Beranda Headline Cowok Cewek Bebas ‘Nyampur’ di Kos-kosan Babarsari

Cowok Cewek Bebas ‘Nyampur’ di Kos-kosan Babarsari

74082
ilustrasi.
ilustrasi.

Di Babarsari terdapat ribuan kos-kosan. Sekilas tampak seperti wisma atau mungkin hotel. Setiap kos-kosan menawarkan jasa kamar menggelitik. Ada kos cewek, ada pula kos cowok. Bahkan ada kos campuran; cewek cowok. Statusnya bebas dimasuki siapa saja.

Sepintas, suasananya tidak jauh berbeda dengan kawasan perkotaan lain. Kendaraan lalu lalang tak pernah berhenti. Berbagai macam jenis usaha ada di sepanjang jalan. Ketika masuk kawasan pemukiman, juga banyak rumah penduduk sekaligus juga tempat-tempat kos dan segala macam jenis usaha yang dibutuhkan para penghuni kos.

Namun di balik semua itu, ternyata, wow…! Berbagai macam kenikmatan dunia ada di sana. Berbagai macam perilaku manusia, baik maupun buruk, juga bertebaran di sana. Meski berada di wilayah Kabupaten Sleman, tetapi nuansa pedesaan tidak ada.

Dua muda mudi di depan kamar kos sudah tidak sabar ingin memadu kasih.
Dua muda mudi di depan kamar kos sudah tidak sabar ingin memadu kasih.

Itulah kesan yang muncul kalau kita menyusuri kawasan Babarsari. Bahkan yang mencolok adalah suasana kota besar dengan gemerlapnya jika di waktu malam, khususnya di sepanjang pinggir jalan Babarsari sampai Seturan. Kawasan ini memang tidak pernah sepi. Suasananya selalu hidup sepanjang hari.

Ada lebih dari 10 universitas maupun perguruan tinggi yang berdiri di kawasan Babarsari dan Seturan. Tak hanya puluhan kampus, sejumlah hotel mewah bintang 5 juga terdapat di kawasan Babarsari dan Seturan. Selain sejumlah hotel berbintang, terdapat pula sejumlah tempat hunian mulai dari apartemen, asrama, hotel melati, guest house, hingga pondokan atau penginapan. Sementara ribuan kos-kosan baik ekslusif maupun rumahan tersebar merata di hampir seluruh wilayah pada dua kawasan tersebut.

Namun tidak sedikit pula beberapa rumah kontrakan disewakan untuk mahasiswa dan mahasiswi yang mau patungan. Sewa setahun, bebas menggunakan dengan siapa saja. Warga di sekitar seolah tidak mau mendengar apa saja yang mereka lakukan di sana.

Ada satu kos-kosan yang lumayan megah. Dari luar terpampang papan besar. Wisma kos ANU. Rata-rata yang menghuni kos adalah mahasiswi. Kenalan Fenomenal yakni Ranita mengajak masuk ke dalam.

“Kita mampir dulu ke sini,” celoteh perempuan ini.

Rupanya ada salah satu teman Ranita yang indekos di wisma tersebut. Sebut saja Silvi. Usia sama dengan Ranita, 23 tahun. Dia orang Wonosobo.

Sebelum tiba di kamar Silvi, alamak, sebuah pemandangan yang tidak bisa terlihat di mata. Puluhan perempuan cantik dan bahenol berkeliweran. “Mereka semua mahasiswi,” kata Ranita.

Dandanan mereka terkesan sangat vulgar. Hanya mengenakan celana pendek di atas lutut. Pahanya yang putih dan mulus sengaja diumbar. Pun pakaian mereka terkesan seenaknya. Mereka hanya mengenakan tank top yang tipis, ada juga yang ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.

Mereka berjalan hilir mudik. Keluar masuk ke kamar kos satu ke lainnya. Mereka tak peduli dengan kedatangan tamu laki-laki. Mereka cuek saja. Tidak ada keinginan untuk menutupi beberapa bagian tubuhnya karena malu. Sepertinya, hal itu sudah biasa.

Ranita mahasiswi yang indekot di Babarsari.
Ranita mahasiswi yang indekot di Babarsari.

“Bagi maskaranya dong,” teriak salah seorang dari mereka ke teman kosnya.

“Sayang, aku mandi dulu ya, kamu tunggu dulu,” kata seorang lagi kepada seseorng di dalam kamarnya, barangkali pacarnya.

“Apa semua seperti ini?” tanya Fenomenal ke Ranita.

“Seperti yang kau lihat,” jawab Ranita.

Kos-kosan itu memiliki jumlah kamar setidaknya 20-30. Cukup banyak. Setiap kamar rata-rata berukuran 5×5 meter. Setiap kamar terdapat tulisan nomor. Mirip hotel saja. Pun tamu bebas keluar masuk ke kamar putri. Baik tamu perempuan atau laki-laki.