Beranda Headline 99 Anak Korban Gay Dijual Sindikat Perdagangan Orang Lewat Facebook

99 Anak Korban Gay Dijual Sindikat Perdagangan Orang Lewat Facebook

1279
0
Ilustrasi. Foto: Radar Bogor
Ilustrasi. Foto: Radar Bogor

SIAGAINDONESIA.COM Ada puluhan anak menjadi korban prostitusi gay di Cipayung, Puncak, Bogor. Mereka diselamatkan Bareskrim Polri dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dari germo yang menawarkan anak usia 13-17 tahun ini dari pria penyuka sesama jenis.

Penggerebekan dilakukan di salah satu hotel di Jl Raya Puncak, Cipayunga. Pria berinisial AR (41) diamankan polisi. Tim Cyber Patrol telah jauh hari mengawasi gerak-gerik AR di akun Facebook-nya. Di akun tersebut, AR menjajakan anak laki-laki di bawah umur untuk pelanggan yang juga laki-laki.

Kepala Bareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto mengatakan, awalnya polisi tak langsung menangkap AR begitu tahu soal akun itu. Petugas kepolisian memancing AR dengan berpura-pura sebagai calon pelanggan.

“Kami memesan enam anak kemudian ditentukan untuk uang muka dia minta separuhnya,” ujar Ari di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Setiap anak dikenakan harga Rp 1,2 juta. Polisi dan AR pun janjian bertemu di salah satu hotel di kawasan Puncak. Saat itulah, polisi menangkap tangan pelaku beserta korban yang dia bawa.

Ari mengatakan, anak-anak yang menjadi korban itu berusia sekitar 14 hingga 15 tahun.

“Tujuh anak masih sekolah. Satu orang lagi putus sekolah,” kata Ari.

Dari hasil penyelidikan, diketahui korban yang dibawa AR tak hanya delapan, tetapi 99 orang. Namun, polisi baru memeriksa delapan korban, sementara sisanya masih dicari identitasnya. “Untuk tindak lanjutnya kami minta bantuan Kementerian Sosial,” kata Ari.

Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar, juga membenarkan pelaku menawarkan prostitusi anak di bawah umur melalui akun Facebook.

Ada beberapa anak yang kemudian diamankan polisi dan KPAI. Mereka dibawa ke tempat perlindungan. Seorang petugas yang tak mau disebutkan namanya, anak-anak remaja ini terlihat gemulai atau istilahnya melambai.

Saat dibawa petugas mereka seperti ketakutan. Mereka remaja asal Bogor, Sukabumi, dan sekitarnya. Anak-anak ini ditawarkan ke pria penyuka sesama jenis dengan tarif Rp 1,2 juta. Dari uang tersebut, anak-anak itu sekali melayani mendapat bagian uang Rp 150 ribu.

Yang cukup menyeramkan, ternyata ada beberapa germo. Dan mereka sudah membuat komunitas untuk melayani pria penyuka sesama jenis. Pengakuan sementara, untuk acara pesta, bahkan bisa 100 anak dikumpulkan.

Angka anak-anak yang menjadi korban prostitusi gay ini memang merisaukan. Anak-anak ini kini dibawa KPAI untu rehab, secara agama dan psikologis.

Polisi akan terus mengembangkan kasus perdagangan anak untuk penyuka sesama jenis. Menurut Boy, bisa saja ke depannya ditemukan pelaku lain yang juga terlibat jaringan yang sama dengan AR.

“Masih akan terus kami kembangkan terutama untuk menetapkan pelaku lainnya sebagai tersangka karena bisa saja ini tidak dilakukan satu orang, terutama yang berstatus sebagai penjual,” ujar Boy di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Boy menambahkan Polri akan melakukan digital forensik untuk membongkar kasus tersebut. Sebab, Boy menilai bisa jadi aktivitas perdagangan anak untuk penyuka sesama jenis beraksi dalam sebuah sindikat.

“Jadi masih harus kami dalami, tentu penanganannya akan berbeda jika kasus ini dilakukan secara perseorangan atau dalam bentuk sindikat. Karena ini melalui media sosial penjualannya, maka Polri akan menelusuri akun mana saja yang terduga terlibat,” lanjut Boy.

Dari pemeriksaan diketahui bahwa AR merupakan residivis kasus perdagangan orang. Dia dipenjara selama 2,5 tahun karena memperdagangkan perempuan dalam bisnis prostitusi. Baru sekitar enam bulan lalu AR menghirup udara bebas.

Perbuatan pelaku yang menjajakan puluhan anak laki-laki yang masih di bawah umur kepada kaum gay akan diancam pasal berlapis. Pelaku dijerat UU ITE, UU tentang Pornografi, UU tentang pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan UU tentang perlindungan anak. Pelaku terancam hukuman 15 tahun penjara.

Selain hukuman badan, pelaku juga terancam dikenakan sanksi hukuman pemberatan berupa hukuman kebiri sesuai dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak atau lebih dikenal dengan Perppu Kebiri.

“Undang-undang yang sebutkan tadi, memeliki sanksi hukuman mulai 12 tahun, kemudian kita akan lihat maksimumnya. Tentunya kita akan lihat apakah bisa diterapkan (hukuman) pemeberatan Perpu yang sudah ada (Perpu Kebiri),” ujar Brigjen Pol Agung Setya di Mabes Polri, Rabu, (31/8/2016).

Sementara Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengapresiasi jajaran Bareskrim Polri atas pengungkapan kasus yang membuat geger publik lantaran korbannya merupakan anak-anak yang masih dibawah umur, generasi muda penerus bangsa. Jenderal Tito mendorong jajarannya proaktif mengusut kasus-kasus terkait anak.

“Karena bisa menyelamatkan anak-anak Indonesia dari kelompok-kelompok yang menyalahgunakan mereka,” kata Kapolri Jendral M. Tito Karnavian usai acara syukuran HUT Polwan Ke-68 di gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Kamis (1/9/2016).

Tito belum dapat berkomentar lebih jauh tekait dengan dorongan sejumlah pihak terkait, mengenai penerapan hukuman kebiri sebagai implementasi dari pemberatan hukuman sesuai Perppu Nomor 1 tahun 2016 kepada muncikari maupun pelanggannya. Tito menyerahkan sepenuhnya hukuman kepada sistem peradilan yang berlaku.

“Nanti itu hukuman kan bukan kita. Hukumannya nanti pada saat vonis. Silahkan tanya pada saat sudah di pengadilan. Kami tidak menentukan itu,” jawabnya diplomatis.

Penerapan hukuman tambahan bagi pelaku prostitusi anak maupun pelanggan mendapat dukungan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani. Menurut Puan, pemerintah tidak akan menolerir kasus kekerasan maupun eksploitasi pada anak.

“Pemerintah tidak akan menolerir hal-hal yang berkaitan kejahatan di bawah umur, khususnya anak-anak,” kata Puan di Kantor Kemenko PMK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (1/9/2016).

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa memastikan tujuh anak korban prostitusi sesama jenis telah dibawa dari Bareskrim Polri ke tempat terapi psikososial. Mereka akan menjalani terapi di rumah perlindungan anak Kementerian Sosial.

“Keluarganya juga ikut mengantar, kecuali dua anak yang memang sedang ditelusuri orang tuanya. Jadi dua anak ini dari daerah yang agak jauh. Saya sempat ketemu tujuh anak kemarin, yang tidak didampingi orang tuanya,” kata Khofifah di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (1/9/2016).

Ketujuh anak ini juga akan melakukan medical check up dan dilanjutkan dengan assessment. Adapun informasi sepintas mengenai mereka sudah didapatkan. Kendati begitu, selama berada di rumah perlindungan Kemensos, anak-anak korban eksploitasi seksual ini akan mendapatkan psycho social therapy selama beberapa minggu ke depan.

Ia meyakini terapi psikososial di rumah perlindungan sosial anak berjalan komprehensif. Mengingat rumah perlindungan ini juga sudah ada sejak lama. “Konsularnya juga cukup berpengalaman,” kata Khofifah.

Di tempat yang sama,  Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) Yohana Yembise juga menerjunkan timnya untuk melakukan pendampingan terhadap 99 anak korban prostitusi kaum gay. Mereka juga akan mengupayakan pemulihan trauma para korban yang kebanyakan anak-anak itu.

“Kita juga sudah siapkan psikolog untuk menangani, karena hal tersebut yang paling darurat untuk dilakukan,” kata Yohana.

Yohana menjelaskan, berdasarkan informasi yang dia terima, para korban justru berasal dari keluarga yang ekonominya bagus. Hanya saja, mereka mudah diperdaya melalui media sosial. “Kita menguak kasus ini sehingga bisa menjadi perhatian semua antar kementerian, lembaga dan kepolisian,” ucapnya.

Guna mencegah dan meminimalisir tindakan kejahatan seksual dan kekerasan tehadap anak, Menteri Khofifah mengatakan Kemensos membuka call center yang bisa dihubungi selama 1×24 jam oleh siapa saja yang menjadi korban, melihat maupun mengetahui peristiwa itu. Dia menyebut, layanan itu bisa hubungi di nomor telepon call center 1500771.

“Seminggu yang lalu kami membuka call center. Bagi yang mengetahui itu, silakan laporkan,” ujar Khofifah.

Kemensos juga melakukan penjangkauan dangan menyiapkan mobil anti galau, sehingga bisa menjadi tempat korban tindakan kekerasan seksual maupun kekerasan bisa menceritakan permasalahan. “Biasa ditempatkan pada saat jalan sehat, di car free day. Jadi bisa curhat disitu, cur col disitu. Ini untuk meteka yang tidak tahu dimana melaporkan,” ucapnya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh mengapresiasi keberhasilan pihak kepolisian dalam mengungkap kasus prostitusi kaum gay dengan korban anak laki-laki. Kasus ini menurutnya, harus menjadi peringatan bagi semua pihak akan ancaman kejahatan homoseksual ini. Apalagi, untuk kasus ini korbannya mencapai 99 anak laki-laki yang dikendalikan seorang muncikari.

“Ini jumlah yang sangat fantastis. Fakta ini perlu membangkitkan kesadaran kolektif kita bahwa ancaman kejahatan seksual itu sudah sangat serius,” tegas Niam.

Untuk itu, KPAI meminta pelaku muncikari serta kaum gay yang menjadi pelanggannya dikenakan hukuman sebagaimana tertuang dalam Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Perlindungan anak. Perppu ini mengatur hukuman pemberatan dan hukuman tambahan kepada pelaku kejahatan seksual anak.rak/amb/idh/ded