan tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah. Setidaknya salah satu yang terbesar.

Kita di Indonesia kurang mengikuti tragedi itu. Waktu itu. Seolah tidak terjadi apa-apa di sana.

Mengapa? Kita sendiri lagi mengalami tragedi. Tragedi yang tidak kalah mengerikannya: Gestapu/PKI.