Beranda Headline Lawan Terberat Jokowi Adalah Jokowi

Lawan Terberat Jokowi Adalah Jokowi

315
0
Presiden Jokowi.

Oleh: Hersubeno Arief

SIAGAINDONESIA.COM Hanya dalam hitungan hari, peta persaingan menuju Pilpres 2019 sudah berubah lagi. Pekan lalu lawan berat Jokowi adalah data, fakta yang diajukan LSM, media dan para pembantunya sendiri.

Termasuk dalam barisan ini Wapres Jusuf Kalla, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Komandan Paspampres Mayjen TNI Maruli Simanjuntak. Mereka bersatu melawan data dan fakta yang disampaikan Jokowi pada debat kedua.

Jusuf Kalla membantah Jokowi soal kepemilikan tanah Prabowo. Moeldoko dan Maruli menepis pengakuan Jokowi dia berkunjung ke perkampungan nelayan, tengah malam hanya berdua sopir.

Pekan ini Jokowi menghadapi lawan sesungguhnya. Lawan terberat yang tampaknya sangat sulit, bahkan mungkin tak bisa dikalahkannya. Lawan itu adalah dirinya sendiri.

Lho kok bisa? Peristiwa langka ini perlu dimasukkan dalam program acara TV: Replays Believe It or Not. Aneh tapi nyata. Jokowi juga bisa diusulkan masuk ke dalam Musium Rekor Indonesia (MURI), dan The Guinness Book of Record, karena banyaknya data yang salah dan over claimed yang dilakukannya.

Dalam kunjungannya ke Gorontalo, Jumat (1/3), Jokowi menantang Prabowo menunjukkan data adanya dana milik orang Indonesia yang diparkir di luar negeri, jumlahnya mencapai Rp 11.000 triliun. “Ya kalau memang ada data, ada bukti-bukti mengenai itu disampaikan saja ke pemerintah. Akan kami kejar,” ujarnya.

Perihal adanya ribuan triliun dana yang parkir di luar negeri ini disampaikan Prabowo saat pidato di hadapan para pendukungnya di Yogyakarta (27/2). Dalam beberapa kesempatan Prabowo juga pernah menyampaikannya. Dia mempersoalkan banyaknya kekayaan Indonesia yang mengalir ke luar negeri.

Prabowo sendiri mengaku mendapatkan data itu dari seorang menteri di kabinet Jokowi. Dia pernah membaca di media. Namun pernyataan Prabowo itu diragukan oleh Menko Maritim Luhut Panjaitan. “Hebat banget, saya nggak tau, saya cek dulu. Tapi nggak mungkinlah, itu angka yang sangat fantastis,” kata Luhut di kantornya, Rabu (27/2).

Para pendukung kubu paslon 01 seperti biasa segera menggoreng isu ini. Mereka menerapkan jurus andalannya, yakni menuduh Prabowo menyebarkan hoax.

“Kasihanlah kalau asal ngomong. Jangan sampai itu hanya gosip yang akan menyusahkan Pak Prabowo sendiri. Boleh ngomong, tapi harus dengan data yang valid. Karena dia capres. Omongannya adalah janjinya,” ujar Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Johnny G Plate.

Plate menduga data yang dimiliki Prabowo, merupakan jumlah harta orang Indonesia sebelum program pengampunan pajak alias tax ammensty.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Nurfransa Wirasakti juga ikut-ikutan membantah. Menurutnya, dari program tax amnesty, deklarasi (pengakuan) harta kekayaan Indonesia di luar negeri hanya Rp 1.036 T. Dari jumlah tersebut yang berhasil dipulangkan kembali ke Indonesia (repatriasi) berjumlah Rp 147 triliun.

Jadi mana yang benar?

Setelah dilacak jejak digitalnya ternyata, Prabowo benar. Dia mengutip pernyataan Menteri Keuangan yang saat itu masih dijabat oleh Bambang Soemantri Brodjonegoro.

Dari perhitungan Kemenkeu potensi uang orang Indonesia yang diparkir di luar negeri lebih besar dari Produk Domestik Bruto (GDP) Indonesia sebesar Rp 11.400 triliun. “Nah menurut perhitungan kami potensinya lebih besar dari GDP  kita. Jadi lebih dari Rp 11.400 triliun,” ujarnya.

Jumlah itu bila dikurangi dana yang berhasil dipulangkan, seperti pengakuan Nurfransa sebesar Rp 147 triliun, masih lebih dari Rp 11.400 triliun. Masih lebih besar dari yang disampaikan Prabowo.

Atas dasar itulah kemudian pemerintah menggagas tax amesty. Pengampunan pajak, dengan syarat para pemilik uang super jumbo itu membawa pulang kembali dananya ke Indonesia.