Beranda budaya Perkawinan Ghaib Bagus Kodok Dengan Peri Setyowati Gemparkan Ngawi

Perkawinan Ghaib Bagus Kodok Dengan Peri Setyowati Gemparkan Ngawi

20343
0

SICOM Rencana perkawinan yang tidak lazim sebagaimana mestinya cukup mengemparkan di wilayah Ngawi. Perkawinan yang bakal digelar pada Rabu pecan depan, (08/10), di rumah tua milik Bramantyo Prijosusilo Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Ngawi, cukup unik memiliki kekuatan mistis.

Dimana perkawinan yang dikemas dengan adat Jawa dan dianggap sakral tersebut bukanya menyatukan hati antar jenis yang dapat dilihat dengan kasat mata seperti pengantin lainya. Tetapi kali ini pengantin putrinya tidak lain bagian dari makluk halus dengan sebutan Peri Roro Setyowati dari Alas Ketonggo di Kecamatan Paron, Ngawi, sedang pasanganya Bagus Kodok atau nama komplitnya Bagus Kodok Ibnu Sukodok dari Jawa Tengah.

Menurut Sihmanto Kepala Desa Sekaralas saat ditemui media membenarkan kalau diwilayahnya bakal terjadi perkawinan dengan adat Jawa antar dua alam. “Kemarin Pak Bramantyo selaku penyelenggara perkawinan sudah kesini mengundang kami berikut minta izin keramaianya berikut ke Polsek Widodaren juga. Dan itu bener-bener pernikahan hanya saja bagi kita seperti ini mungkin tidak akan melihat wajah langsung dari pengantin putrinya,” terangnya, Jum’at (04/10).

Bahkan dia mengatakan segala perlengkapan perkawinan sudah dipersiapkan baik dari penyelenggara sendiri maupun lingkungan seperti kursi. “Untuk kursi sudah dipersiapkan termasuk dari kantor desa sini. Sedang untuk pengamanan supaya perkawinan tersebut lancar Linmas desa sini sudah siap bilamana dibutuhkan,” urai Sihmanto.

Perkawinan ghaib antara Bagus Kodok dengan Peri Roro Setyowati tersebut cepat menyebar dari mulut ke mulut hampir ke sebagian besar wilayah Ngawi akibat sebagian warga menilai tidak masuk akal. “Kalau dinalar dengan kemampuan kita yang terbatas memang tidak masuk akal. Tetapi bagi mereka yang mempunyai kemampuan yang dapat berhubungan dengan sesuatu yang bersifat ghaib itu sangat wajar dan hal biasa. Kalau saya pribadi lebih menilai perkawinan itu nyata dan ada meski yang satunya dari alam lain (ghaib-red),” kata Kasmiyanto warga setempat.

Selain terkesan sakral sesuai kabarnya perkawinan yang digelar di rumah Bramantyo Prijosusilo tidak akan menggunakan lampu listrik melainkan oncor dan lampu sentir. Ditambah Bramantyo Prijosusilo sendiri melalui siaran persnya dengan gamblang membeberkan kronologi perkawinan dirumahnya tersebut. Dalam siaran persnya dijelaskan perkawinan antara Bagus Kodok dengan Peri Roro Setyowati berlabel seni yang menjadi bagian seni kejadian (happening art) yang dikemas dengan tradisi Jawa.

Perkawinan yang digelar memiliki perbedaan dua hal dari biasanya yakni bahwa perkawinan yang diberi status dan label sebuah karya seni dimana seluruh yang hadir dianggap peserta pencipta karya. Kedua perkawinan antara Bagus Kodok Ibnu Sukodok yang berusia 63 tahun akan dikawinkan dengan Peri Roro Setyowati yang merupakan makluk halus atau bukan manusia.

Juga dijelaskan, perkawinan Bagus Kodok Ibnu Sukodok dengan Peri Roro Setyowati bukan mengada-ada melainkan peristiwa dalam kisah cinta yang dibangun keduanya dari beberapa tahun sebelumnya. Sesuai kronologinya saat itu Bagus Kodok Ibnu Sukodok tengah berkunjung ke Alas Ketonggo yang masuk wilayah Desa Babadan, Kecamatan Paron, Ngawi, saat itulah dirinya buang air besar dan ditegur oleh Peri Roro Setyowati .

Dari komunikasi itulah terjalin hubungan dan berkembang rasa saling mencintai. Meski berbeda alam, kedua calon pengantin ini memiliki perhatian dan keprihatinan serta kecintaan yang sama pada alam raya dan budaya manusia khususnya pada lingkungan tanah Jawa.  Sesuai rencananya, daup pengantin yang didahului dengan tradisi siraman tersebut akan dihadiri dan didukung dari kalangan seniman. Seperti KH Khaelani Jaelani, Suparpto Suryodharmo, Jemek Supardi, Anto Baret KPJ, Oppie Andaresta dan masih banyak lagi.