Beranda Headline Alur Cerita Menjadi Tantangan Teater Bunga Penutup Abad

Alur Cerita Menjadi Tantangan Teater Bunga Penutup Abad

718
0
Teater Bunga Penutup Abad yang akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada 25-26 Agustus.
Teater Bunga Penutup Abad yang akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada 25-26 Agustus.

SIAGAINDONESIA.COM Lewat Tetralogi Buru yang terbit dari tahun 1980 sampai 1988, nama penulis Pramoedya Ananta Toer dikenang sampai sekarang. Sebuah lakon teater berjudul ‘Bunga Penutup Abad’ pun lahir berdasarkan adaptasi dari novel tersebut.

Di Gedung Kesenian Jakarta (DKJ) ini akan kembali menggelar pementasan teater Bunga Penutup Abad Agustus mendatang.

Pementasan teater Bunga Penutup Abad merupakan adaptasi novel Tetralogi Buru yang terbit dari tahun 1980 sampai 1988 karya sastrawan legendaris  Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.

Bunga Penutup Abad bercerita tentang kehidupan Annelies sejak kepergiannya dari Surabaya menuju Belanda.

Kisah perjalanan Annelies diceritakan lewat surat-surat tulisan Panji Darman kepada Nyai Ontosoroh dan Minke. Surat-surat terebut memiliki cap pos berbagai negara dan membawa ingatan mereka kembali ke peristiwa Wonokromo.

Hingga suatu hari, Annelies meninggal di Belanda. Minke pun merasa sedih, dan pergi ke Batavia untuk masuk sekolah kedokteran.

Mengenang perempuan yang dicintai dan mencintainya, Minke membawa lukisan potret Annelies karya sahabatnya, Jean Marais.

Lukisan yang “harus bisa berkisah tentang abad yang lewat, dan kilat mata tentang harapan mendatang” inilah yang bernama “bunga penutup abad.”

Pementasan teater Bunga Penutup Abad akan disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Wawan Sofwan. Sementara para pemainnya akan didukung oleh jajaran aktor dan aktris terkenal, yaitu Reza Rahadian sebagai Minke, Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, Chelsea Islan sebagai Annelies, dan Lukman Sardi sebagai Jean Marais.

Happy Salma berperan sebagai Nyai Ontosoroh, Chelsea Islan memerankan Annelies dalam pentas teater Bunga Penutup Abad.
Happy Salma berperan sebagai Nyai Ontosoroh, Chelsea Islan memerankan Annelies dalam pentas teater Bunga Penutup Abad.

Salah satu tantangan sekaligus kekuatan dari pementasan yang diproduseri oleh Happy Salma adalah vokal para pemain.

“Karena tidak menggunakan mix dan dari kekuatan vokal kita. Tidak akan ada jeda sekitar dua jam pertunjukan,” katanya ketika diwawancarai di kawasan Darmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (12/7/2016).

Menyadari tantangan di dalam pertunjukan ‘Bunga Penutup Abad, Happy bersama tim sudah menyiapkannya dari jauh hari. Selama satu bulan para pemain akan melakukan reading serta hafalan naskah.

Berlanjut ke bulan kedua yakni blocking adegan di atas panggung. “Dari Mei ke Juni, dan Juli sudah bicara soal blocking,” tambah Happy.

Happy pun menceritakan alur cerita versi panggung akan dikaitkan dengan surat-surat yang ditulis oleh Panji Darman. Dia menemani Annelies ketika bepergian ke negeri Belanda.

“Lewat surat-surat itulah cerita bergulir dan mengalir. Lalu flashback ke masa kini, orang kedua, orang ketiga, pemain utama. Dan maju-mundur seperti film,” tambah Happy.

Alur cerita yang tak statis dan maju-mundur tersebut menjadi tantangan tersendiri. Karena, kata dia, kalau di film tentunya akan lebih mudah.

“Tapi ini flashback maju-mundur, kalau di panggung gimana. Nah, wajib nonton nanti,” ajak Happy optimistis.

Happy mengungkapkan ada beberapa tantangan terberat dalam mengadaptasi karya Pramoedya Ananta Toer tersebut. Salah satunya mengenai keindahan bahasa dalam novel yang melegenda tersebut. “Saya ingin sekali mempertahankan keindahan bahasa dari Pramoedya Ananta Toer dan itu sangat sulit ketika diaplikasikan ke panggung teater,” ujarnya.

Menurut Happy, karya Pram memang dikenal dengan gaya penulisan yang nyastra dan enak dibaca. Tulisan-tulisannya masih relevan dan fenomenal sampai sekarang ini.

“Itu keunggulan novel-novelnya Pram. Dan aku ingin generasi baru mengenal karyanya dan kita kembali memperkenalkan karya-karya besar sastra Indonesia,” ungkapnya.

Ditambahkan olehnya, nantinya dalam pementasan, setting panggung akan bergaya realis dan didukung teknologi multimedia. “Kita mau lebih realis, dibantu multimedia. Dan kita mau bikin sesuatu yang nggak biasa,” ucapnya.

Happy menjelaskan dari segi artistik sengaja akan terdapat kemiringan dari panggung dan bakal tak biasa. “Kita mau yang nggak biasa dan saya dibantu oleh tim-tim yang tak biasa,” tambah dia lagi.

Pementasan ini juga didukung oleh orang-orang yang berdedikasi di bidangnya yaitu Melyana Tjahyadikarta sebagai Produser Eksekutif, Happy Salma sebagai Produser, Wawan Sofwan sebagai sutradara (sebelumnya telah menyutradari berbagai pementasan teater seperti ‘Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh’, ‘Monolog Inggit’, ‘Rumah Boneka’, ‘Subversif’ dan ‘Wayang Orang Rock Ekalaya’), Iskandar Loedin (Pimpinan Artistik), Allan Sebastian (Penata Panggung), Deden Jalaludin Bulqini (Penata Multimedia), Aji Sangiaji (Penata Lampu), Ricky Lionardi (Penata Musik), Deden Siswanto (Penata Kostum) Ritchie Ned Hansel (Desainer Grafis) dan Tompi (Fotografer).

“Karena ceritanya ini realis, pastinya juga harus realis. Dan ini jadi yang kami pikirkan, bagaimana harus menampilkannya dari segi artistik. Mas Is dari pimpinan artistik-nya memang sudah terbiasa membuat pendukung artistik yang bergaya realis dengan setting tahun segitu,” pungkas Happy.

Bunga Penutup Abad akan dipentaskan pada Kamis dan Jumat tanggal 25-26 Agustus pukul 20.00 di Gedung Kesenian Jakarta.

Tiketnya terbagi menjadi empat kelas, yaitu Kelas VVIP: Rp. 650.000, Kelas VIP Rp. 550.000, Kelas 1 Rp. 400.000, dan Kelas 2 Rp. 250.000.tab/tia/dir