Beranda News Aspidsus Kejati Jatim Didik Farkhan: Wartawan Harus Memahami Istilah Hukum

Aspidsus Kejati Jatim Didik Farkhan: Wartawan Harus Memahami Istilah Hukum

118
0
Aspidsus Kejati Jatim, Didik Farkhan (Foto: Tudji)

SIAGAINDONESIA.COM – Banyak tambahan ilmu khususnya soal hukum yang didapat para wartawan dari Surabaya, Sidoarjo dan Gresik peserta “Upgrading Jurnalis Hukum” yang digelar Komunitas Wartawan Pengadilan dan Kejaksaan (KOMPAK) Surabaya kerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim di Kampus Universitas Muhammadiyah (UMM) Sidoarjo, Kamis (14/3/2019).

Misalnya, yang disampaikan Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim Didik Farkhan Alisyahdi, dia memberikan salah satu pemahaman soal penyebutan atau penulisan yang biasa dilakukan wartawan soal saksi dan saksi ahli.

Dikatakan, wartawan harus merubah kebiasaan menulis saksi dengan saksi ahli. Karena itu memiliki arti yang berbeda.

“Saya sering membaca wartawan menulis saksi ahli dalam memberitakan sebuah persidangan. Itu tidak ada di istilah hukum. Saksi dan ahli di persidangan, adalah dua hal yang berbeda. Kalau saksi adalah orang yang menyaksikan atau mengetahui peristiwanya. Sedangkan ahli adalah orang yang dimintai keterangan di persidangan karena terkait keahliannya. Jangan sampai salah tulis lagi,” tutur Didik, memberi pemahaman.

Alumni Fakultas Hukum Jurusan Perdata Universitas Brawijaya, Malang, itu juga mengupas istilah-istilah hukum yang mutlak harus dipahami oleh wartawan, khususnya yang bertugas di pengadilan dan kejaksaan.

Dia memberikan penekanan pentingnya wartawan memahami berbagai istilah hukum.

“Masyarakat pembaca berita saat semakin cerdas, untuk itu menurut saya wartawan juga harus terus mengembangkan pemahaman yang kemudian dituangkan dalam tulisan, soal hukum,” tambahnya.

Sebagai mantan wartawan, pihaknya mengaku memahami tidak semua wartawan tepat dalam menuliskan istilah hukum, itu lantaran rekrutmen seorang wartawan dari berbagai bidang ilmu, tidak cuma dari lulusan fakultas hukum.

“Tetapi ilmu bisa dipelajari. Wartawan yang bertugas di desk hukum hanya butuh waktu untuk menyesuaikan dan diri dengan istilah-istilah yang digunakan di pengadilan juga di kejaksaan,” terangnya.

Didik kemudian membuka latar belakang dirinya sebelum menjadi jaksa. Dikatakan, di tahun 1990-an juga sebagai wartawan di Harian Memorandum.

Dengan begitu, dia mengaku selalu memahami dan selalu menyediakan waktu untuk wartawan yang membutuh konfirmasi dari dirinya, 24 jam dirinya membuka akses komunikasi.

“Saya memahami kebutuhan wartawan, untuk itu 24 jam telepon saya selalu aktif, kecuali kalau saya sudah tidur,” katanya.

Didik, dalam perjalanan karirnya pernah menjabat Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Surabaya, dan memang dikenal dekat dengan wartawan.

“Tengah malam pun setiap kali ada wartawan telepon untuk konfirmasi pasti saya angkat, kecuali kalau sudah tidur. Karena saya pernah merasakan susahnya menjadi wartawan untuk menyelesaikan tugas membuat berita,” ujarnya.

Kini, sebagai Aspidsus Kejati Jatim, intensitas wartawan yang menghubungi dirinya semakin jarang karena bidang hukum yang ditangani tidak seluas ketika menjabat sebagai Kajari Surabaya. Dia mengaku sudah jarang dihubungi wartawan, tetapi tetap menyediakan waktu, 24 jam.

Pemateri lainnya yang turut memberikan pencerahan kepada peserta, ada pengacara Ahmad Riyadh juga dengan gamblang menjabarkan berbagai istilah hukum dan dalam persidangan.

“Banyak hal yang perlu dipahami oleh wartawan hukum. Termasuk soal fakta persidangan,” kata Riyadh.

Disambung, Ketua Dewan Kehormatan PWI Jatim, Joko Tetuko. Mereka menyajikan sesuai disiplin bidangnya dengan tujuan wartawan terus melakukan peningkatan keilmuannya.

Sebelumnya, Ketua Kompak, Budi Mulyono berharap setelah mengikuti kegiatan tersebut para wartawan yang bertugas di pengadilan dan kejaksaan tidak ada lagi yang salah dalam menuliskan istilah-istilah hukum di dalam pemberitaan.

Di akhir acara, peserta berkesempatan bertanya ke pemateri terkait hukum dan persoalannya. Tak lupa sesi foto juga digelar untuk mengabadikan kegiatan itu.Tji