Beranda Headline Novel Raja Dusta dan Dewi Kemunafikan Covernya dari Lukisan Anak Autis

Novel Raja Dusta dan Dewi Kemunafikan Covernya dari Lukisan Anak Autis

1189
0
Novel Kitab Tertutup Raja Dusta dan Dewi Kemunafikan.
Novel Kitab Tertutup Raja Dusta dan Dewi Kemunafikan.

SICOM Sebuah novel terbaru karya penulis muda Surabaya Noviyanto Aji akhirnya diluncurkan. Judulnya: Kitab Tertutup Raja Dusta dan Dewi Kemunafikan. Novel ini sejatinya ditulis sejak tahun 2008. Namun baru 2014 naskahnya bisa terbit. Butuh waktu lama untuk membuat naskah ini. Selama 6 tahun banyak perjalanan yang dilalui dalam pembuatannya.

“Awalnya saya menulis di Surabaya untuk beberapa bulan. Tapi kemudian terbentur pekerjaan, akhirnya saya merapat ke Jakarta. Tahun 2009, saya melanjutkan kontak dengan narasumber. Sayangnya, tak lama setelah itu kita putus komunikasi,” kata Noviyanto.

Di Jakarta tahun 2010, penulis tetap meneruskan menulis. Sampai kembali lagi ke Surabaya, tetapi sayangnya naskah tersebut belum juga selesai juga. Berikut pengakuan Noviyanto Aji:

Akhir 2010, saya sempat frustasi karena naskah belum juga selesai. Waktu itu saya memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi. Semula saya berpikir, biarlah naskah ini tidak jadi. Lebih baik saya buang ke laut.

Frustasi, karena saya kehabisan ide dan semangat.

Frustasi, karena orang yang menginspirasi saya menghilang.

Puncaknya pada awal bulan ketiga 2011, anak pertama saya lahir. Namanya Nagari Kanta Rafabli Indonesia. Di sini semangat saya muncul lagi untuk merampungkan naskah tersebut. Selama beberapa minggu saya berkeliling ke daerah-daerah, termasuk di Jogjakarta. Dan di Jogja ini ending buku saya buat.

Sayangnya, sepanjang tahun 2012 naskah ini mangkrak lagi karena saya terbentur kerja di media. Bahkan saya sempat mengupload sebagian naskah di kompasiana hingga 5 episode. Tapi kemudian saya tidak melanjutkan karena pekerjaan sebagai wartawan kembali menghabiskan waktu saya.

Memasuki tahun 2013, naskah pelan-pelan saya digarap dengan bantuan teman-teman layout dan grafis.

Tentang pelukis cover buku

Neneng, mungkin bagi teman-teman namanya masih asing. Bagi saya, awalnya juga asing. Sebelumnya saya tidak mengenal dia. Wajahnya pun baru. Sepintas dia tampak normal. Tapi sebenarnya dia anak tunagrahita, anak dengan kebutuhan khusus, anak dengan keterbelakangan mental, keadaan ini dikenal juga sebagai retardasi mental, itu istilah saat saya searching di Google. Tapi, bagi saya, dia biasa saja. Dia seperti kebanyakan anak-anak lain. Bahkan saat pertama kali melihat lukisannya berjudul Pose-yang dipajang di Balai Pemuda, saya seperti sudah mengenalnya cukup lama.

Neneng (tengah) diapit Kak Seto dan Kadinsos Surabaya Supomo.
Neneng (tengah) diapit Kak Seto dan Kadinsos Surabaya Supomo.

Namanya Neneng. Cuma itu, tidak ada nama kepanjangan. Mungkin juga, itu nama baru. Simpel saja. Dinas Sosial Surabaya yang menemukan Neneng pada 2009 saat ngamen di pinggir jalan, mungkin tidak tahu nama aslinya. Bisa jadi, mereka asal mereka-reka dan memberi nama ‘Neneng’ supaya mudah disapa dan dikenali. Asalnya tidak diketahui. Orangtuanya juga tidak jelas.

Oleh Dinsos, Neneng kemudian dititipkan ke Pondok Sosial Kalijudan. Bersama anak-anak terlantar, anak-anak jalanan, dan anak-anak tunagrahita lain, Neneng membaur. Dia diajari banyak hal. Neneng tidak pernah belajar di bangku sekolah. Dia, hanya diajari ilmu non akademisi. Seperti, melukis, memasak, membuat kue, menari, dan menyanyi.

Meski begitu, Neneng layak menjadi contoh bagi anak-anak seusianya. Dia berhasil menunjukkan bakatnya pada dunia. Lukisannya yang acak kadul (orang awam melihatnya), tak pelak banyak orang menaruh ‘hormat’ pada anak berkebutuhan khusus berusia 14 tahun tersebut. Salah satunya: saya.

Saya mengenal lebih dulu karyanya dibanding orangnya (Neneng). Ceritanya, saat itu saya sedang bingung mencari cover untuk buku ini. Semua isi sudah dilayout, tapi untuk cover tak kunjung selesai. Malahan saya sempat minta dibuatin teman-teman grafis di Jakarta untuk cover, ya itu, kok masih belum pas antara cover dengan isi. Sampai-sampai saya frustasi untuk tidak melanjutkan penggarapan buku ini. Sempat sih berpikiran untuk menggunakan lukisan untuk cover buku, tapi siapa yang mau melukis buat saya. Memang, saya mengenal beberapa pelukis, namun sewaktu melihat karya mereka, semuanya perfect, terlalu sempurna, terlalu apik. Sementara, saya tidak butuh kesempurnaan.