Beranda Headline “TKP Bicara” Cerita Polisi Inafis Mengungkap Kasus Pembunuhan dari Rumput

“TKP Bicara” Cerita Polisi Inafis Mengungkap Kasus Pembunuhan dari Rumput

2479
0
Buku TKP Bicara karya Aiptu Pudji Hardjanto.
Buku TKP Bicara karya Aiptu Pudji Hardjanto.

Piter Napa menjadi sosok yang menginspirasi Aiptu Pudji dalam mengungkap kasus-kasus pembunuhan. Muncullah teori membaca rumput dan jejak dalam setiap olah TKP.

Badannya gempal. Tatapan matanya dingin. Tapi jika sudah mengenalnya, sosok Aiptu Pudji Hardjanto termasuk anggota Polri paling grapyak. Humoris juga. Tidak segan untuk belajar dan melemparkan pertanyaan, terutama terhadap wartawan. Yah, anggota dari unit Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polrestabes Surabaya ini sangat familiar di kalangan jurnalis.

Pudji sapaan akrabnya, mempunyai ciri khas tersendiri. Dia selalu mengenakan kacamata hitam. Selain dipakai untuk bois-boisan, kacamata itu sering dipakai untuk mengecoh lawan bicara. Pernah beberapa kali dia mengecoh tersangka pembunuhan di Kapas Kerampung. Setiap kali tersangka diajak bicara, Pudji bersikap cuek bahkan memalingkan wajah. Hanya saja matanya diam-diam membaca gerak tubuh tersangka. Itulah fungsi kacamata hitam ala Pudji.

Kali ini Pudji dan kacamata hitamnya nongol di sebuah buku berjudul TKP Bicara. Buku ini bukan sembarang buku. Buku TKP Bicara ditulis Pudji dari hasil pengalamannya olah TKP selama menjadi tim Inafis Polrestabes Surabaya.

Sebenarnya sejak awal Pudji tidak memiliki niat untuk menulis. Padahal banyak teman sejawat maupun wartawan menyarankan dia untuk membukukan pengalamannya. Hal ini wajar saja mengingat banyak kasus-kasus besar pembunuhan yang berhasil diungkapnya. Yah, keahlian Pudji boleh dibilang menguasai apa yang disebut Jeffrey Deaver dalam novel-novel kriminalnya: hukum pertukaran materi.

Sayangnya, Pudji tidak pernah tertarik untuk menulis. Jangankan angan-angan untuk menulis pun jauh. “Menulis bukan bidang saya, kendati saya sering membuat laporan hingga bertumpuk-tumpuk. Tapi saya tidak pernah ingin menulisnya,” kata Pudji kepada Lensa Indonesia.

Namun tidak demikian dengan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Drs. Yan Fitri Halimansyah. Nampaknya Kapolrestabes melihat ada bakat yang dimiliki anak buahnya tersebut. Pudji rupanya di mata Yan Fitri, selain memiliki keahlian mengungkap kasus pembunuhan, juga punya bakat menulis.

“Suatu hari saya dipanggil Kapolrestabes menghadap ke ruangannya. Beliau perintah saya menulis buku. ‘Kamu nulis buku saya kasih waktu dua minggu’, demikian kata Kapolrestabes kepada saya. Saya kaget dan bilang tidak bisa menulis. Tapi kemudian Bapak Yan Fitri bilang sering membaca laporan saya bertumpuk-tumpuk dan meyakinkan saya bisa menulis,” cerita bintara kelahiran 24 Oktober 1973 tersebut.

Rupanya perintah Kapolrestabes juga diamini Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Takdir Mattanete yang berada di ruangan itu. “Pudji bisa menulis. Dia punya banyak pengalaman,” kata Pudji menirukan ucapan Takdir.

Sejak itu Pudji mulai menulis. Awalnya dia kesusahan menuangkan pikirannya dalam tulisan. Tapi dengan deadline yang mepet itu, Pudji berhasil membuktikan pada atasannya membuat karya yang fenomenal. “Saya bikin buku molor hingga tiga bulan, tapi itu sudah termasuk mengumpulkan data foto dan revisi. Sekarang sudah selesai, Alhamdulillah!” serunya.

Pudji mengatakan buku TKP Bicara akan terbit dua minggu lagi. Sebab, saat ini dia masih kata pengantar dari Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji dan Kapusinafis Mabes Polri Brigjen Pol Bakti Suhartono.

Dia juga mengaku menaruh bangga terhadap Kapolrestabes Surabaya yang telah memberinya perintah menulis buku. “Kalau tidak diperintah beliau mungkin buku ini tidak akan ada,” ucapnya.

Pria 42 tahun itu memaparkan materi dalam buku itu diambil dari semua dokumen-dokumennya, dan tentunya pengalaman semasa bertugas. Dalam TKP Bicara Pudji mengawali cerita saat pertama kali bertugas di Atambua. Pengalamannya berurusan dengan mayat didapat dari pedalaman Nusa Tenggara Timur. Di situlah awal-awal dia mengusut kasus pembunuhan yang melibatkan suku.

“Semasa bertugas di Polres Belu dan Polsek Haekesak, saya memang bertemu dengan banyak TKP. Tapi rata-rata TKP kecelakaan. Tapi sejak pindah ke Polsek Biudukfoho, di situlah TKP pembunuhan pertama saya,” kata Pudji mengenangkan peristiwa-peristiwa mendebarkan tersebut.

Suami Ni Wayan Sri Sukmawati menjelaskan detik-detik menangani TKP pertamanya. Begitu dia mengetahui ada pembunuhan di hutan, saat itu juga dia merasa bingung dan bimbang. “Maklum, itu TKP pertama. Saya tidak tahu harus apa. Saya beranikan untuk datang ke hutan bersama seorang Kamra. Sesampai di sana saya melihat jasad seorang laki-laki dibacok secara keji. Tapi untungnya saya tidak takut. Cuma, saya bingung harus berbuat apa. Ditambah di sana tidak ada peralatan memadai dan kurangnya kemampuan dalam olah TKP,” kata ayah dua anak ini.

Dari sinilah kemudian muncul cerita Piter Napa. Yah, di buku itu Piter Napa sering disebut-sebut sosoknya, bahkan hampir di setiap halaman. Dalam beberapa kali olah TKP, Piter Napa acapkala menjadi sosok sentral dalam keberhasilan Pudji mengungkap kasus-kasus besar. Sosoknya benar-benar menginspirasi. Apalagi di bagian awal buku, foto Piter Napa dipasang satu halaman sedang memangku anak pertama Pudji.

“Piter Napa itu luar biasa. Dia seorang pemburu sejati. Saya banyak belajar dari dia terutama bagaimana menjadi pemburu. Teori seperti membaca rumput dan membaca jejak pernah saya terapkan saat olah TKP,” terang penghobi fotografi ini.

Buku ini menjadi fenomenal saat Pudji menceritakan identifikasi korban pesawat AirAsia QZ8501. Cerita saat-saat identifikasi korban pesawat yang dipaparkannya ternyata jarang diungkap media-media. Di situ dia mengungkapkan kesulitan yang dihadapi ketika mengidentifikasi korban yang sudah hancur. Hingga akhirnya melakukan rekayasa sidik jari yang membuat geleng-geleng kepala.

“Semua aktivitas identifikasi korban pesawat AirAsia saya tulis. Termasuk ketika kami mengalami kesulitan identifikasi. Akhirnya kami menyiasati dengan menyuntik jari korban aqua gel,” jawabnya ringan.

Harapan Pudji, buku TKP Bicara tidak hanya menjadi bacaan biasa melainkan bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda Polri. Pudji ingin menunjukkan bahwa untuk berbakti kepada negara butuh perjuangan besar.

“Menjadi anggota Polri modalnya tidak cukup fisik dan kemampuan, tapi harus berjiwa besar. Dulu kami menjadi anggota Polri butuh perjuangan. Smoga buku ini bisa memberi pelajaran dan inspirasi bagi yang muda-muda, dan tentu bisa menjadi tambahan ilmu bagi tim Inafis ke depannya,” harap Pudji menutup obrolan.

Sinopsis buku TKP Bicara

Sejak pulang dari Atambua, Aiptu Pudji Harjanto mendapat tugas baru, yakni mengurus mayat. Bukan mayat biasa, melainkan mayat korban pembunuhan. Sejak bergabung dengan unit Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) di Jawa Timur, Aiptu Pudji banyak mengungkap kasus-kasus pembunuhan.

Dalam kasus pembunuhan di Atambua, dia sempat dihinggapi rasa was-was. Antara menangkap pelaku dan menjaga stabilitas keamanan masyarakat agar tidak terjadi perang suku.

Aiptu Pudji juga berhasil mengungkap pembunuhan janda di Nganjuk dengan berbekal hewan ternak sapi milik tetangga korban sebagai satu-satunya petunjuk. Kasus lain diceritakan pencarian mayat di rumah padat penduduk. Yang unik, jenazah ditemukan dari satu batang rumput saja.

Paling fenomenal ketika tim Inafis ditugaskan mengidentifikasi korban pesawat AirAsia QZ8501. Aiptu Pudji bersama tim Inafis punya cara unik yang bikin geleng-geleng kepala, yakni merekayasa sidik jari. Bagamana bisa?

Keberhasilan mengungkap kasus-kasus besar tidak lantas membuat namanya moncer. Aiptu Pudji tetap low profile. Namanya cuma dikenal kalangan internal kepolisian dan jurnalis.

Aiptu Pudji boleh dibilang menguasai apa yang disebut Jeffrey Deaver dalam novel-novel kriminalnya: hukum pertukaran materi. Bahwa ketika terjadi sebuah peristiwa kriminalitas, selalu terjadi transfer materi.

Buku ini mengajak pembaca bermain teka-teki tapi berdasar peristiwa faktual dan nyata. Gaya penulisan Aiptu Pudji tidak bertele-tele. Sederhana. Sistematis. Ilmiah. Dan, tentunya dengan gaya berpikir anggota Polri.

Aiptu Pudji mengajak kita untuk berpikir secara logika dan teoritis. Pembaca tidak akan menemukan kesulitan memahami gaya tulisan bertuturnya. Sebab, membaca buku ini seperti mendengarkan dia bercerita secara langsung.

Penulis: Aiptu Pudji Hardjanto
Halaman: 219
Penerbit: Revka
Jenis: Non Fiksi

Pemesanan bisa kontak: 082141608768

PIN BB: 27FF5A1A